
" Waahhh, cerah banget tuu muka" seloroh Imam yang baru saja tiba dirumah sakit bersamaan dengan Fa'i yang juga baru sampai. Seulas senyum mengembang tidak berniat membalas perkataan Imam.
" Semalam terjadi sesuatu tidak.?" Imam kembali menggoda Fa'i yang kelihatan sedikit bingung harus menjawab apa. Lalu dia hanya menggeleng sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Aku tidak mau menyentuhnya selama hatiku masih milik Diana. Aku memang sudah sepenuh hati menerima Arini dalam hidupku. Tapi, aku rasa, aku masih mengaguminya belum jatuh cinta padanya. "
Imam pun hanya tersenyum menepuk bahu sahabatnya, karena mereka harus siap - siap dengan tugas mereka masing - masing.
Imam harus segera visit kebangsal anak dan dilanjutkan ke poliklinik karena memang dia seorang dokter Specialis anak.
Sementara Fa'i segera ke ruang operasi. Karena hari ini ada beberapa jadwal operasi kira - kira sampai jam makan siang.
Setelah sholat Dzhur Fa'i sengaja pergi ketempat Arini mengajar, menjemputnya dan ingin makan siang bersama. Setidaknya ini salah satu cara supaya lebih dekat dengan istrinya itu.
Tetapi pas sampai didepan pintu gerbang Fa'i melihat Arini sedang berbincang dengan Andi dan Danies berada dalan gendongannya.
Seperti keluarga kecil yang sangat bahagia. Entah mengapa Fa'i merasa tidak senang melihatnya, dia pun segera turun dari mobilnya kemudian berjalan untuk mendekati mereka.
__ADS_1
" Kenapa aku tidak senang melihat Arini dan Andi, apa yang mereka bicarakan? Astaqfirullah, cemburukah aku." batin Fa'i mengusap wajahnya kasar.
" Assalamualaikum, " Sapa Fa'i sambil mendehem, kedua tanganya dimasukkan kedalam kantung celananya itu.
" Walaikumsalam " jawab Arini dan Andi bersamaan, Arini pun kaget melihat Fa'i yang kelihatanya tidak menyukai situasi ini.
Kecanggungan pun menyerang Arini, walau hanya berbicara hal tidak penting dengan Andi, Tapi jika dalam keadaan ini membuatnya merasa bersalah pada suaminya.
" Hai, An jam segini kok kamu baru jemput anak kamu?"
" Ooo, tadi aku ada metting jadi telat jemputnya, Untung Arini masih disekolah dan menjaga Danies." Jawab Andi yang dari cara menatap Arini dapat terlihat jelas kalau Andi mempunyai perasaan pada Arini.
" Tumben, Anda kesini dokter Fa_" Seketika Arini langsung menutup mulutnya menyadari ucapanya itu. Hati Fa'i yang awalnya sedikit kesal seketika berubah, seringai jail menyungging dibibirnya.
" Yang kemaren saja belum dapat hukuman, kenapa sekarang salah lagi... Ehmmmt"
" Maaf kebiasaan sih." jawab Arini meringis sambil mengacungkan kedua jarinya. Lalu Fa'i mengusap kepala Arini yang tertutup hijab warna navy itu sambil tersenyum manis.
__ADS_1
" Makan siang dulu yaa sebelum pulang, Aku lapar" Kata Fa'i setelah mereka masuk kedalam mobil warna putih itu.
Arini hanya mengangguk sambil memasang sitbeltnya. Lalu Fa'i mulai melajukan mobilnya, membelah jalanan ibu kota yang lumayan ramai, karena jam makan siang memang belum usai.
Sitttttt...
Suara rem mobil Fa'i ketika berhenti, diprlataran parkir sebuah restoran yang cukup ramai pengunjung yang kelihatanya memang akan segera kembali bekerja karena hampir jam 1 siang.
"Nasi gudeg sama jus buah naga, Kamu mau makan apa Rin?" tanya Fa'i sambil menutup buku menu yang diberikan pelayan pria, yang dari tadi melirik Arini dengan senyumnya itu.
" Nasi pecel ayam aja , minumnya jus Alpukat."
Jawab Arini lalu menoleh pada Fa'i yang menyenggol kakinya dikolong meja. Arini mengeryikan dahinya.
" Kenapa, kenapa aku tidak terima melihat Arini dilirik laki - laki lain. Perasaan apa ini aku rasa aku belum mencintainya. Tapi perasaan apa ini Cemburukah aku..." batin Fa'i lalu menghembuskan nafas, mencoba mengalihkan pikirannya yang tidak - tidak.
" Apa ada masalah... " Tanya Arini yang melihat gelagat aneh dari suaminya.
__ADS_1
Bersambung
Terima kasih,