Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
40. Rencana jail


__ADS_3

" Rin, apa kamu sudah baikan dengan Mas Fa'i.?" tanya Sabina yang pagi menjelang siang itu membantu Arini didapur membuat beberapa cemilan.


"Tadi mas Fa'i sudah minta maaf. Tapi, aku mau paru - pura masih marah dulu. "


Sabina kaget mendengar jawaban sahabatnya itu. Pasalnya Sabina tahu persis karakter dan kepribadian Arini. Dia bukanlah sosok perempuan yang jail dan ekspresif seperti dirinya.


" Maksudnya kamu mau sadiwara gitu,?"


Arini hanya tersenyum melihat raut wajah Sabina yang bingung dan tidak percaya seorang Arini yang lembut dan bersifat keibuan akan melakukan itu.


" Kamu sehatkan Rin...?"


" Emmmmt... Iya, walaupun tadi aku morning sickness..."


" Maksudku bukan itu,..."


Arini yang tahu maksud adik iparnya itu lantas tersenyum sambil mengedikkan kedua bahunya.


" Dari mana kamu belajar jailin orang..?" selidik Sabina yang masih tidak percaya itu.


" Dari kamu lah siapa lagi."


Sentak Sabina tertawa, ternyata dirinya menjadi inspirasi seorang Arini. Sahabat baiknya selama 5 tahun ini. Padahal bisa dibilang sifat dan kepribadian mereka sangat berbeda.


...................


Arini dan Sabina berjalan beriringan menuju halaman belakang mengantar cemilan dan jus buah untuk suami - suami mereka yang tengah main basket itu.


" Kenapa nggak suruh bi Siti yang bawa kesini sih Rin.?" Ujar Fa'i yang langsung mengambil alih nampan berisi cemilan dan beberapa gelas jus buah itu.Tapi, Arini tak menjawab pertayaan suaminya dia hanya tersenyum kecut dan tak ingin mematap suaminya.


" Kelihatanya Arini serius ingin bersandiwara sedikit pada mas Fa'i"


Batin Sabina terkekeh sambil geleng - geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu.


Setelah membantu Arini meletakkan nampan itu dimeja pinggir lapangan basket yang berada dihalaman belakang rumah. Fa'i kembali kedalam lapangan yang tidak terlalu besar itu dan bermain bersama Imam.


" Udah lama gak liat mas Fa'i dan mas Imam main basket. Kalau liat mereka gini aku jadi inget waktu pertama kali ketemu sama maa Imam..!" ucap Sabina sambil ngeliatin sang suami. Pipinya memerah mengingat pertemuan pertama mereka. Arini merasa penasaran dengan kisah cinta Sabina dan Imam yang belum pernah dia ceritakan.


" Ehhmmmt, terus...?"

__ADS_1


" Waktu itu aku kelas 2 SMA, seperti biasa mas Fa'i menjemputku pulang sekolah. Biasanya mas Fa'i langsung mengantarku pulang. Tapi, hari itu mas Fa'i mengajakku mampir kerumah mas Imam katanya untuk latihan basket, maklum mereka dulu cukup jago main basket jadi sempat ikut beberapa perlombaan gitu deh. Dirumah mas Imam untuk pertama kalinya aku bertemu cinta pertamaku dan sekarang malah jadi cinta sejatiku." jelas Sabina menarik nafas sejenak dan mengelus perut yang sekarang sudah membuncit karena usia kehamilan yang sudah memasuki bulan ke 5.


Namun, pas Sabina ingin melanjutkan ceritanya. Kedua laki - laki itu berjalan menghampiri istri mereka masing - masing.


Peluh membasahi wajah dan rambut mereka. Dengan sigap Sabina memberikan handuk yang telah disiapkannya itu. Lalu mengelap keringat diwajah sang suami.


Sementara Arini diam tak menatap Fa'i sedikit pun. Yaa walau ingin rasanya melakukan hal romantis seperti yang dilakukan Sabina. Tapi, Arini ingat akan rencananya tadi.


Fa'i menatap Arini yang seolah sibuk dengan ponsel ditanganya membuka halaman web yang berisi seputar kehamilan.


" Kamu masih marah pada mas, sayang.?" tanya Fa'i duduk disamping Arini yang masih asik dengan ponselnya.


" Nggak, cuma masih malas aja berbicara pada kamu." Jawab Arini sedikit ketus. Meski tak tega melihat mimik wajah suaminya seketika berubah sendu. Kepalanya tertuduk lesu.


" Mungkin Arini butuh waktu. " batin Fa'i menyenangkan hatinya sendiri.


Tapi, Arini benar - benar ingin melihat usaha suaminya untuk membujuknya. Karena selama ini Arini selalu dengan mudah memaafkan dan memaklumi segala kesalahan suaminya.


Meski ini salah dan berdosa. Tapi, untuk kali ini saja Arini ingin sedikit menjahili suaminya bersandiwara sedikit untuk melihat kesungguhan seorang Fa'i untuk meluluhkan hatinya.


" Maaf yaa mas, ini gak akan lama kok. Semoga kamu gak akan marah yaa..."


Sungguh pemandangan yang indah maha besar Allah menciptakan wajah yang begitu rupawan itu.


" Kalau aku didekat mas Fa'i terus aku bisa cepat meleleh seperti biasanya." Batin Arini lalu beranjak pergi meninggalkan suaminya yang masih menikmati jus alpukat favoridnya itu. Sementara Imam dan Sabina sudah pergi dari sana sejak tadi.


Fa'i hanya melihat Arini pergi dari sana, menatap punggung Arini hingga hilang dibalik pintu masuk.


...............


" Kenapa Arini masih bersikap dingin padaku, apa hatinya begitu terluka. Atau karena pengaruh hormon kehamilan dalam tubuhnya sehingga sikapnya seperti itu."


batin Fa'i ketika malam itu dikamar sendirian. Entah kemana Arini dan Sabina yang sepertinya bersembunyi untuk membicarakan sesuatu. Dasar ibu - ibu hamil aneh - aneh aja sikap dan kelakuannya.


Tak lama sebuah pesan dari seseorang membuatnya tersenyum. Entah dari siapa dan apa isi pesan itu hingga membuat wajah Fa'i berubah senang. Lalu membaringkan dirinya ditempat tidur sambil menatap langit - langit kamarnya.


Perlahan Fa'i memejamkan matanya karena rasa kantuk yang menghampirinya. Namun, rasa kantuknya seketika hilang kala pintu kamarnya dibuka seseorang dari luar.


Klekkkk

__ADS_1


Suara pintu itu, lalu terlihat Arini masuk kedalam. Fa'i pun lantas bangkit dari tidurnya menghampiri sang istri yang langsung melepaskan hijabnya dan duduk di depan meja rias. Menyisir rambut panjangnya lalu mencemol hingga keatas dan menampakkan leher jenjangnya itu.


" Sudah mas bilang, saat kita hanya berdua seperti ini untuk membiarkan rambutmu terurai saja. Mas suka seperti ini." ujar Fa'i merundukan badannya mensejajarkan kepalanya dengan istrinya menatapnya melalui pantulan cermin dan melepas jepit rambut Arini membiarkan rambut itu tergerai indah.


Arini tak menanggapi hanya wajah datar yang ditampilkan wajah cantiknya. Meski sejujurnya hatinya menghanggat atas perlakuan suaminya itu.


" Apa yang harus mas lakukan untuk mendapatkan maaf dan senyummu lagi." tanya Fa'i sambil membantu Arini menyisir rambutnya itu.


" Apa mas yakin, mas bisa memenuhi segala permintaanku."


" Mas yakin, apapun akan mas lakukan untukmu !"


" Oke, kalau gitu aku mau mas _ ."


" Kamu mau mas, nemenin kamu pulang kampung ziarah kemakam ibu, bapak dan mbak Ani kan..."


sahut Fa'i memotong kata - kata Arini dan Arini kaget mendengar perkataan suaminya.


Pasalnya itu adalah syarat yang akan diajukan olehnya meski belum semuanya. Arini melonggo tak percaya dari mana mas Fa'i tahu.


" Kamu pasti kaget kan Rin aku tahu apa yang kamu rencanakan sebenarnya. Terima kasih Bin ,Mam karena kalian telah memberitahuku semuanya."


Gumah Fa'i dalam hati sambil menatap puas wajah pias Arini yang kaget dan tak percaya itu.


Rencana untuk menggoda dan menjaili sang suami pun gagal, kini malah Arini yang terjebak didalam rencananya sendiri.


" Dari mana mas Fa'i tahu salah satu syarat yang akan aku ajukan pasti sabina niieh.. Rencana mau jailin suami malah kena sendiri gini sih.!" Gumah Arini dalam hati. Lalu bangkit dari duduknya berjalan menuju almari dan berpura -pura tak peduli dengan apa yang suaminya katakan.


" Kamu juga punya syarat yang lain kan, seperti mas harus mengatakan mas mencintai kamu setiap saat. Juga kamu mau mas berjanji untuk mencintai kamu selamanya dan hanya kamu yang ada dihati mas kan."


Seketika mata Arini membelalak dan berbalik pada suaminya. Wajahnya semakin pias rasa bersalah seketika menyeliputi hatinya.


" Mungkin Allah, tidak mengizinkan ku menjahili mas Fa'i. Apa niatku ini termasuk dosa besar dan durhaka pada suamiku. Yaa, Allah ampuni hambamu ini." batin Arini dengan polosnya. Tanpa tahu yang sebenarnya terjadi.


Maaf yaa baru bisa up lagi niieh, siautornya lagi sok sibuk nii.


Terima kasih sudah mampir jangan lupa buat kasih vote yaa. Biar siautor lebih semangat lagi.


Ooyaa jaga kesehatan dan kebersihan. Ayo semangan Social Dustacing agar terhindar dari corona covid 19.

__ADS_1


Jangan lupa bahagia semua..


__ADS_2