
Disebuah ruangan sebuah perusahaannya, Andi terlihat sangat marah. Setelah mendengar rencana pernikahan Arini dan Imam.
Apalagi pesan Imam yang memintanya datang pada acara itu, semakin membuat Andi murka. Pasalnya Arini dan Imam memang tak mencetak undangan. Apalagi mengundang orang yang tak terlalu dekat dengan mereka.
" Arini kamu gak boleh jadi milik Imam. Kamu miliku Rin, hanya milikku.!" Batin Andi mengepalkan jari - jarinya hingga memutih, saking kuatnya.
Lalu diambilnya ponsel yang tergeletak dimeja itu. Menghubungi seseorang yang entah siapa.?
" Lakukan perintahku sekarang juga.!" kata Andi pada seseorang disebrang sana. Lalu tersenyum mengerikan, setelah memutuskan telfonnya itu.
Tunggu saja, Imam. Aku akan membuat kamu kehilangan orang yang kamu cintai. Gara - gara kamu dulu rumah tanggaku berantakan. Sekarang kamu bahagia karena mendapatkan Arini. Jangan mimpi kamu, Imam.
Entah dendam apa yang sebenarnya disimpan Andi pada Imam. Sedangkan mereka sudah bersahabat sejak lama. Siapa sangka ternyata Andi begitu membenci Imam.?
Siang itu seperti biasa dijemput oleh pak Dul ketika pulang sekolah. Tak seperti biasanya hari ini mereka diikuti oleh sebuah mobil berwarna hitam yang telah terparkir sejak tadi pagi didepan sekolah.
Awalnya pak Dul merasa curiga, tapi dia menepis semua pikiran negatifnya. Toh, keluarga Imam adalah bukan keluarga konglomerat, namun juga tak bisa dibilang keluarga sederhana.
Tidak mungkin, keluarga pak Imam adalah keluarga baik dan cukup taat. Tidak mungkin mereka memiliki musuh. batin Pak Dul.
Mobil melaju, dengan kecepatan sedang. Aisya pun nampak anteng duduk dibelakang. Namun, ketika dijalanan yang cukup sepi. Mobil yang sedari tadi mengikuti mereka melesat dengan cepat, menggiring pak Dul supaya memepikan mobilnya. Dan mobil yang sedari tadi mengikuti pun berhenti tepat didepan mobil yang dikendarai pak Dul.
Belum sempat mengatakan apapun, dua orang bertopeng keluar dari mobil itu.
" Pak, siapa mereka? Aisya takut.?" pelan Aisya yang mulai ketakutan karena kedua orang itu mengedor pintu mobil mereka.
" Cepat keluar, !" bentak salah satu dari mereka. Karena memang pintu mobil dikunci oleh Pak Dul.
Dengan terpaksa Pak Dul keluar dan menyuruh Aisya tetap didalam.
Bugg,
satu bogem mentah langsung dilanyangkan kewajah pak Dul. Laki - laki paruh baya itu pun tersungkur kejalanan beraspal.
Sedang satu orang membuka pintu belakang mobil itu. Menarik keluar Aisya, lalu dengan cepat menggendong gadis kecil itu masuk kedalam mobil mereka.
" Lepaskan, lepaskan Om.!" kata Aisya memukul - mukul penculik itu. Tapi, kekuatan Aisya tak ada apa - apanya.
" Tolong, Tolong.!" teriak Aisya.
Mobil itu melaju meninggalkan pak Dul yang masih tersungkur diaspal karena mendapat pukulan beberapa kali dan tendangan oleh penculik itu.
__ADS_1
Dengan susah payah, Pak Dul berdiri. Lalu mengambil ponsel di kantong celananya. Untuk menghubungi Imam.
" Assalamualaikum, pak Dul!" sapa Imam dengan ramah.
" Walakkum salam, Pak Imam. Dek Aisya pak!" kata Pak Dul terbata karena menahan sakit diperut dan sudut bibirnya.
" Aisya, kenapa. Pak?" tanya Imam yang langsung cemas.
" Dek Aisya diculik, pak!" sahut pak Dul dengan rasa takut sesungguhnya.
Deg, hati Imam serasa dihantam batu besar. Cemas, marah, takut bercampur menjadi satu. Hatinya kebas, bingung antara percaya ataupun tidak pada berita itu.
***
Hati Imam benar - benar dibuat tak tenang memikirkan keadaan Aisya. Pak Dul yang telah pulang pun, sudah menceritakan semuanya pada Imam dan orang tuanya.
Drett, Drettt, Drettt..
Suara getaran ponsel Imam, membuyarkan pikirannya yang menerawang, memikirkan cara menemukan Aisya.
" Andi," batin Imam melihat nama kontak yang muncul pada layar ponselnya.
" Assalamualaikum, An.!" sapa Imam tanpa rasa curiga. Sambil menjauh dari orang tuanya juga Arini.
" Dari mana kamu tahu.?"sahut Imam cepat. Sambil menoleh pada Arini yang sedang menenagkan sang ibu.
" Hhhhhh, jika kamu ingin putri kesayangamu selamat,. Jangan coba - coba lapor polisi dan apalagi memberitahu Arini kalau aku yang menculik anak kamu.!"
Deg,
Untuk sekali lagi hatinya serasa dihantam batu besar yang meremukkan. Pada kenyataannya Andi sahabatnya lah yang telah melakukan semua itu.
" Apa mau mu?" sentak Imam mulai emosi.
Arini yang memperhatikannya dari tadi pun. Cukup kaget, karena baru kali ini melihat calon suaminya itu terlihat murka. Wajahnya memerah saking menahan diri agar tak meledak.
" Hhahhhaa, mudah saja Imam, sahabatku.! Batalkan pernikahanmu dengan Arini, serahkan dia padaku.!"
Amarah Imam semakin menjadi, setelah mendengar permintaan Andi.
" Apa maksud kamu? Gila kamu, Ndi!"
__ADS_1
" Yaa, aku memang gila. Aku tergila - gila pada Arini. Apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan Arini. Lagi pula sadarlah Mam. Kamu tidak pantas untuk Arini.!"
Imam mengepalkan jari - jarinya sangat kuat hingga buku - buku jarinya terlihat memutih. Rahangnya memgeras menahan emosi yang siap meledak.
" Pilih Aisya atau Arini. Semua ada ditanganmu. Jika kau pilih Arini, siap - siap kamu kehilangan putri kamu. Dan aku pastikan kamu tidak akan pernah melihat, sekalipun hanya jasadnya.!" Ancam Andi.
Imam, menatap pada Arini penuh keraguan. Hatinya benar - benar kebas, seolah mati rasa. Dua orang yang berarti untuk hidupnya. Memilih salah satunya, tak akan mungkin bisa. Aisya sudah menjadi bagian terpenting dalam hatinya. Begitu juga Arini, dia adalah sosok terpenting yang hadir dalam hidupnya saat ini.
***
" Mas, " panggil Arini yang mendekati Imam disalah satu sudut rumah yang nampak sepi itu.
Imam pun menoleh pada sosok yang sangat dicintainya. Raut wajahnya nampak gelisah dan bingung.
Imam menatap nanar pada Arini. Sungguh berat pilihan yang harus segera dia ambil. Hidup memang sebuah pilihan, tapi sebegitu sulitkah pilihan yang harus dia ambil dan jalani.
" Apa yang menelfon tadi, orang yang menculik Aisya.?" tanya Arini yang kini tengah duduk disamping kiri calon suaminya itu.
Imam mengangguk, ingin rasanya memeluknya. Meminta kekuatan dan dukungan pada Arini. Tapi, tak bisa selain belum muhrim, Imam juga tak akan bisa mengatakan bahwa Andi yang telah menculik Aisya.
Imam tak mungkin membiarkan Aisya celaka. Dia tak ingin kehilangan harta paling berharga dalam hidupnya. Apalagi tak menjaga amanah dari Allah. Aisya adalah amahan terbesar dalam hidupnya. Tak rela jika harus berbuat dosa karenanya.
Begitu juga Arini, Imam juga tak rela apalagi membiarkan Arini bersama dengan Andi. Sudah pernah dikatakan, dirinya tak akan ikhlas jika Arini menikah dengan Andi.
" Arini, maaf. Kita harus membatalkan pernikahan kita.!" kata Imam dengan suara bergetar. Tak kuasa menahan gejolak dihatinya.
Hati Arini serasa ditusuk duri, dalam dan menyakitkan. Ditatanya mata Imam dengan nanar. Kilatan kekecewaan terlihat jelas disana. Bibirnya kelu untuk menyangkal semuanya. Tanpa dirasa airmatanya mulai menetes dipipinya.
" Maafkan mas,Rin. Bukannya mas tak mencintai kamu dan tak ingin menikahmu. Tapi, demi keselamatan Aisya. Aku tak bisa memilih Rin. Sungguh ini sangat sulit.!"
Arini sangat bingung dengan maksud dari perkataan Imam. Apalagi melihat calon suaminya itu mulai menitikan air mata.
" Menikahlah dengan, Firman. Demi kebaikan kamu dan keselamatan Aisya putriku.!"
Terima kasih semua, semoga suka yaa.!
Hayoo, Arini bakalan nikah sama siapa yaa? Imam atau Firman.? Yang pasti bukan Andi yaa? Tunggu kejutan dari Author. Hhhhh.
Yang mau marah - marah silahkan! 😁😁😁.
Ini bakalan jadi konflik terakhir untuk menuju ending.
__ADS_1
Sehat selalu semua.