
" Rin, beneran kamu mau ngajar lagi disana.?" tanya mbak Amira pagi itu saat Arini bersiap untuk kembali mengajar.
" Iya, mbak. Lama - lama bosan juga dirumah terus. Walau pun peninggalan mas Fa'i sangat banyak, tapi aku juga harus melanjutkan hidupkan mbak.!"
" Syukurlah, akhirnya kamu move on juga. Lalu soal pasangan hidup, kamu sudah memikirkan belum. Ini sudah setahun lebih, Rin. Gak baik juga kamu hidup sendiri.!"
" Mbak kan tahu, alm. mas Fa'i itu cinta pertamaku gak semudah itu mbak."
Arini tahu sebenarnya maksud dan arah pembicaraan mbak Amira. Sejak pertemuan dengan Firman waktu di Supermarket waktu itu. Mbak Amira sering membahas tentang Firman, saat ngobrol berdua dengan Arini.
Tetapi, Arini selalu bersikap biasa saja, baginya tak ada hal ataupun kesan yang mendalam pada sosok Firman. Bagi Arini tak
ada yang istimewa darinya.
Mungkin benar, Firman adalah tipe laki - laki calon suami idaman. Tapi, sepertinya tidak bagi Arini. Yaa, tak ada yang tahu bagaimana isi hati Arini yang sebenarnya.
" Kamu gak mau mempertimbangkan dulu, Rin.? Firman sepertinya juga tertarik padamu." ujar mbak Amira. Arini tersenyum lalu mendekati wanita baik hati itu.
" Mbak, jangan terlalu memikirkan hidupku seperti ini. Aku baik - baik saja dan soal jodoh biarlah Allah yang menentukan. Entah dengan Mas Firman atau bahkan mungkin dengan mas Imam, pasti aku akan menerimanya."
" Imam, kamu berfikir untuk menerima Imam dihidup kamu setelah semua yang tejadi.?" tanya mbak Amira sedikit kecewa.
" Aku belum memikirkan sejauh itu, mbak.! Tapi, aku pikir untuk apa menyimpan kebencian dan dendam padanya. Sedangkan dia pasti juga tersiksa karena rasa bersalahnya. Aku juga berfikir kalau sebenarnya ini bukan salah mas Imam."
Sejak bertemu dengan Imam waktu itu, dan keseriusannya untuk menjauh. Diam - diam membuat hati Arini tersentuh. Bahkan sampai saat ini Imam tak berusaha terlihat oleh Arini. Aisya pun tak lagi membahas tentang Imam didepan Arini. Mungkin, Imam sudah menasehati dan memberinya pengertian pada Aisya.
***
Didepan sebuah sekolah taman kanak - kanak yayasan Harum Ceria, nampak seorang laki - laki berkemeja putih sedang menunggu seseorang. Sambil bersandar di pintu mobilnya, laki - laki itu mengutak - atik ponsel ditangannya.
" Bu Arini, " panggil laki - laki itu saat melihat Arini keluar dari pintu gerbang.
Merasa dipanggil seseorang, Arini lantas menoleh padanyq yang kini berjalan mendekat dimana Arini berada. Laki - laki yang begitu mempesona dengan kaca mata hitam yang baru saja dilepas. Senyum manis yang membuatnya semakin terlihat mempesona.
__ADS_1
" Masih ingat saya.?" tanya setelah sampai didepan Arini dengan jarak satu meter. Arini pun ikut tersenyum. Lalu mengangguk pelan.
" Pak Andi kan, papanya Danies.?"
" Masih ingat kamu rupanya. Bagaimana kabar kamu bu Arini.?"
" Alhamdulilah, baik pak. Danies apa kabar pak.?"
" Baik, hanya kabar Danies saja yang kamu tanyakan? Kamu gak pingin tahu kabar saya?" tanya Andi menipiskan bibirnya, hingga membuat lesung pipi dipipi kirinya terlihat sangat jelas.
" Kenapa saya harus bertanya kabar pak Andi. Sedangkan anda sekarang dihadapan saya, itu berarti baik - baik aja kan.!" Arini tersenyum.
" Iya, juga sih." kata Andi sedikit malu dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Arini dan Andi pun berbincang cukup akrab, karena memang Andi tipikal laki - laki humoris yang mudah akrab dengan siapa saja. Arini pun kelihatancukup nyaman dengan Andi.
" Karena kamu nolak ajakan makan siang dan pulang sama saya. Boleh donk kalau saya meminta nomor bu Arini.?"
" Oo, tentu saja boleh pak Andi.!"
" Ehmm, saya pulang yaa pak Andi." ucap Arini.
" Baiklah, hati - hati yaa." jawab Andi mengangguk.
Arini tersenyum, " Assalamualaikum." Lalu menangkupkan kedua telapak tangannya didepan dada.
" Walaikumsalam. Wr. Wb." jawab Andi.
Arini pun berlalu meninggalkan Andi yang masih mematung disana. Memandangi punggung Arini yang semakin menjauh dan tak terlihat lagi.
*Yaa Allah dia wanita yang sungguh sempurna. Semoga Kau jodohkan aku dengannya. Aku akan berusaha merebut hatinya.
Arini, sebelum alm. Fa'i aku sudah lebih dulu mencintaimu*.
__ADS_1
Andi pergi dari sana dengan perasaan yang tak bisa tergambarkan. Walau hanya mendapatkan nomor Arini, dia sudah merasa bahagia. Terlebih Andi mengartikan bahwa masih berpeluang besar mendapatkan cinta Arini. Menjadikan perempuan itu istrinya, ibu untuk anaknya.
Senyum manisnya tak hilang dari bibirnya sejak tadi. Bahkan Andi sudah seperti ABG yang baru saja merasakan cinta. Nyatanya debaran saat menatap senyum itu masih dirasakan Andi.
Mungkin satu hal tidak disangka, seorang Andi Setiawan masih terjebak cinta pada seorang Arini. Delapan tahun menduda tak membuat Andi dengan mudah menjatuhkan hatinya pada seorang perempuan. Hanya pada Arini dia bisa merasakan cinta kembali. Setelah hilangnya sosok sang istri yang juga bernama Arini dari hidupnya.
Apa karena nama mereka hampir sama, sehingga Andi jatuh cinta pada soson Arini yang ini.? Tentu tidak, Andi jatuh hati pada Arini karena ketulusan hatinya. Dan kedekatan Danies semasa disekolah dulu.
Sama seperti Imam yang hanyut dalam rasa kasih tulus pada putrinya waktu itu. Hingga tanpa sadar rasa itu berubah menjadi cinta.
***
Sesampainya dirumah, Arini dikagetkan dengan keberadaan Firman disana. Entah, karena apa laki - laki sholeh itu datang. Mungkin ada keperluan dengan mbak Amira, pikir Arini.
Setelah mengucap salam, Arini pun masuk kedalam. Tanpa berbasa - basi, hanya menganguk menyapa Firman. Arini lantas bergegas menuju kamarnya.
Rasanya tak sopan juga berlalu begitu saja. Tetapi, Arini tak ingin terlalu jauh mengenal Firman. Dia tak ingin mengenal banyak laki - laki dengan statusnya sekarang ini.
Status janda yang disandang cukup menyita banyak perhatian dan pandangan negatif dari orang yang tak mengenal dirinya.
Status janda memang kerap kali dipandang negatif oleh sebagian besar warna masyarakat di negara ini. Maklum saja adat ketimuran yang masih lekat dengan norma kesopanan dan asusila.
Meski tak semua seorang janda buruk dimata orang lain. Tapi, kesalahan sedikit saja akan banyak cibiran miring yang akan didengar.
" Rin, Firman sedang menunggu kamu.!" Temuilah sebentar ada hal yang ingin disampaikan katanya.!" kata Mbak Amira yang menyusul Arini kekamarnya.
" Mamang apa yang ingin dibicarakan, kami hanya dua kali bertemu dan tak ada urusan apapun mbak." sahut Arini melepas tasnya itu.
" Sudahlah, temui dia dulu.! Mungkin punya niat baik sama kamu."
Mbak Amira tersenyum penuh arti. Ada sesuatu yang memang tidak dikatakan mbak Amira, maksud dari kedatangan Firman sebenarnya.
Terima kasih, sudah mampir dan membaca.
__ADS_1
Semoga suka.
Sehat selalu semua.