
Setelah, sarapan pagi dihotel tadi. Arini dan Fa'i pun pergi meniggalkan hotel tersebut. Pagi itupun Arini tak melihat Sabina mungkin masih ingin menghabiskan waktu berdua dengan sang suami.
" Ibu, dan mbak Ani semalam sudah pulang ke rumah, naik kereta malam. Aku sudah menawarkan untuk pulang pagi ini dengan pesawat tapi mereka menolak." kata Fa'i memecah keheningan didalam mobil meninggalkan hotel itu.
" Apa, Anda mengantar ibu dan mbak Ani sampai stasiun?"
" Tidak, mereka diantar supir."
Susasana kembali hening sejenak, Arini memilih menghadapkan wajahnya kekaca mobil, menikmati keramaian jalan yang mulai padat itu.
Sebisa mungkin Arini menghindari beradu pandang dengan Fa'i suaminya.
Setelah hampir 1 jam membelah kemacetan jalan ibukota. Akhirnya mereka sampai dirumah tapi masih nampak sepi hanya ART yang sibuk dengan pekerjaan mereka masing - masing.
" Biar aku yang bawa" kata Fa'i mengambil barang - barang mereka dibagasi.
Arini hanya mengangguk dan tersenyum tipis lalu mengikuti Fa'i berjalan masuk kedalam rumah
Drettt.... drettt...
Suara smartphone Fa'i, dengan cepat Arini mengambil jas dan paper bag yang tadi ditenteng Fa'i.
__ADS_1
" Assalamualaikum" kata Fa'i menerima panggilan dari orang disebrang sana entah siapa yang menghubunginya.Namun sesaat kemudian mimik wajah Fa'i berubah senang.
Tak lama dia pun menutup panggilan itu.
" Rin, aku harus pergi sebentar kamu siapin aja yang perlu dibawa pindah ke apartemen." kata Fa'i memasukkan smartphone kesaku celana sebelah kanan.
Arini hanya mengangguk pelan tanda mengerti.
" Hati- hati dijalan" ucap Arini setelah mencium tangan Fa'i suaminya. Fa'i pun terkejut lalu tersenyum memandang Arini.
" Iya, " jawab Fa'i yang bergegas menuju mobil pajero sport warna putih miliknya.
"Lho, Rin kok pagi - pagi udah pulang, kenapa tidak istirahat dihotel dulu, memang kamu tidak capek"? tanya mbak Amira yang tiba - tiba sudah ada disebelahnya karena melihat Arini datang sendiri.
"Lho kok bingung sih, kalian kan pengantin baru. Atau jangan - jangan semalam tidak terjadi sesuatu yaa " tanya mbak Amira menyelidik dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Arini pun menelan salivanya kaget dengan pertanyaan Amira dan bingung harus jawab apa.
" Haa... ehmmt, kami kan baru kenal langsung menikah, masih perlu pendekatan kan mbak."
" Iyaa Rin, bener juga kamu." sahut Amira sambil manggut - manggut tanda mengerti.
__ADS_1
" lha sekarang mana Fa'inya "
" Itu mbak, tadi pas sampai dapat telefon terus pergi kelihatanya penting"
Arini pun masuk kekamar Fa'i setelah diantar mbak Amira. Begitu membuka pintu Arini dibuat terkagum dengan desain interior kamar ini. Lantas Arini membuka tirai jendela yang langsung membuat seisi ruanggan menjadi terang.
" Sayangnya aku bukan pilihan hatimu, dokter Fa'i." batin Arini memandangi salah satu foto Fa'i yang terpajang dimeja, dekat dengan ranjang king size itu.
Diletakkan kembali foto itu, ketika ingat harus membereskan pakaian Fa'i kedalam koper.
Diambilnya koper yang ada dialmari bagian paling bawah, lalu memasukan pakaian itu, hanya benerapa yang ditinggal mana kala mau nginep disini. Jadi tidak perlu bingung baju ganti. Semua hampir rapi hanya tinggal beberapa barang pribadi, dilaci sebelah kiri pintu. Yang belum dikemas karena takut nanti Fa'i marah, jika dirinya menyentuh barang yang sepertinya punya kenangan dengan seseorang.
Klek
Ternyata mbak Amira yang datang membawa lima papaer bag berukuran besar itu.
" Ooyaa Rin, ini baju - baju hadiah dari mbak dan mas Haris, tenang aja ini semua dari butiknya mbak kok bukan beli" kata Amira yang sudah tau kalau Arini pasti akan menolak jika tau semuanya barang branded
" Terima kasih, mbak seharusnya mbak tidak perlu repot kasih aku hadiah." kata Arini yang merasa tidak enak itu.
" Padahal mbak berharap kamu tinggal disini, kan seru bisa tiap hari bikin kue". celetuknya sambil memeluk Arini, karena mbak Amira takut Fa'i a adiknya tidak memperlakukan Arini dengan baik. Bagaimanapun Amira tau semua tentang Fa'i.
__ADS_1
Bersambung,
Terima kasih sudah mampir