
" Andi, " sahut Fa'i dan Imam bersamaan mereka lalu bersalamam dan berpelukan sepertinya sudah lama mereka tidak bertemu.
" Apa kabar loe An, " tanya Imam ternyata mereka sahabat sejak SMA dan kuliah mereka ditampat yang sama cuma beda jurusan saja.
Belum sempat menjawab mata mereka tertuju pada bocah kecil tadi yang rupanya salah satu murid Arini. Dan anehnya sibocah laki - laki itu udah dalam gendongan Arini.
" Oyaa An, ini Sabina masih ingatkan adiknya Fa'i sekarang dia istri gue" lanjut Imam menarik Sabina untuk mendekat.
" Oo yaaa yaa, yang kamu taksir waktu dia masih SMA kan. " sontak mereka tertawa mengingat masa lalu.
" Dannis sini nak digendong papi." lanjut Andi yang dari tadi memperhatikan putranya itu kelihatan nyaman digendongan Arini.
Wajahnya dibenamkan dipundak Arini. Arinibpun tersenyum karena Dannis menggeleng tanda tidak mau.
"Udahlah g apa - apa, selain gurunya Dannis dia kan Istrinya Fa'i."
Mata Andi terbelalak mendengar pernyataan Imam, pasalnya meski sudah kenal dengan Arini yang guru putranya dan sudah tau jika wanita yang membuatnya jatuh hati setelah kepergian Istrinya itu adalah Istri dari sahabat lamanya.
__ADS_1
" Tapi bukanya Elo masih suka jalan sama Diana yaa Fa. Kemarin gue ketemu dia dan bilang kalau kalian masih pacaran."
Semua pun kaget, Sabina dan Imam menatap Fa'i dengan penuh tanda tanya. Andi pun mengerti situasi yang berubah jadi menegangkan, kenapa pakai ngomong segala sih Andi. Kumudian Andi pamit dan mengajak Dannis pergi dari sana.
" Bin , Mam aku duluan yaa. " kata Fa'i yang langsung pergi dan menarik tangan Arini.
Meninggalkan mereka yang sudah ingin ngamuk pada Fa'i. Arini pun hanya melambaikan tanganya pada Sabina dan berlalu bersama Fa'i yang belum siap menjelaskan semuanya.
" Kok perasaanku tidak enak yaa mas, kasihan Arini " Pelan Sabina yang merasa bersalah pada Arini.
" Sudah, semoga aja itu salah. Dan kamu jangan bilang apa pun pada , orang rumah, terutama Umi yaa" Sabina pun mengerti.
" Rin, " panggil Fa'i menoleh pada Arini yang dari tadi tak bergetak sedikitpun karena memang kepalanya sangat pusing memikirkan hal - hal yang mengubah hidupnya jauh dari ekspektasi dan angan - anganya.
"Rin, sudah sampai " kata Fa'i membangunkan Arini. Tapi, tak juga bangun. Merasakan ada yang janggal Fa'i memegang telapak tangannya, lalu keningnya Arini dan benar saja Arini demam, tapi sentuhan dikeningnya membuat Arini terbangun membuka matanya.
Fa'i pun menjauh lalu keluar diikuti Arini yang merasakan kepalanya terasa berat pandanganya berkunang - kunang dan akhirnya Bruukkkkkk.
__ADS_1
Arini pingsan untung saja tidak tersungkur kelantai. karena Fa'i yang dari tadi melihatnya langsung menangkapnya dengan sigap.
Mengangkat Arini cukup ringan bagi Fa'i. Meski Arini bisa dibilang lumayan tinggi. tapi, dia sangat kurus akhir - akhir ini.
Begitu sampai dikamar Fa'i menidurkan Arini perlahan diatas tempat tidur. Diambilnya peralatan medisnya, tekanan darah Arini rendah. Fa'i pun terliahat cemas melihat Arini yang tak kunjung sadar padahal, diberi suntikan Antibiotik dan prosedur lainya.
Tak lama perlahan Arini membuka matanya kepalanya masih sedikit pusing.
" Alhamdulillah akhirnya kamu bangun juga, gimana apa yang sakit, ?" tanya Fa'i yang masih duduk ditepi ranjang menghadap pada Arini yang kini sudah duduk bersandar.
Arini menggeleng pelan , matanya masih terpejam karena menghindari tatapan Fa'i padanya.
" Saya tidak apa - apa dok, maaf saya harus kekamar mandi mau sholat Isya dulu."
Fa'i pun mengerti dan langsung keluar dari sana.
" Apa saya harus sakit dulu baru kamu melihat dan perhatian padaku dokter Fa'i." batin Arini beranjak dari tempat tidur mengambil pakaian ganti dan menuju kamar mandi.
__ADS_1
Bersambung,
Terima kasih, sudah mampir...