Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
70. Kepolosan Aisya.


__ADS_3

Siang itu Arini dan Amira sengaja berbelanja kesupermarket hanya berdua saja. Bukan tanpa alasan, seminggu setelah Arini kembali. Dia tak pernah keluar rumah sama sekali.


" Rin, gimana sama Imam?" tanya mbak Amira yang mulai mengambil keperluan dapurnya. Sementara Arini yang mendorong troli, langsung berhenti.


" Gak gimana - gimana, mbk. Lagian aku ketemu juga seminggu yang lalu, waktu itu."


Mbak Amira tersenyum, dia merasa kesempatan untuk Firman dan Arini berjodoh terbuka lebar. Karena hubungan Arini dan Imam memang tak akan membaik, meski menjadi teman seperti dulu.


" Gimana kalau, mbak kenalin sama Firman.?"


Arini kembali diam, mengingat - ingat nama itu. Sepertinya dia pernah mendengar itu. Tapi, lupa kapan dia mendengarnya.


" Firman itu sahabatnya alm. Fa'i juga Imam dan Andi. Fa'i dulu gak pernah cerita yaa? "


Arini pun ingat seminggu sebelum kecelakaan itu terjadi, Fa'i pernah bercerita tentangp persahabatannya dengan Imam, Andi dan Firman.


" Malah, bengong! Gimana mau yaa, mbak kenalin.?"


Arini tersenyum sungkan, lalu mengelengkan kepalanya. Belum siap jika harus membuka hati sekarang. Apalagi dengan keadaan yang membuat hatinya bimbang.


" Belum siap yaa, untuk membuka hati.?"


Belum sempat, Arini menjawab. Suara seseorang membuat mereka berhenti tepat di rak - rak berisikan perlengkapan mandi dan mencuci.


" Mbak Amira.!"


Terlihat dari arah kiblat, Firman yang barusan dibahas itu muncul.


Laki - laki bersahaja itu berjalan ketempat Arini dan Amira berada. Senyum manis tak lepas dari wajahnya. Sungguh laki - laki sholeh, calon iman idaman.


" Asalamualaikum, mbak Amira.!" sapanya sambil menagkupkan kedua tangannya didada, begitupun dengan mbak Amira.


" Walaikumsalam, " jawab mbak Amira dan Arini bersamaan.


Arini menatap sekilas wajah laki - laki didepannya saat ini. Wajahnya tak asing bagi Arini. Tapi, dia lupa dimana dia pernah bertemu dengannya.


" Oyaa, Firman. Ini kenalin Arini, istri alm. Fa'i."


Firman pun menoleh dengan senyum masih menghiasi wajah rupawannya. Firman tak kaget, karena masih ingat betul wajah Arini dan saat kejadian seminggu yang lalu. Juga karena foto yang ditunjukkan Imam dan cerita Andi.

__ADS_1


" Masih ingat saya, mbak Arini.?" tanya Firman, namun dia mengerti kerutan di alis Arini, menandakan dia sedang mengingat sesuatu.


" Oyaa, sekarang saya ingat. Mas yang menemukan karcis kereta dan ATM saya waktu itu kan.?" jawab Arini berbinar karena dia berhasil mengingatnya.


Firman pun mengangguk, dan tersenyum manis pada Arini.


" Kalian dah, saling kenal yaa? " tanya mbak Amira


" Belum mbak. Cuma waktu itu mas Firman pernah nolongin aku." jawab Arini yang tak menganggap pertemuan itu dan kali ini terasa special.


Lain halnya dengan Firman, ada sesuatu yang sedari tadi membuatnya ingin terus melihat senyum Arini. Entah mengapa hatinya cukup berdebar melihat perempuan yang membuatnya penasaran itu.


" Pantas saja Fa'i, Andi dan Imam bisa jatuh hati pada Arini. Benar ada sesuatu didalam dirinya. Aku yang baru mengenalnya saja, senang melihatnya. Huuh, masih saja kita berempat punya selera yang hampir sama. Andai kamu masih hidup Fa, pasti kamu adalah laki - laki paling beruntung dan bahagia karena memiliki dia.!"


Setelah bertanya kabar dan berbincang sebentar dengan mbak Amira, Firman lantas pamit pergi. Sementara Arini hanya menjadi pendengar dan tak menyahut obrolan mereka tadi.


" Gimana Firman, menurut kamu?" tanya mbak Amira saat mereka telah didalam mobil untuk pulang.


" Haah, sopan, sepertinya dia juga baik.!" jawab Arini santai.


" Kamu tahu Rin. Dia itu laki - laki yang sholeh, dan calon iman idaman." ujar mbak Amira semangat.


" Kok cuma Ooo sih Rin.!"


" Yaa, terus. Maksud mbak aku mesti gimana?"


" Gak gimana - gimana juga sih." jawab mbak Amira ragu untuk mengatakan niatnya yang sebenarnya.


Kira - kira Arini mau gak yaa, kalau ta'ruf sama Firman.?


Arini mematap jalanan ibu kota yang siang itu cukup ramai. Entah mengapa, tiba - tiba sosok Imam terlintas dipikirannya. Kata - kata Aisya kemarin sore membuat hatinya berdesir sesaat.


Flashback on.


Sore itu Arini membantu Aisya mandi dan berganti baju, sebelum Pak Dul sopir Aisya menjemputnya untuk pulang kerumah Imam.


Sejak Arini kembali, setiap pulang sekolah Aisya memang pulang kerumah bunda Arini. Lalu sorenya akan dijemput supir pribadinya. Walau sebenarnya, bisa saja Imam yang menjemput setelah pulang dari rumah sakit. Tetapi, mengingat janjinya pada Arini untuk menjauh. Membuat Imam terpaksa mengubur keinginannya itu.


" Bunda, ikut pulang yaa kerumah papa?" kata Aisya saat Arini menyisir rambut panjang gadis kecil itu.

__ADS_1


" Gak, bisa sayang. Allah pasti marah sama bunda kalau bunda tinggal sama papa Imam."


" Kenapa Allah marah, ayah sama bundanya kak Sarah juga tinggal sama - sama kan. Teman - teman Aisya juga gitu. Tinggal sama Mama, papanya." jelas Aisya dengan cara bicara yang mengemaskan."


Arini terbelalak mendengar penjelasan dari pemikiran seorang anak sekecil Aisya.


" Gini yaa, Aisya sayang, pasangannya ayah siapa.?" tanya Arini mendudukan Aisya dipangkuannya.


" Bunda" jawab gadis kecil itu.


" Terus pasangannya Papa.?"


" Mama " sahut Aisya polos.


" Nah, itu Aisya pinter. Papa Imam itu pasangannya Mama Sabina kan. Bunda Arini juga pasangannya ayah Fa'i. Jadi Papa Imam dan bunda Arini bukan pasangan kan. Gak boleh tinggal sama - sama." jelas Arini sesederhana mungkin agar Aisya bisa memahaminya.


" Tapi kan bunda, kata Papa kalau mama Sabina dan ayah Fa'i sudah disurga kan. Bunda gantiin mama Sabina aja. Nanti Aisya panggil bunda Arini, Mama. Jadikan Papa Imam dan Mama Arini bisa tinggal sama - sama, bareng Aisya juga." Jawab Aisya dengan begitu polosnya.


Arini sampai tak bisa berkata apa - apa. Lebih tepatnya bingung harus menjelaskan bagaimana lagi agar, anak seusianya tidak terpengaruh dengan pemikiran yang belum waktunya. Arini tidak ingin meracuni otak Aisya dengan hal - hal yang membuat pemikiran Aisya nantinya lebih dewasa dari yang seharusnya.


" Gimana bunda mau kan jadi Mamanya Aisya. Atau papa Imam yang jadi ayah, bunda?"


Lagi - lagi kepolosan Aisya membuat Arini tak bisa berkata apapun. Sulit menjelaskan hubungan diantara dirinya dan Imam. Seandainya Arini menceritakan semuanya pun, Aisya belum bisa memahami semuanya.


Beruntung saat itu, bik Siti datang dan mengatakan kalau pak Dul sudah datang untuk menjemput Aisya pulang. Sehingga Arini tak perlu menjawab celotehan polos Aisya.


Memang menggemaskan, tetapi posisi dan keadaan rumit ini yang membuat Arini kesulitan menjawab. Apalagi masalah itu belum bisa dimengerti ataupun diterima oleh pemikiran anak seusia Aisya.


*Yaa, Allah. Bantu hamba menjelaskan semuanya pada Aisya. Agar nanti tak menyakiti hatinya. Hamba menyayangi dia seperti buah hati hamba sendiri.


Jika memang hamba harus menjelaskan dengan jujur. Setidaknya dia bisa menerima semuanya. Dia masih terlalu kecil berfikir mengenai hubungan ini*.


Flashback off.


Terima kasih sudah mampir.


Semoga suka yaa.


Sehat selalu semua.

__ADS_1


__ADS_2