
Waktu terus berputar, hari terus berganti. Tidak terasa Kahyang akhirnya telah mendapatkan gelar S1. Sedangkan Mandala semakin sibuk dengan pekerjaannya. Karena sekarang semakin sering bolak balik ke perusahaan Prasetyo. Sedangkan Anggoro nampaknya masih belum memaafkan Mandala dan menerima Mandala sebagai menantunya semenjak mengetahui bahwa Mandala adalah pria yang menghamili putri nya.
Siang itu, Kahyang pergi ke mall bersama Riska. Gadis yang hampir dinikahkan dengan Roger itu tidak terbebani lagi dengan urusan perusahaan papanya. Papa Riska beruntung mendapatkan investor lain sehingga perusahaan nya tidak jadi gulung tikar. Dan hal itu membuat Riska merasa senang dan tidak dihantui rasa bersalah lagi.
Kedua sahabat itu asyik berbelanja hingga akhirnya kelelahan dan memilih untuk beristirahat dan makan. Mereka memutuskan untuk makan di salah satu restoran di mall itu yang paling banyak pelanggan nya.Keduanya nampak diam karena kelelahan. Mereka menatap pemandangan di luar restoran dari dinding kaca restoran itu sambil menunggu makanan mereka datang.
Tidak berapa lama kemudian, makanan dan minuman yang mereka pesan pun sudah datang. Karena sudah sangat lapar, kedua sahabat itu pun langsung mengeksekusi makanan yang mereka pesan.
"Man! Kamu di sini?"suara wanita yang memanggil nama Man agak keras membuat Kahyang langsung menoleh ke arah sumber suara.
Kahyang melihat seorang wanita sedang menghampiri seorang pria yang akan duduk. Jantung Kahyang tiba-tiba berdetak lebih kencang saat melihat sosok pria yang di hampiri wanita itu. Sosok yang setiap malam selalu tidur memeluknya. Ya, walaupun Kahyang hanya melihatnya dari belakang, Kahyang bisa mengenali pria itu. Pria itu adalah Mandala, suaminya.
"Sudah lama kita tidak bertemu. Aku sangat merindukanmu,"ucap wanita yang tidak lain adalah Sheila, tiba-tiba memeluk Mandala dari samping.
Tangan Kahyang mengepal erat dengan tatapan tajam penuh emosi, saat melihat perempuan itu memeluk Mandala.
"Lepaskan!"ucap Mandala pelan tapi terdengar ditekan karena tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Sheila. Namun Sheila malah mengeratkan pelukannya. Membuat Mandala menjadi geram.Jika Mandala mendorong Sheila, dan Sheila terjatuh, maka mereka akan menjadi perhatian orang-orang yang ada di tempat itu. Tapi Mandala juga tidak suka di peluk Sheila seperti itu.
"Dasar ulat bulu! Perempuan gatel!"Kahyang berdiri dari duduknya, tangan wanita itu mengepal erat dengan tatapan penuh amarah.
Riska yang mendengar Kahyang bergumam pelan pun langsung menatap Kahyang."Yang, kamu mau kemana?"tanya Riska yang melihat Kahyang bangkit dari duduknya dengan wajah yang merah padam.
Kahyang tidak menjawab pertanyaan Riska, wanita itu terus berjalan ke satu arah, menahan amarah.
"Brug"Kahyang menabrak seseorang pelayan yang sedang membawa nampan berisi makanan dan minuman.
"Auwh"pekik Sheila yang sedang memeluk Mandala. Wanita itu akhirnya melepaskan pelukannya pada Mandala.
__ADS_1
"Prang"isi nampan itu jatuh ke lantai setelah mengenai tubuh Sheila.
"Hei! Apa kamu tidak punya mata! Kamu mengotori dress ku!"bentak Sheila pada pelayan itu, merasa kesal.
"Maaf! Saya tidak sengaja!"ucap pelayan restoran yang tanpa sengaja menumpahkan makanan dan minuman yang di bawanya ke tubuh Sheila. Pelayan itu terlihat ketakutan dan berusaha membersihkan dress Sheila. Mau menyalahkan orang yang menabrak nya dari belakang pun tidak berani. Pelayan itu tahu benar, jika terjadi hal seperti ini, pasti dirinya yang akan disalahkan.
Riska mengernyitkan keningnya melihat kelakuan Kahyang. Sedangkan Kahyang nampak berdiri di belakang Mandala, sehingga Mandala tidak melihatnya.
"Ada apa dengan Kahyang?"gumam Riska yang terus mengawasi Kahyang.
"Kenapa kamu ceroboh sekali!"geram Sheila dengan wajah penuh amarah. Sedangkan Mandala hanya menatap datar pada Sheila kemudian duduk dengan tenang di kursi yang tadi hendak didudukinya sambil membaca menu. Nampak tidak perduli dengan Sheila.
"Maaf, Nona! Maaf!"sahut pelayan itu semakin ketakutan, wajahnya terlihat pucat dan tangannya gemetaran.
"Dress ku jadi kotor semua karena kamu!"geram Sheila.
"Maaf, ada apa ini?" tanya seorang pria menghampiri mereka.
"Waduh, bos dalam masalah besar ini,"gumam Patih yang baru saja dari toilet. Melihat Mandala lengannya di peluk Sheila dari samping, sedangkan Kahyang berdiri di belakang Mandala duduk, dengan wajah yang tentu saja seperti singa betina yang sudah mulai mengeluarkan taringnya. Patih takut sebentar lagi akan mencabik-cabik mangsanya. Patih pun bergegas menghampiri Mandala.
"Sayang, lihatlah! Dress ku kotor semua karena pelayan ceroboh ini,"adu Sheila pada Mandala dengan suara manja. Namun Mandala terlihat acuh dan masih tetap melihat buku menu di tangannya. Sedangkan Kahyang menatap tajam pada Sheila yang bahkan tidak menyadari kehadiran Kahyang di belakangnya.
"Maaf, nona, Tuan Mandala. Kami akan mengganti dress yang dipakai Nona yang kotor karena pelayan ini,"ucap manager itu nampak sungkan, menyangka jika Sheila adalah wanita Mandala.
"Bos!"panggil Patih dengan ekspresi khawatir dan ketakutan saat melihat Kahyang memelototi nya. Menatap Mandala dan Kahyang bergantian, mencoba memberi kode pada Mandala jika singa betina nya sudah bersiap menerkam. Mandala pun mengernyitkan keningnya melihat Patih seperti orang yang sedang khawatir dan ketakutan.
"Ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu? Kamu seperti tersudut di kandang singa dan sedang di incar mau dimakan singa,"tanya Mandala datar.
__ADS_1
"Bos yang mungkin akan dicabik-cabik singa betina. Bukan aku,"gumam Patih segera menunduk saat Kahyang memelototi dirinya. Sedangkan Mandala nampak semakin bingung dengan tingkah Patih.
"Nona, tolong katakan, berapa kami harus membayar ganti rugi pada nona,"ucap manager restoran itu sopan.
"Aku mau pelayan ini di pecat dan kamu mengganti dress ku. Harga dress ku ini 50 juta,"ujar Sheila dan pelayan tadi pun hanya bisa menunduk pasrah.
"Cih, siapa kamu berani menyuruh manager restoran ini memecat pelayan?"ketus Kahyang seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
Mandala membulatkan matanya saat mendengar suara seorang wanita dibelakangnya. Suara yang sangat dikenalinya. Mandala menatap Patih yang menunduk. Saat tanpa sengaja Patih menatap Mandala yang juga sedang menatapnya dengan mata yang membulat, Patih malah menyengir bodoh kemudian kembali menunduk. Membuat Mandala membuang napas kasar. Mandala baru mengerti dengan kode yang diberikan oleh Patih tadi.
Sheila melepaskan pelukannya pada lengan Mandala dan membalikkan tubuhnya menatap Kahyang,"Aku? Aku kekasih Mandala, yang memiliki saham di restoran ini. Siapa kamu berani ikut campur urusan ku?"tanya Sheila penuh percaya diri dengan nada sinis.
"Aihh,.. alamat tidur di luar ini,"gumam Patih meledek Mandala. Sedangkan Mandala hanya bisa menghela napas berulang kali.
"Benarkah kamu kekasihnya? Sejak kapan?"tanya Kahyang dengan gaya angkuhnya.
"Sudah lima tahun yang lalu. Memangnya kenapa?"tanya Sheila sinis.
"Apa benar begitu?"tanya Kahyang menatap Patih penuh intimidasi.
"Cu.. cuma empat tahun bos nyonya. Su.. sudah putus satu tahun lebih,"sahut Patih yang entah mengapa jadi ketakutan jika ditatap Kahyang seperti itu. Mandala memijit pelipisnya sendiri. Sedangkan Sheila nampak mengernyitkan keningnya melihat Patih yang seperti takut pada wanita di depannya ini. Bahkan memanggilnya bos nyonya.
"Ohh . cuma mantan?"ujar Kahyang mencibir.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
.
To be continued