
Kriiiiiingggggh. Kriiiiiinggggh...
Suara alarm dari ponsel Arini pun membangunkan sang empunya dari tidurnya. Perlahan Arini membuka matanya. Tangannya pun berusaha meraih ponsel yang berada di nakas, tidak jauh dari tempat tidur.
" Alhamdulilah, bentar lagi subuh." kata Arini mematikan alarm itu.
Tapi, ketika akan beranjak bangun, tiba - tiba tangan Fa'i melingkar memeluk perutnya.
Deg.
Jantung Arini seakan melompat keluar dari tempatnya.
Setelah tadi tangan Fa'i memeluk perutnya, kini Fa'i malah membenamkan wajahnya diceruk leher Arini. Membuat Arini merasakan geleyar asing yang memenuhi hatinya.
Serasa tubuhnya memanas menahan getaran dan debaran jantung yang tak terkendali.
Arini mencoba menarik nafas dalam - dalam menghembuskan perlahan, mencoba mengendalikan dirinya.
" Mas, bentar lagi adzan subuh, mandi gih terus kemasjid." ucap Arini dengan lembut.
Karena dari gerak - gerik Fa'i, menandakan suaminya itu sudah terbangun dari tidurnya. Tapi, Fa'i tidak juga bangun.
Arini lantas membalikan badannya, menghadap pada suaminya itu. Ditatapnya lekat - lekat wajah tampan suaminya. Seulas senyumam membingkai bibir merahnya.
Pelan - pelan tanganmya mengelus kulit wajah Fa'i yang putih bersih, menyusuri alis yang cukup tebal. Menaungi bola mata yang selalu menatapnya dengan tatapan membius. Hingga membuatnya tenggelam didalamnya.
Kemudian jemarinya menyusuri hidung mancung itu, hingga pandanganya tertuju pada bibir yang semalam telah merenggut ciuman pertamanya. Saat itu pula yang membuatnya teringat, kejadian yang dianggapnya terlalu memalukan untuk diingat.
__ADS_1
" Kenapa, apa kamu semakin mencintai ku Arini. ?" Kata Fa'i yang sengaja membiarkan Arini melakukan apapun pada wajahnya.
" Heeehhh, Tuuu kan dah adzan. Cepatan bangun mas!" sahut Arini mencubit pelan hidung mancung Fa'i.
" Aku sholat subuh dirumah aja, berjamaah sama kamu." sahut Fa'i yang menggeliat dan membuka matanya.
Ditatapnya wajah Arini yang tersenyum lebar. Menggambarkan suasana hatinya yang begitu bahagia, mendengar perkataan suaminya itu.
Ini pertama kalinya Arini sholat dengan Fa'i, sang suami yang menjadi imamnya. Sungguh perasaan yang tidak bisa digambarkan dengan apa pun.
Selesai sholat Arini mencium punggung tangan suaminya. Fa'i pun mengajak Arini untuk sholat sunah 2 rekaat yang seharusnya dilakukan setelah pernikahan. Tapi, tak apalah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.
Selesai salam Fa'i kambali memutar tubuhnya menghadap pada Arini. Kemudian Fa'i pun mengecup puncak kepala Arini.
Lalu tangan kanan nya diletakkan diubun - ubun Arini. Sedang tangan kirinya menegadah, Melafaskan asma ALLAH dan melantuntan doa untuk Istrinya.
" Yaa ALLAH sesungguhnya aku memohon kepedamu dari kebaikan ( istriku ) dan kebaiakan tabiatnya dan aku berlindung dari kejelekan dan kejelekan tabiatnya."
Bukan tangis kesedihan melainkan tangis haru, dan bahagia. Karena kini suaminya telah menerima kehadiran dirinya sebagai istri. Meski hati Fa'i belum sepenuhnya untuk dirinya.
Sebenarnya Fa'i sadar dan merasa bersalah harusnya itu dilakukan setelah pernikahan. Tetapi, saat itu hatinya masih buta akan kuasa Ilahi. Yang telah mengatur segala kehidupan setiap hambanya. Rejeki, jodoh dan maut telah ditulis bahkan sebelum dirinya terlahir didunia.
" Maaf yaa Rin, seharusnya aku melakukan semua ini sejak dulu." ucap Fa'i dengan kesungguhan dan terlihat jelas penyesalan dari mimik mukanya.
Tatapan matanya yang tajam penuh ketegasan. Namun, ternyata hatinya begitu rapuh.
" Terima kasih, karena anda telah menerima saya sebagai istri anda. Meski kita menikah demi kebahagiaan orang lain dan bukan karena cinta. Saya yakin inilah jalan yang diberikan Allah untuk kita. Jalan yang akan membawa kita pada ridho Ilahi."
__ADS_1
" Aamin, semoga kita selalu dalam lindunganNya. dan selalu dijalan yang benar."
"Aamiin, " Ucap Arini tersenyum sambil melipat mukena dan sajadahnya itu.
" Rin, ..." lirih Fa'i mendekat pada Arini yang menyimpan peralatan sholat nya.
"Hemmmt, ada apa mas ?" tanya Arini.
Lalu duduk disebelah suaminya, sambil menguncir rambut panjangnya. Arini menatap suaminya yang terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu.
" Sepertinya tadi kamu melakukan suatu kesalahan.!" kata Fa'i menaik turunkan kedua alisnya.
Melihat itu Arini mengreyitkan alisnya bingung dengan kata - kata suaminya. Kemudian Arini mengingat apa kesalahanya. Akhirnya Arini mengingatnya, matanya langsung terbelalak mimik wajahnya seketika berubah. Menoleh pada suaminya yang tersenyum jail.
" Yang kemarin aku anggap kamu belum terbiasa. Tapi, kali ini kamu akan benar - benar akan aku hukum, sayang." Seringai jail Fa'i membuat Arini bergidik.
Jantungnya berpacu lebih cepat saat Fa'i menarik pinggangnya agar merapat pada dirinya. Tapi, Arini menahan dengan lengannya. Supaya tidak menyentuh dada bidang Fa'i yang tertutup kaus polo warna navy itu.
" Maaf, karena tadi terlalu terbawa suasana dan aku sangat menghormatimu jadi aku tidak sengaja _" lirih Arini yang menundukkan pandanganya.
Tidak berani menatap mata Fa'i yang selalu saja membuatnya hilang kendali akan detak jantungnya.
" Heeeeh, kenapa kamu selalu saja menunduk tiap aku menatapmu seperti ini.? " tanya Fa'i yang mendekatkan wajahnya pada wajah Arini.
Dahinya perlahan menempel pada ubun - ubun Arini. Hingga kulit wajah Arini dapat merasakan hembusan nafas suaminya itu.
" Ini sudah pagi mas, jangan seperti ini. Aku malu dan takut nanti kamu _" kata - kata Arini terhenti. Saat Arini merasakan, Fa'i mulai mengusap punggungnya, dengan lembut dan membuat tubuhnya seakan membeku. Hingga lidahnya kelu. Tak mampu untuk melanjutkan kata - katanya.
__ADS_1
Maaf yaa semua 2 hari g up. siAuthor lagi sibuk banget niih. Ooyaa buat semua semoga sehat selalu,..
Terima kasih sudah mampir dan membaca jangan lupa like ,comment dan Vote yaa.