Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
80. Tak enak hati.


__ADS_3

Siang itu seperti yang sudah disepakati kemarin. Arini yang memang datang terlebih dahulu merasa gelisah lantaran Imam tak jadi menjemputnya. Imam memberitahunya akan datang terlambat karena masih ada beberapa pasien dirumah sakit.


Entah mengapa Arini sangat gelisah jika membayangkan tanggapan dari Andi dan Firman nantinya. Arini memang sengaja membuat janji pada mereka berdua, secara bersamaan.


Disalah satu restoran yang sudah cukup sepi, karena memang sudah lewat jam makan siang. Arini menunggu ketiga laki - laki itu dengan perasaan campur aduk.


Takut, sedih dan bahagia menjadi satu.


" Assalamualaikum, Rin!" sapa Firman yang datang duluan.


Laki - laki sholeh yang memang selalu amanah dengan janjinya. Seperti biasa dia begitu sopan dan lembut dalam berbicara. Harus diakui, dia adalah sosok paling idaman untuk dijadikan suami yang mampu membimbing sampai kersurga.


Namun, hatilah yang memilih. Lagi pula jodoh adalah rahasia Allah. Manusia hanya menjalani dan berusaha menjadi manusia lebih baik.


Begitupun dengan Arini dan Imam. Tak ada manusia yang sempurna. Kelak mereka akan belajar dan berjuang selalu dijalan yang diridhoi Allah. Menjadi insan yang layak menjadi penghuni surga.


" Walaikumsalam." jawab Arini dengan tersenyum, menatap Firman sekilas lalu menunduk lagi.


" Maaf menunggu lama!" ujar Firman yang hanya dijawab sebuah senyuman oleh Arini.


Belum Firman duduk, Andi pun datang dengan membawa sebuah buket bunga Anggrek warna putih dan ungu.


Laki - laki yang selalu tampil rapi dan menawan dengan setelan formalnya. Manly dan elegan.


" Assalamualaikum, Rin. Maaf saya terlambat!" kata Andi yang belum menyadari keberadaan Firman disana.


" Walaikum salam, " jawab Arini dan Firman bersamaan.


Mendengar suara laki - laki, Andi lantas menoleh kesamping kiri. Kaget, sudah pasti. Andi tak menyangka jika Arini sudah mengenal Firman.


" Firman,?" kata Andi, mengrenyit menatap Firman penuh tanya.


" Apa kabar, Ndi.?" tanya Firman tersenyum, mengulurkan tangannya pada Andi.


" Baik, kenapa kamu disini.?" Andi menjabat tangan Firman.


" Arini yang mengundangku, kamu sendiri.?"


" Aku juga ada janji dengan Arini.!"


Dua orang itu langsung menoleh pada Arini yang masih duduk disana dengan perasaan gelisah tak menentu. Tetapi, sebisa mungkin Arini bersikap tenang, tak menampakkan kegelisahannya. Andi yang masih bingung pun memberikan bunga yang dibawanya pada Arini, dengan percaya diri.


" Maaf, saya memang sengaja mengundang Mas Firman dan Pak Andi. Karena walau bagaimana pun keputusan saya ini akan menyangkut tali silaturahmi kita kedepannya." kata Arini, setelah mereka berdua duduk didepan Arini.


" Tunggu, apa maksud kamu Firman juga melamar kamu.?" Selak Andi.

__ADS_1


Arini mengangguk dan membenarkannya. Sementara Firman masih nampak tenang seperi biasanya. Sementara Andi menghela nafas, gusar. Seketika kepercayaan dirinya meredup. Mengingat bagaimana sosok Firman yang sangat cocok dengan kepribadian Arini.


" Maaf, pak Andi dan Mas Firman. Saya tidak bisa menerima salah satu lamaran kalian berdua.!" kata Arini dengan segala keberaniannya.


Andi pun dibuat kaget bukan main, sementara Firman nampak biasa saja karena sudah bisa menebaknya sedari tadi.


" Kamu serius, ?" tanya Andi kecewa.


" Maaf, saya sudah memantapkan hati saya pada seseorang!" jawab Arini menunduk, tak enak hati dalam keadaan seperti ini.


" Siapa dia?" sentak Andi semakin kecewa.


Belum sempat Arini menjawab, suara Imam yang datang dengan nafas ngos - ngosan karena setengah berlari itu.


" Asalamualaikum. Maaf, saya terlambat.!"


Setelah menjawab salam. Ketiga orang itu pun menoleh pada Imam yang kini sudah berdiri disamping kiri meja itu. Andi dan Firman pun semakin penasaran dengan semua ini.


" Apa Imam juga melamar kamu, Rin.?" kini Firman yang bertanya dengan tenang. Sementara Andi menatap tajam pada Imam yang duduk disebelah kiri Arini.


" Iya, mas. Dan saya sudah memutuskan untuk menerima lamaran mas Imam. Maafkan saya.!"


Andi mengepalkan tangannya, mendengar penuturan Arini. Dirinya tidak terima dengan penolakan itu.


" Arini, kamu tidak ingat. Dia yang telah menyebabkan alm. Fa'i dan anak kamu meninggal. Kamu masih ingat itu kan, Rin!" sentak Andi sambil menunjuk wajah Imam.


" Andi, tak bisa kah kau tidak mengungkit masalah itu. Lagi pula itu adalah urusan ku dengan Arini. Bukan urusan kamu. !" sahut Imam yang mulai terpancing emosinya.


" Sudah, cukup.! Pak Andi saya mohon maafkan saya. Dan tolong hargai keputusan saya. !" selak Arini lalu memberikan kotak cincin berwarna biru pemberian Andi beberapa hari yang lalu.


Dengan penuh amarah dan kecewa, Andi pergi meninggalkan meja itu. Mengambil kotak cincin itu, tanpa memberikan salam atau pun berkata sepatah kata pun lagi.


Arini menoleh pada Firman yang masih nampak tenang disana. Dengan wajah yang masih tersenyum itu.


" Maafkan saya, mas Firman.!" kata Arini menunduk.


" Heeh, kenapa harus minta maaf. Bukan salah kamu, Rin. Jodoh kita ditangan Allah. Jadi kamu memilih Imam pasti semua sudah diatur olehNya.!" jawab Firman.


Bagaimana pun Firman juga hanya manusia biasa, yang sudah pasti merasa kecewa karena apa yang terjadi tak sesuai harapannya.


Setelah mengucapkan selamat untuk Imam dan Arini. Firman pun meninggalkan mereka berdua dengan berbesar hati. Tak ada yang sia - sia didunia ini. Baginya mungkin Allah memang menunjukan bahwa Arini bukanlah yang terbaik untuknya, atau sebaliknya.


" Hee, kenapa? Masih mikirin Andi. Yaa?" tanya Imam yang memperhatikan Arini sedari tadi hanya diam.


Arini menggeleng, lalu kembali fokus pada makanan didepannya.

__ADS_1


" Mau berubah pikiran.?" tanya Imam bermaksud menggodanya .


" Apaan sih, mas.! Memang Ikhlas aku sama pak Andi.?"


" Rin, kalaupun kamu menolak aku. Aku akan lebih ikhlas kalau kamu tidak bersama Andi.!" jawab Imam serius.


Arini mengrenyit,


" Aku tahu bagaimana Andi. Dibalik sifatnya yang humoris itu. Andi seorang yang ambisius. Aku takut setelah ini dia akan bertindak hal yang berbahaya padamu, Rin.!"


" Mas, apapun yang terjadi. Aku bakal tetap bertahan kok.!" sahut Arini tersenyum.


Imam merasa sangat bahagia, tak lama lagi Arini akan menjadi miliknya seutuhnya.


" Mas, masih belum muhrim. Jangan ngeliatin aku kaya gitu, Ahh.!" celetuk Arini setelah beberapa saat hening, Tapi, Imam menatap intens Arini yang masih sibuk menghabiskan makanannya. Sampai membuat Arini rada risih, malu lebih tepatnya.


" Yaa, udah ke KUA yuuk.! Biar cepat halal.!" timpal Imam, terkekeh.


Arini membulatkan matanya, kaget dengan candaan Imam yang sepontan dan blak - blakan.


" Mas Imam paling bisa yaa, buat hatiku gak karuan gini. Seneng banget sih bikin aku salah tingkah.!"


Imam tertawa, lalu mengeluarkan kotak cincin dari kaca itu. Menyodorkan pada Arini.


" Itu adalah cincin yang waktu itu aku janjikan. Persis seperti difoto yang aku pakai untuk melamar kamu."


Dengan ragu Arini membukanya, dan benar saja cincinnya sama persis.


" Terima kasih , yaa mas.!" kata Arini dengan mata berbinar dan senyum merekah sangat cantik.


" Aduh, calon istriku jangan tersenyum kaya gitu yaa!" celetuk Imam yang tergoda oleh senyum manis Arini.


" Kenapa.?" tanya Arini sambil memakai cincin itu dijari manisnya. Lalu menggerlingkan matanya menggoda Imam.


" Huuh, aku bawa ke KUA sekarang juga nii, kamunya.!"


Tawa Arini pun pecah, melihat Imam yang menggerutu.


" Siapa takut.!" tantang Arini.


Imam pun semakin gemas pada Arini. Imam pun senang dengan sisi lain dari Arini. Ternyata pujaannya itu tidak sependiam dan sepemalu dulu. Bahkan Arini terlampau menggemaskan baginya.


Terima kasih sudah mampir.


Semoga suka yaa.!

__ADS_1


Sehat selalu semua.


__ADS_2