Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
89. Bahagiaku bersamamu.


__ADS_3

Setahun telah berlalu begitu cepat, kini Arini hidup bahagia bersama keluarga kecilnya. Arini sangat bersyukur memiliki suami seperti Imam. Laki - laki saleh yang sangat mencintai dirinya, selalu membimbingnya kejalan yang diridhoi AlLAH SWT.


Sambil menjinjing keranjang bunga tabur, Arini dan Imam berjalan menyusuri jalan setapak diarea pemakaman itu. Terlihat disisi kanan dan kiri berjajar makam - makam seorang hamba Allah yang telah berpulang pada sang Pencipta.


Imam menggenggam erat jemari Arini. Sambil sesekali menoleh pada sang istri yang kini nampak sedikit berisi karena tengah hamil sembilan bulan. Namun, wajah Arini mendadak sendu saat menginjakkan kaki di tanah pemakaman itu.


" Sayang, kenapa?" tanya Imam menghentikan langkahnya saat berhenti di deretan makam keluarga itu. Yaa, makam keluarga besar Hadi Assalam. Sabina, Abi, Umi, Rifa'i dan AL - Lukman.


Arini hanya menggeleng, lalu ditatapnya satu persatu nisan makam - makam itu. Orang - orang yang pernah hadir dihidupnya. Yang tulus mencintai dirinya tanpa melihat siapa dan dari mana asalnya.


Arini dan Imam, bersimpuh diantara makam - makam itu. Menengadahkan tangan, mendoakan semua orang yang pernah mengisi cerita hidupnya.


Satu hal dalam hati Arini, cinta untuk alm. Fa'i masih ada. Disalah satu sudut terdalam hatinya, Arini selalu menyimpan nama itu. Laki - laki yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kali.


Meski kini cinta Imam telah menemani sisa hidupnya. Tapi, jujur teramat sulit untuk menghapus semua kenangan akan Rifa'i.


Begitu juga dihati Imam, meski kini hatinya telah menjadi milik Arini tapi Sabina telah memiliki sebuah ruang dilubuk hati terdalamnya. Bukankah masa lalu tak akan pernah terhapus.?


Satu hal yang selalu diucapkan Imam pada Arini.


Kamu memiliki masa lalu, begitu juga mas yang juga memiliki masa lalu itu. Tapi, masa lalumu adalah milikmu dan masa laluku adalah milikku. Dan masa depan adalah milik kita.


Cinta diantara kita memang bukan cinta pertama. Tapi, takdirlah yang menyatukan kita. Masa muda kita memang tak kita lewati bersama - sama. Namun, aku ingin menua bersamamu.


****


Selepas dari ziarah kubur tadi. Arini mendadak diam, wajahnya sendu menatap keluar jendela kamarnya. Perutnya yang telah membesar, seolah menjadi teman disaat itu.


Tak ingin mengingat masa lalu, namun seketika kenangan itu muncul begitu saja. Kenangan akan saat masa kecilnya dulu, berat rasanya hidup sebatang kara didunia ini. Tak ada orang tua bahkan saudara.


Memejamkan matanya, Arini mengusap - usap perutnya yang sedikit nyeri karena tendangan dari sikecil didalam sana. Menghela nafas dalam, Arini mencoba membuang rasa gundah dalam hatinya.


" Sayang, kenapa lagi?" tanya Imam yang baru saja datang menghampirinya.

__ADS_1


" Gak mas, hanya ingat ibu, bapak dan mbak Ani. Mendadak kangen!"


" Ssstttt, jangan bilang kamu mau, mas anterin makam mereka dikampung?"


" Iya, mas. Anterin aku yaa!"


Imam menghela nafas kasar, lalu digenggamnya tangan Arini, erat.


" Mas akan anterin kamu. Tapi, gak sekarang. Kamu akan segera melahirkan Rin. Gak baik pergi sekarang.!"


Arini, merengut kessl. Memang sejak hamil Arini menjadi sangat manja dan mudah marah. Setiap keinginannya harus dipenuhi oleh suaminya itu. Memang bukan ngidam makanan aneh - aneh. Tapi, sering kali membuat Imam kelabakan, karena Arini yang gak sabaran.


Imam berlutut didepan Arini, memegang perut istrinya. Lalu menciumnya beberapa kali.


" Sayang, sabar yaa! Nanti setelah anak kita lahir dan bisa kita tinggal. Mas akan mengantar kamu pulang .!"


Seketika mata Arini berbinar dan bibirnya tersenyum cantik sekali. Lalu mengangguk tanda menyetujui apa kata suaminya.


" Apa mas, bahagia hidup bersama ku?" tanya Arini membelai rambut Imam.


Berdiri berhadapan dengan sang istri tercintanya. Tangannya terulur kedepan, mengusap pipi Arini lalu diselipkannya anak rambut Arini kebelakang telinganya.


" Arini, apakah kamu bahagia hidup bersama mas?


Arini mengangguk, seutas senyum merekah dibibir merahnya.


" Aku sangat bahagia memiliki suami seperti kamu, mas!"


" Kamu tahu, Rin. Ada satu hal yang sejak lama ingin sekali mas tanyakan sama kamu." tanya Imam menatap lekat mata indah Arini,.


" Apa?"


" Sejak kita menikah, kamu gak pernah bilang cinta sama mas! Apa kamu mencintai mas, sayang?"

__ADS_1


Arini tersenyum menggoda suaminya. Tak menyangka Imam juga butuh pengakuan cinta darinya.


" Kenapa, apa mas gak bisa merasakannya?" Arini tersenyum sambil tangannya menangkup wajah suaminya.


" Bukan begi_"


" Aku mencintaimu." kata Arini cepat, memotong apa yang akan dikatakan oleh suaminya itu. Imam sontak kaget dengan pernyataan Arini.


Imam tersenyum lantas memeluk Arini dengan erat.


" Mas, sangat mencintaimu Rin.!" kata Imam sambil menciumi puncak kepala Arini.


Bukan Imam namanya jika tak bisa membuat Arini selalu merasa istimewa. Cintanya yang terlampau tulus, membuat Imam sering kali lupa. Kalau Arini tak pernah mengatakan cinta pada dirinya.


Namun, satu hal yang selalu dia inginkan, yaitu kebahagiaan Arini. Tak ingin sedikitpun membuat Arini terluka oleh apapun. Bukan karena rasa bersalahnya ataupun kasihan, tapi karena Arini memang pantas untuk dicintai.


Yaa Allah, jangan pernah kau ambil lagi sisa kebahagiaan ini. Satu hal yang hamba panjatkan jagalah kami selalu dalam lindunganMu, senantiasa berada dijalan lurusmu. Biarkan aku bahagia disini bersama mas Imam. Jangan kau buat kami berseteru kelak diakhirat nanti. Ijinkan hamba hanya berseteru dengan mas Fa'i karena kesalahan hambaMu ini.


Terlepas dari apapun, kelak suatu saat Arini harus mempertanggung jawabkan apa yang telah ia perbuat. Hanya saja disisa hidupnya Arini ingin memperbaiki diri, bermunajat dan memohon ampun atas dosa - dosanya.


Aku tahu hidup ini tak mudah, kita pernah memiliki pasti kita juga pernah kehilangan. Yang datang pasti akan pergi. Banyak hal pedih yang kulalui, namun aku sadar semua adalah ujian untuk keimananku pada Rabb ku.


Kisahku bersama cinta pertamaku telah benar - benar usai saat aku menyadari cinta ku kini telah dimiliki sepenuhnya oleh laki - laki berhati tulus itu. Laki - laki yang lembut hatinya, memperlakukan ku selayaknya amanah yang harus dia jaga dan dia bimbing menuju surga**Nya.


Aku tahu dia juga belajar lebih dalam tentang agama Allah, begitupun denganku. Kami bukanlah manusia tanpa dosa, kami hanya berusaha memperbaiki diri kami.


"*Aku melengkapi mas Imam, begitupun dia melengkapi ku.


Terima kasih, Tuhan karena kau tuliskan kisah cinta yang luar biasa untukku*."


Arini bahagia dan bersyukur dengan apa yang dia miliki sekarang. Biarlah cerita dan kepedihan masa lalu itu menjadi kenangan dan hikmah dalam hidup.


*Aku mencintaimu, suamiku. Terima kasih untuk cintamu yang tulus padaku. Hidupku sempurna karena adanya dirimu dihidupku. Denganmu aku ingin berjuang meraih surga Allah Ta'ala.

__ADS_1


End*.


__ADS_2