
Menjelang maghrib, acara sederhana itu pun telah selesai. Arini juga telah membersihkan diri. Entah mengapa senyumnya terus saja mengembang dibibir tipisnya. Selepas sholat maghrib Imam dan Arini melaksanakan sholat malam pengantin seperti anjuran dalam agama.
Arini menangis haru saat Imam dengan fasih melafaskan doa - doa untuk kebaikannya dan kebaikan pernikahan mereka.
Bahagia, yaa. Arini sangat bahagia menikah dengan laki - laki yang tulus mencintainya, dan benar - benar menginginkan dirinya.
Bahagia itu saat, kita dicintai seperti ini. Apa jangan - jangan aku juga sudah mulai jatuh cinta pada mas Imam.
Arini kembali menatap dirinya dikaca meja riasnya. Kembali tersenyum, mengingat kejadian tadi. Pingsan, mana ada mempelai wanita tiba - tiba pingsan karena melihat mempelai laki - lakinya. Mungkin belum pernah ada yang mengalaminya. Lucu, memang tapi ini akan menjadi cerita cinta yang tak terlupakan dalam hidupnya. Pikir Arini.
Cklek,
Suara pintu terbuka, nampak sosok laki - laki yang telah memporak porandakan hatinya beberapa hari terakhir, masuk menghampirinya. Setelah menutup pintu itu.
Arini terdiam, menatap dingin pada Imam dari pantulan kaca itu. Sementara Imam yang yang baru pulang dari masjid untuk sholat isya berjamaah, tersenyum menatap Arini.
" Assalamualaikum, " sidir Arini karena tadi Imam tak mengucap salam saat masuk kedalam kamar.
" Walaikum salam." jawab Imam yang mengerti maksud dari sindiran istrinya itu.
" Cantik, " ucap Imam, mengelus kepala Arini yang tertutup ribuan helai rambut lurus itu.
" Dari dulu juga udah cantik." gerutu Arini beranjak dari duduknya. Imam terkekeh melihat sikap Arini yang sepertinya masih merajuk itu.
Imam lalu beranjak naik keatas tempat tidur yang dihiasi layaknya kamar pengantin baru itu. Duduk bersandar pada headboard sambil memainkan ponselnya. Sementara Arini masuk kekamar mandi melakukan ritual sebelum tidur.
" Sini, Rin!" titah Imam menepuk pundaknya saat Arini keluar dari kamar mandi.
Arini mengerutkan keningnya, tanpa menunggu jawaban dari Arini. Imam langsung menarik Arini dalam dekapannya.
" Aaahhh..." pekik Arini yang jatuh diatas ranjang dengan kepala didada sebelah kanan Imam.
Arini pun langsung membenarkan posisinya agar nyaman duduk bersandar didada suaminya itu. Tangan Imam melingkar merengkuh punggung Arini hingga ke lengan kanannya. Tapi, Arini merasa masih malu dan kikuk bermesrahan dengan Imam.
" Gak usah banyak gerak, sayang!" ucap Imam sambil menciumi kepala Arini berulang kali. Menikmati wangi rambut yang lembut itu.
" Suka cincinya.?" tanya Imam meraih tangan kiri Arini yang semula bertengger didada.
Ditatapnya cincin bermata biru itu, cocok melingkari jari manis Arini. Mahar yang sengaja dia beli saat masih diJerman dulu. Meski dulu dirinya belum tahu akan berjodoh dengan siapa? Nyatanya takdir mempersatukan dirinya dengan Arini.
Arini mengangguk pelan, saat lidahnya terasa kelu karena ulah Imam yang beberapa kali memciumi tangannya tepat dimana cincin itu tersemat.
" Cantik, " lirih Arini setelahnya.
" Haah, tapi lebih cantikan kamu kok, Rin!"
" Gombal." sahut Arini yang sebetulnya tersipu malu. Sementara Imam terkekeh sambil menciumi rambut Arini berulang kali.
" Kok aku jadi sesek gini yaa, Rin!" celetuk Imam sambil meletakkan tangannya ditengah - tengah dadanya.
" Sesek, kamu punya asma mas.?" tanya Arini sedikit panik. Tapi, Imam malah terkekeh karenanya. Lalu menggeleng samar.
__ADS_1
" Kamu tuu yang buat mas sesek gini.!"
Arini mengrenyit, heran.
" Soalnya, liat kamu kaya gini, mas harus berusaha nahan semuanya. Termasuk tahan nafas.!" Goda Imam. Arini lantas mencubit pinggang Imam, gemas.
" Aauuu.!" pekik Imam pelan.
" Dasar, omes.!"
Walau sebenarnya Arini dibuat tersipu karenanya. Itu artinya, Imam memang menginginkan dirinya sepenuhnya. Menjadi miliknya seutuhnya.
" Udah halal gini, mesum sama istri sendiri kan gak dosa, Rin!"
Arini merengut kesal, namun Imam begitu menikmati tiap detik saat itu. Baginya Arini terlalu menggemaskan.
" Rin, terima kasih. Sudah memilih mas, terlepas dari segala kesalahan mas, dulu.!" kata Imam serius karena Arini sudah mulai kesal karean godaan darinya.
" Terima kasih juga karena kamu menerima segala kekurangan, mas. Mas sadar tidak sebanding dengan alm. Fa'i.!" sambung Imam.
" Sudahlah mas, aku gak mau mas membahas masa lalu kita lagi. Biarlah itu semua berlalu, setidaknya kita belajar dari itu semuakan. Setiap manusia itu berbeda, begitupun kalian berdua." Arini mendongak bersamaan dengan Imam yang menunduk. Hingga mempertemukan tatapan mereka sepersekian detik.
Tangan Imam terulur kewajah Arini, menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinga. Arini tersenyum, begitupun dengan Imam. Lalu perlahan Imam memiringkan kepalanya, mulai mendekatkan wajahnya.
" Mas sangat mencintai kamu, Rin!" ucapnya sambil terus mendekat.
Ingin segera merasai bibir tipis milik Arini yang begitu menggodanya itu. Perlahan Imam mendekatkan wajahnya. Hembusan nafasnya terasa hangat menerpa wajah Arini, begitupun sebaliknya. Arini mulai memejamkan matanya, saat wajah Imam lebih dekat dan semakin dekat.
" Papa, bunda.!" panggil Aisya sambil menggedor pintu kamar mereka.
Arini dan Imam pun terjenggit kaget karenanya. Arini segera membuka matanya dan Imam menjauhkan wajahnya. Kalau tidak ingat dosa mungkin Imam sudah mengumpat sejadi - jadinya. Kesal karenanya.
" Aisya, mas." pelan Arini berbalik lalu menuruni ranjangnya untuk membuka pintu. Sementara Imam menghela nafas kasar sambil meraup wajahnya.
" Sayang, kok belum bobok.?" tanya Arini setelah membuka pintu dan mendapati Aisya yang sudah sangat mengantuk itu.
" Aisya, mau bobok sama Bunda, sama Papa.!"
Arini tersenyum lalu membawa Aisya masuk kedalam kamarnya. Aisya langsung berjalan memuju tempat tidur dimana Imam masih berada diposisinya tadi.
" Lho, Aisya kok kesini gak bobok sama kak Sarah.?" tanya Imam sambil bergeser karena Aisya langsung merebahkan diri diatas kasur sambil memeluk boneka panda kesayangannya.
" Aisya mau bobok sama Papa, sama Bunda.!" jawab Aisya yang langsung memejamkan matanya.
" Sayang, bobok sama kak Sarah yaa, Aisya gak mau cepet punya adik bayi.?" celetuk Imam dengan santainya.
Arini yang sedari tadi berdiri samping ranjang itu. Kaget dan melebarkan matanya menatap Imam.
" Buukkk!"
satu bantal kecil dilempar pada Imam. Tapi, dengan cepat Imam menangkapnya. Lalu terkekeh melihat wajah Arini yang sangat menggemaskan. Untung Aisya sudah mulai terlelap kealam mimpinya. Sehingga tak mendengar perkataan Papa Imam yang tidak difilter itu.
__ADS_1
" Mas, terlalu banget sih. Pake jujur gitu ngomongnya sama Aisya. Untung dah bobok kan Aisyanya." gerutu Arini sambil menyelimuti Aisya sampai batas leher.
" Yaa, gimana lagi? Aisya ganggu aja nii!"
Arini hanya menggeleng dengan tingkah suaminya yang kadang terlewat jujur itu. Konyol memang, tapi Arini senang karena tiap didekat Imam, dia selalu bisa tersenyum bahagia.
" Yuuk, dilanjut.!" kata Imam. Mata Arini kembali membola.
Sementara Imam beranjak dari tempat tidur dan mendekati Arini. Lalu dalam satu hentakan Imam sudah melingkarkan tangannya diperut Arini. Memeluknya dari belakang.
Seketika Arini membeku, detak jantungnya sudah tak dapat dikendalikan lagi. Terlebih saat Imam menyingkirkan rambut Arini kesamping kiri lalu membenamkan wajahnya dipundak sang istri.
Ingin rasanya Arini menolak, tapi yang terjadi lidahnya terasa kaku. Dan tubuhnya menginginkan, mengkhianati hati dan pikirannya. Sentuhan lembutnya seakan membius Arini agar tak mempu menolaknya.
Mungkin ini bukan hal baru untuknya, namun perlakuan alm. Fa'i dan Imam sangatlah berbeda.
" Mas.!" panggil Arini dengan suara mulai berat.
" Hm.."
Imam lalu membalikkan tubuh Arini, agar menghadap padanya. Dengan sisa - sisa keberaniannya Arini menatap dalam mata hasel milik suaminya. Terlihat jelas kilatan gairah yang terpendam dari sana.
Sebegitu besarkah, mas Imam menginginkan ku.
Lalu Arini mengalungkan tangannya dileher sang suami sambil terus menatap mata yang terlihat sayu itu. Merasa mendapat isyarat dari Arini. Imam lantas menundukan wajahnya sambil tangannya meraih pinggang Arini agar merapat pada dirinya.
Imam pun mendaratkan bibirnya, dibibir tipis Arini. Awalnya Imam hanya ingin melakukan itu saja. Tapi, menyadari Arini memejamkan matanya. Imam lantas tersenyum dalam hati. Dan mulai menggerakkan bibirnya perlahan.
Namun, saat ingin memperdalam c****nnya. Tiba - tiba terdengar suara Aisya.
" Bunda, Aisya sayang Bunda!"
Buru - buru, Arini mendorong Imam agar sedikit menjauh. Lalu mereka menoleh pada Aisya. Betapa terkejutnya mereka, melihat Aisya masih tertidur dengan pulas.
" Yaa, dia ngigau.!" celetuk Arini.
Imam tersenyum, lalu menempalkan dahinya kedahi Airni. Bersamaan Arini yang tersipu malu karena ulahnya bersama sang suami.
" Sepertinya malam ini bukan malam yang indah untuk kita, Rin.!" kata Imam sedikit kecewa
" Iya, mas. Ini bukan malamnya kita!"
Imam melepaskan Arini, mencium keningnya. sebelum akhirnya memutuskan untuk tidur bersama dengan Aisya disana.
Memeluk Aisya bersama, karena sejatinya pernikahan ini demi kebahagiaan gadis kecil itu. Pastilah saat ini Aisya lah yang sangat bahagia. Meskipun Arini dan Imam juga merasakan kebahagiaan itu.
Terima kasih, sudah mampir.
Jahat yaa, Authornya. Masa pengantin baru dibikin kentang kaya gini. Hhhh
Sehat selalu semua.
__ADS_1