
" Apa kamu menerima permintaan Umi ku, Arini" tanya Fa'i sambil berdiri untuk mengambil buku disalah satu rak, bukan untuk membacanya hanya menghilangkan kecanggungan diantara mereka.
" Entahlah, saya tidak tau." jawab Arini pelan karena rasa gugub dan malu yang tak kunjung pergi.
" Apa kamu mempunyai kekasih?" tanya Fa'i yang tersenyum tipis melihat Arini yang begitu gugup, sampai - sampai dahinya berkeringat.
" Tidak, saya tidak pernah dekat apalagi sampai menjalin kasih dengan seorang laki - laki manpun." jawab Arini dengan polosnya tak menutupi apapun tentang dirinya.
pantas saja dia sampai berkringat dan nampak gugup juga malu banget." gumah Fa'i tersenyum tipis membayangkan sesuatu tentang gadis dihadapanya ini.
" Apa anda menerima perjodohan ini?" lanjut Arini bertanya pada Fa'i yang beberapa saat diam memperhatikan dirinya dan itu membuat Arini risih dan kikuk
" Iya, aku menerimanya."
" Mengapa Anda menerimanya? "
" Karena aku sudah capek selalu didesak untuk menikah dan beberapa kali dijodohkan seperti ini. jawab Fa'i datar dan kembali duduk dihadapan Arini.
" Apa alasan tidak menolak saya ?"
__ADS_1
" Karena Umi, mbak Amira dan Sabina sangat menyukaimu, apalagi kali ini mereka begitu berharap padamu aku tak ingin membuat mereka kecewa terlebih Sabina"
" Sabina, ada apa dengan dia?."
" Huuhh.. karena dia sudah menunggu aku selama 2 tahun untuk menikah . Sabina sudah di lamar oleh Imam sahabatku 2 tahun lalu, tapi dia tidak akan menikah sebelum aku menikah." kata Fa'i dengan wajah yang berubah menjadi serius.
" Jadi aku mohon sama kamu untuk menerima semua ini demi Sabina" lanjut Fa'i dengan ekspresi memohon pada Arini.
Arini pun mendongak menatap wajah Fa'i beberapa detik saling bertatapan lalu menunduk lagi.
" Bagai mana ini, apa yang harus aku lakuakan apa aku harus berkorban sebesar ini untuk sahabat baik ku, Tapi kasihan dia sudah menunggu selama itu. " Kegundahan mulai menyeliputi hati Arini begitu pertayaan yang bergelayut dibenak Arini jika memang harus menerima perjodohan ini.
Secepat itukah mereka bergerak. Arini tak mampu berfikir lagi, mengapa semuanya malah seperti ini.
" Sekali lagi aku mohon Arini terimalah aku sebagai calon suaminu, demi Sabina sahabatmu.!"
" Huuuhhhh, baiklah demi Sabina dan Umi Anda karena saya sangat menghormati beliau." jawab Arini setelah menghembuskan nafas pelan mencoba menenengkan diri.
" Mungkin ini memang jalan dari Allah mempertemukanku dengan jodoh, belahan jiwa dan cinta sejatiku. semoga jalan yang aku ambil mendapat ridho illahi." batin Arini sambil memejamkan matanya berusaha meredakan debaran jantungnya yang membuatnya susah bernafas.
__ADS_1
Suasana diruang baca itu kembali hening, hingga suara pintu dibuka oleh seseorang. Yaa Umi Salamah bersama Abi Umar.
" Kok diam - diaman, kamu tidak ajak ngobrol Arini, Fa'i" tanya Umi menepuk lengan Fa'i yang berdiri bersamaan dengan Arini menyambut Beliau berdua.
" Jadi gimana apa keputusan kalian, " tanya Abi yang tersenyum penuh harap, begitu pula Umi yang sedari tadi mengenggam tangan Arini. Terlihat jelas harapan yang begitu besar pada keputusan mereka.
Walau keluarga telah saling bertemu dan setuju. Tapi yang terpenting adalah persetujuan dari mereka berdua. Arini dan Fa'i pun mendongak tatapan mereka bertemu seper sekian detik, lalu Arini menunduk lagi.
" Seperti yang telah Fa'i katakan waktu itu Umi, Fa'i bersedia untuk menikah dengan Arini."
" Arini, gimana keputusan kamu Nak, " tanya Umi yang tersenyum senang mendengar jawaban Fa'i.
" Sa_ saya bersedia Umi, " pelan Arini dengan suara gemetar karena menahan rasa gugup pada dirinya.
"*Alhamdullilah, " ucap Abi, Umi dan yang lain seperti, Mbak Amira ,mas Haris, Sabina , juga Imam. Ternyata sedari tadi mereka berjejer untuk menguping pembicaraan penting itu. Kehebohan pun terjadi ,membuat Arini merona malu begitu pun Fa'i.
Bersambung,
Terima kasih, jagan lupa tinggalin jejak yaa LIKE & COMMENT saran dan kritinya ditunggu๐๐๐*
__ADS_1