
Kahyang membawa Rayno kedalam kamar dan menyusui Rayno. Handphone Kahyang di atas nakas berbunyi menandakan ada pesan masuk dan Kahyang pun segera membacanya.
"Sayang, tangannya diam dulu, ya!"ujar Kahyang, karena saat sedang membaca pesan di handphonenya, Rayno berusaha mengambil handphonenya,
"Mata kuliah hari ini di undur besok? Berarti hari ini libur. Yes!"gumam Kahyang merasa senang,"Muah! Muah! Hari ini kita bisa menghabiskan waktu bersama,"ujar Kahyang menciumi putranya yang masih menyusu.
Setelah Rayno kenyang menyusu, Kahyang memberikan Rayno pada Bik Mar. Kemudian Kahyang membersihkan diri, tanpa menyadari jika handphone dan dokumen Mandala tertinggal di atas meja sofa.
Kahyang berendam di dalam bathtub kemudian menyelesaikan mandinya setelah merasa puas berendam. Kahyang keluar dari dalam kamar mandi dan mengernyitkan keningnya saat mendengar suara notifikasi handphone dari atas meja sofa.
"Ya, ampun. Dia meninggalkan handphone nya,"gumam Kahyang setelah menyadari handphone Mandala tertinggal,"Apa aku antarkan sendiri ke kantornya, ya? Aku belum pernah ke kantor Mandala.Nanti dia pasti terkejut saat melihat aku ada di kantornya,"gumam Kahyang lagi kemudian senyum-senyum sendiri membayangkan Mandala yang terkejut melihat dirinya.
Kahyang memakai dress yang terkesan simpel tapi elegan. Memoles wajahnya dengan riasan yang terkesan natural, dilengkapi dengan aksesoris satu set perhiasan berlian dengan model simpel.
Kahyang sudah terlihat cantik. Tidak seperti biasanya saat akan pergi ke kampus yang hanya akan memakai lips balm dan bedak tanpa riasan dan hanya memakai jam tangan serta dua cincin dari Mandala. Kali ini Kahyang memakai polesan natural di wajahnya dan aksesoris bertahtakan berlian yang terlihat simpel tapi elegan. Rambut bagian depannya dikepang menyamping dan bagian belakang nya di biarkan tergerai. Dilengkapi dengan tas selempang yang juga terlihat simpel. Membuat wanita muda itu terlihat semakin cantik.
Kahyang melangkah keluar dari kamar nya dan menghampiri Bik Mar yang bertugas mengasuh Rayno.
"Bik!"panggil Kahyang membuat Bik Mar menoleh.
"Nyonya? Nyonya cantik sekali! Nyonya mau kemana?"tanya Bik Mar yang nampak takjub melihat penampilan Kahyang yang berbeda dari biasanya.
"Aku akan ke kantor suamiku, Bik. Aku ingin mengantarkan handphone dan dokumen nya yang tertinggal.
"Wahh.. Tuan pasti senang sekali melihat Nyonya yang mengantarkan handphone tuan yang tertinggal. Pasti Tuan merasa survei banget,"ujar Bik Mar antusias tapi malah membuat Kahyang mengernyitkan keningnya.
"Survei? Survei apaan, Bik?"tanya Kahyang.
"Itu, Nyonya. Yang bikin kaget itu loh, em.. kejutan! Iya, kejutan,"sahut Bik Mar setelah berpikir sejenak, membuat Kahyang tertawa.
"Itu namanya surprise, Bik. Bukan survei. Bibi ini lucu, deh!"ujar Kahyang terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Maklum, nyonya. Sudah tua, jadi lidahnya suka kepleset,"ujar Bik Mar sambil menyengir bodoh.
"Ya sudah, aku pergi dulu, ya, bik! Nitip Rayno ya, Bik!"pamit Kahyang kemudian mencium pipi putranya dengan gemas.
Kahyang baru saja akan mengendarai mobilnya menuju kantor Mandala. Namun di unrungkan nya saat terdengar suara dering handphone nya dan Kahyang pun menerima panggilan masuk yang tertera nama Patih.
"Halo, Tih! Ada apa?"tanya Kahyang.
"Sayang, ini aku,"ucap suara dari sambungan telepon yang tidak lain adalah suara Mandala.
__ADS_1
"Ada apa?"tanya Kahyang yang sebenarnya sudah menduga kenapa Mandala menelpon nya.
"Kamu belum berangkat kuliah, 'kan?"tanya Mandala yang tidak tahu jika hari ini Kahyang tidak jadi kuliah.
"Kenapa?"tanya Kahyang tanpa menjawab pertanyaan dari Mandala.
"Handphone dan dokumen aku ketinggalan di meja sofa kamar kita. Tolong kamu suruh supir di rumah untuk mengantarkan nya ke kantor aku, ya!"pinta Mandala.
"Oke,"sahut Kahyang singkat.
"Makasih, sayang,"ucap Mandala.
"Hum,"sahut Kahyang kemudian menutup teleponnya.
Di sisi lain, Andini nampak menemui Sheila di taman kota. Karena beberapa menit yang lalu tiba-tiba Sheila mengirim pesan pada Andini yang mengatakan ingin bertemu dengan Andini di taman kota. Andini melihat ke sekeliling dan melihat Sheila duduk disebuah kursi panjang.
"Kak! Sudah lama menunggu?"tanya Andini saat sudah dekat dengan tempat Sheila duduk.
"Eh, kamu sudah datang? Belum lama, kok,"sahut Sheila tersenyum pada Andini.
"Ada apa, kak?"tanya Andini setelah duduk di samping Sheila.
"An, aku ingin sekali bertemu dengan kakakmu. Apa kamu bisa membantu kakak?"tanya Sheila penuh harap.
"Bagaimana jika kakak menemui kakak kamu di kantornya?"tanya Sheila penuh harap.
"Iya, paling memang hanya bisa menemui kakak di kantor nya,"sahut Andini.
"Kamu bisa nggak nemenin kakak untuk menemui kakak kamu di kantornya? Cuma nyampe resepsionis saja. Soalnya kalau kakak yang datang sendiri, pasti di suruh bikin janji dulu. Dan belum tentu kakak kamu mau menemui kakak. Nanti setelah kakak diperbolehkan masuk, kamu boleh langsung pulang,"bujuk Sheila.
"Baiklah. Aku akan mengantarkan kakak ke sana, sampai depan pintu ruangan kak Mandala,"sahut Andini setelah berpikir sejenak. Mengingat kebaikan Sheila padanya, tidak salah bukan, jika dirinya membantu Sheila bertemu dengan Mandala? Lagian juga cuma bertemu doang. Itulah yang ada dalam pikiran Andini.
"Terimakasih!"ucap Sheila tersenyum lebar.
Akhirnya Andini dan Sheila pun pergi ke kantor Mandala dengan mengendarai mobil Sheila. Dan di sinilah mereka berdua saat ini, di kantor Mandala. Keduanya pun berjalan menuju meja resepsionis.
"Kak, apa kakakku ada di ruangannya?"tanya Andini pada resepsionis.
"Ada, non,"sahut resepsionis yang sudah tahu siapa Andini.
"Makasih, kak!"ucap Andini pada resepsionis.
__ADS_1
"Sama-sama, non,"sahut resepsionis itu.
Andini pun langsung menarik tangan Sheila menuju lift. Sedangkan dua resepsionis yang ada di meja resepsionis pun mulai berbisik-bisik.
"Yang bersama nona Andini tadi bukannya Sheila pacar Tuan Mandala, ya?"
"Sepertinya iya. Tapi sudah lama dia tidak pernah kesini,"
"Iya. Memang sudah lama sekali, tapi setahuku pacar Tuan Mandala hanya dia,"
Itulah bisik-bisik dua orang resepsionis yang memang hanya tahu jika pacar Mandala adalah Sheila. Tidak ada yang mengetahui jika sebenarnya Mandala sudah menikah.
Semenjak terjadi perdebatan di rumah Anggoro waktu itu, Kahyang dan Mandala sepakat tidak mau mengadakan resepsi pernikahan. Walaupun Agung, Prameswari, dan terutama Prasetyo merasa kecewa dengan keputusan keduanya.
Namun akhirnya mereka menerima keputusan keduanya karena alasan Anggoro yang bahkan tidak mau diajak bicara soal resepsi pernikahan keduanya dan juga alasan Kahyang yang tidak mau dirinya di ekspose sebagai pewaris dari kekayaan Anggoro dan Prasetyo. Sehingga tidak banyak yang tahu tentang pernikahan Mandala dan Kahyang. Hanya sebagian dari rekan bisnis Prasetyo, Agung dan Anggoro yang mengetahui pernikahan keduanya.
"Nona Andini!"sapa sekretaris Mandala saat melihat Andini, tapi hanya melirik sekilas pada Sheila tanpa menegur Sheila.
"Kakakku ada di ruangannya 'kan?"tanya Andini.
"Ada, nona,"sahut sekretaris Mandala.
"Ya sudah, kak Sheila masuk, sana!"ujar Andini seraya mendorong pelan Sheila ke arah pintu ruangan Mandala.
"Tapi, nona.."
"Kak Sheila ada perlu sebentar dengan kakakku,"ucap Andini memotong kata-kata sekretaris Mandala yang nampak keberatan jika Sheila masuk ke ruangan Mandala tanpa memberi tahu Mandala lebih dulu.
Sekretaris Mandala tahu jika Mandala sudah menikah. Kerena melihat foto Mandala bersama Kahyang dan Rayno di atas meja Mandala, kemudian bertanya pada Patih. Dan Patih mengatakan jika di dalam foto itu adalah anak dan istri Mandala. Tentu saja sekretaris Mandala percaya pada kata-kata Patih yang memang tidak pernah berbohong.
Sedangkan karyawan yang lain tidak ada yang tahu, karena yang masuk ke ruangan Mandala hanya orang-orang tertentu saja. Bahkan yang membersihkan ruangan Mandala adalah Patih. Tak ada seorang cleaning servis pun yang pernah masuk ke ruangan Mandala.
... π"Jangan mengharap mantan kembali, karena waktu tidak bisa diputar kembali."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
__ADS_1
To be continued