
Hari itu, Andi sengaja menunggu Arini didepan tempatnya mengajar. Semua jadwal metting yang telah diatur oleh sekretarisnya pun dibatalkan.
Ditatapnya sebuah kotak bludru kecil berwarna biru itu. Senyumnya tak hilang sejak tadi. Membayangkan hal indah tentang Arini. Cintanya, mimpinya memiliki Arini akan segera terwujud. Pikirnya.
" Yaa, Allah. Semoga Arini menerima lamaranku." gumah Andi yang masih setia menunggu Arini yang tak kunjung keluar juga.
Sudah lebih dari dua jam, Andi menunggu disana. Namun, tak juga melihat Arini keluar dari sana. Padahal seharusnya sudah dari tadi Arini selesai mengajar. Jam makan siang pun sudah lewat.
Andi lalu mengambil ponselnya, membuka aplikasi berwarna hijau itu. Mulai menscrool dan mencari kontak yang bertuliskan nama Arini. Disentuhnya gambar telepon, mencoba menghubungi Arini.
Tuuut...tuuut...tut...
Lama Andi menunggu, sampai beberapa kali panggilan tak juga diangkat oleh sang empunya. Andi masih tak putus asa, disentuhnya kembali nomor Arini dan memulai memanggil kembali untuk kesekian kalinya. Tetap saja hasilnya nihil tak ada jawaban.
" Shiit, kemana sebenarnya Arini.?" umpat Andi yang mulai kesal itu.
Andi lalu keluar dari mobilnya, menutup pintu dengan kasar. Lalu melangkah ketempat pos satpam dipojok sana. Mencoba bertanya pada petugas keamanan disana.
" Assalamualaikum, pak. Permisi." sapa Andi sambil melepas kaca mata hitamnya.
" Walaikumsalam, ada yang bisa saya bantu pak.?" tanya satpam paruh baya itu.
" Maaf, pak. Apa bu Arini masih didalam, saya sudah menunggu dari tadi. Tapi, tidak keluar juga."
" Oo, bu Arini. Tadi bu Arini diantar kerumah sakit karena menolong anak murid disini pak.!"
" Rumah sakit,?" sentak Andi kaget.
" Rumah sakit mana pak.?" sambung Andi yang napak cemas itu.
" Itu, pak. Rumah sakit diujung jalan sana." jawabnya sambil menunjuk arah Rumah sakit yang dimaksudnya tadi.
" Terima kasih, yaa pak.!" kata Andi lalu bergegas pergi dari sana setelah memberikan sedikit rejeki untuk satpam paruh baya itu.
" Pak, ini apa?" teriak satpam itu.
" Anggap saja itu rejeki untuk anak dan istri bapak. !" jawab Andi sebelum masuk kedalam mobilnya.
__ADS_1
Andi melajukan mobilnya menuju Rumah sakit yang disebutkan satpam tadi. Rasa cemas pun mendadak menyelimuti hatinya.
" Bodoh kamu, Ndi. Kenapa tidak bertanya dari tadi pada satpam itu.? Membuang waktu sia - sia saja kamu. Ahhh.."
Andi merutuki dirinya sendiri. Mencengkeram kuat kemudi mobilnya. Hampir saja dia berfikir buruk tentang Arini yang tak menjawab teleponnya.
Sampai diparkiran Rumah sakit itu, Andi langsung bergegas menuju ruang informasi didekat UGD.
" Maaf, mbak. Apa ada pasien yang baru masuk bernama Arini.?"
" Iya, pak tadi memang ada pasien baru seorang wanita bernama Arini. Sekarang sudah dipindahkan keruang perawatan di ruang VVIP. "
Setelah mengucapkan terima kasih, Andi segera berlari menuju ruangan yang disebutkan petugas informasi tadi.
Sampai didepan ruang rawat Arini. Langkahnya terhenti. Dada Andi berdebuk tak terkendali, rasa marah, kecewa juga cemburu seketika membuncak memenuhi isi kepalanya. Jari - jari tangannya mengepal kuat, lantaran melihat Imam telah lebih dulu disana bersama dengan sang putri.
Mereka nampak seperti keluarga kecil yang bahagia.
Pintu yang terbuka sedikit itu, benar - benar membuat Andi mendengar dan melihat keakraban mereka.
" Ini Rumah sakit, salah satu tempat ku bekerja. Selain rumah sakit yang dulu. Dan kebetulan aku lagi ada jadwal praktek disini. Makanya aku tahu pas kamu dibawa kemari oleh bu Dewi." jawab Imam yang duduk di kursi samping bankar tempat Arini.
" Emmt, Aisya kamu apa kabar sayang.?" tanya Arini yang dari tadi belum menyapa putri cantiknya itu.
" Baik, bunda." Jawab Aisya lalu naik kebankar itu dan langsung mencium pipi kanan Arini.
" Aisya perginya lama banget, sih. Bunda kangen tau gak.?" kata Arini mencubit pipi tembem Aisya, gemes.
" Nenek sakit, bunda. Jadi papa jagain dulu. Maaf, yaa bunda!" rajuk Aisya memeluk Arini.
Imam yang melihat keakraban mereka pun sangat senang dan terharu. Apalagi sekarang hubungan dengan Arini yang sempat renggang itu kini telah membaik.
Imam lalu berdiri dan melangkah untuk duduk disofa itu. Memberi jarak agar Arini dan Aisya saling melepas rindu tanpa terganggu karena ada dirinya didekat mereka.
Sementara Andi masih diluar dengan hati yang semakin panas karenanya. Cemburu yang hampir saja membuatnya gelap mata.
Tetapi, untungnya dia segera sadar. Kalau dirinya memang belum ada ikatan apapun dengan Arini. Bagaimana jadinya seandainya dirinya benar - benar kalap.?
__ADS_1
" Sabar, Ndi. Belum saatnya kamu termakan api cemburu seperti ini. Ingat Arini belum menjadi milikmu sepenuhnya. Tahan emosi kamu. Jangan sampai, Arini tidak bersimpati lagi. Masih ada peluang besar untuk mendapatkan Arini."
Andi mencoba menenagkan dirinya, meredakan emosi yang semakin membakar api cemburu yang bergemuruh didadanya. Wajahnya pun merah saking kuatnya dia menahannya. Buku - buku tangannya sampai memutih karena kepalan jari - jarinya yang begitu kuat.
Andi memang tipikal, laki - laki ambisius yang akan berusaha keras mendapatkan apa yang dia inginkan. Jika dulu, dia mundur mendekati Arini karena tak disadari kalah cepat dari Fa'i. Maka sekarang selagi ada kesempatan, Andi tak akan menyia - nyiakan kesempatan itu.
Apalagi dia merasa, dirinya lah yang pertama mengenal Arini dan pertama mencintai Arini. Jadi apapun halangannya akan dia hadapi untuk mendapatkan Arini. Meski harus bersaing dengan sahabatnya sendiri. Imam.
Pasalnya Andi atau pun Imam, belum mengetahui kalau Firman telah selangkah lebih maju. Meskipun Arini belum memberi jawaban atas pernyataan niat baik Firman seminggu yang lalu.
Setelah emosinya cukup reda, Andi pun masuk kedalam ruang rawat Arini. Dengan wajah yang sudah cerah dan tak nampak marah lagi.
" Assalamualaikum, " sapa Andi membuka pintu itu. Lalu melangkah masuk.
" Walaikum salam." jawab Imam dan Arini bersamaan. Sementara Aisya baru saja tertidur dipelukan Arini.
" Andi, "
" Pak Andi."
Kata Arini dan Imam bersamaan setelah menoleh dan melihat Andi berjalan mendekat setelah menutup pintu itu.
Sebisa mungkin Andi menampakan senyum pada Imam yang membuatnya kesal itu. Sementara senyumnya tulus ketika pandangannya terarah pada Arini.
Tetapi, Imam yang sudah mengenal Andi belasan tahun. Jadi dia bisa melihat dari cara menatapnya itu.
" Ahh, ternyata Andi masih memiliki perasaan pada Arini. Dia pasti cemburu melihatku disini. Tapi, dari mana dia tahu Arini masuk rumah sakit.?"
Batin Imam sambil melangkah untuk mendekati Andi, menyalaminya. Walau bagaimana pun mereka tetap bersahabat. Meski tanpa disadari mereka adalah saingan untuk mendapatkan cinta dari Arini.
Terima kasih, sudah mampir.
Maaf telat Up nya. Maklum dinas pagi, jadi sibuk banget seharian ini.
Semoga suka yaa.!
Sehat selalu semua.
__ADS_1