Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
51. Jeritan hati Imam.


__ADS_3

Arini mengusap lembut lengan suaminya. Dia tahu bagaimana perasaan suaminya. Bagaimana pun, kejadian itu bukan sepenuhnya salah Fa'i. Dirinya hanyalah dokter bedah yang mendampingi dokter Rahma saat operasi itu berlangsung.


SC itu sejatinya memang bukanlah tugasnya. Tapi, Fa'i tak bisa begitu saja diam melihat sang adik menjalani. Walau hanya mendampingi dokter Rahma. Tapi setidaknya dirinya bisa memastikan keadaan saudarinya itu.


Namun, perasaan bersalah menyaksikan nyawa adiknya melayang bukanlah hal mudah dilupakan. Terlepas dari itu, sebagai dokter bukankah harus berusaha untuk menyelamatkan nyawa pasiennya.


" Aku tahu, mas sudah berusaha. Tapi, bukankah semua usaha yang kita lakukan hanya Allah lah akan menentukan. Semua sudah berlalu, mas harus melupakan dan iklas. Bukankah ketakutan mas hanya membayangkan jika apa yang dialami Sabina juga terjadi padaku.!"


Fa'i menghela nafas pelan, berusaha mangendalikan dirinya agar luapan rasa bersalahnya teredam. Hingga tak ada lagi air mata yang akan menetes dan membuatnya lemah.


Toh, sekarang kekhawatiranya itu telah berlalu. Arini melahirkan secara normal, tak ada halangan apapun. Semua ketakutan yang tak mendasar itu telah berlalu. Anak dan istrinya baik - baik saja.


" Aku senang mas begitu perduli dan khawatir pada kami. Tapi, bukankah segala sesuatunya adalah milik Allah dan pasti akan kembali padaNya." Sambung Arini menghapus cairan bening disudut mata suaminya.


" Terima kasih yaa, Rin. "


" Mas, kita boleh kehilangan sesuatu karena Allah. Tapi, jangan pernah kita kehilangan Allah karena sesuatu. Kedepannya kita pasti akan ditinggalkan oleh orang - orang yang kita sayangi. Atau bahkan kita yang akan meninggalkan mereka terlebih dahulu. Itu semua pasti dan akan terjadi. bukan begitu mas."


Arini tersenyum menatap wajah sang suami. Kini dibalik matanya tak ada lagi beban yang memenuhi benaknya, beberapa bulan belakangan.


Fa'i menarik Arini dalam pelukanya. Mencium kepala Arini berkali - kali. Rasa lega dan bersyukur atas nikmat Allah yang maha besar, karena telah mengirimkan satu bidadarinya untuk menjadi istrinya.


Terima kasih Yaa, Allah. Karena kau kirimkan wanita solehah ini untuk hambamu yang hina ini. Ijinkan hambamu terus bersamanya hingga maut memisahkan. Dan persatukan lagi kami berdua kelak disurgaMu.


" Mas sekarang sudah lega dan ketakutan yang selama ini membayangi mas, telah hilang. Mas bersyukur punya istri salehah seperti kamu, sayang." tutur Fa'i mengecup kening Arini.


Arini tersenyum setelahnya, tapi dalam benaknya kini merasa iri dengan Sabina. Bukan iri yang bagaimana, hanya saja kebaikan apa yang dilakukan Sabina hingga didunia dia mendapatkan segalanya, dan Allah memanggilnya dengan cara yang luar biasa istimewa.


Ditempat lain, dirooftop rumah sakit. Imam meluapkan segala kesedihannya disana. Menangis sejadi - jadinya. Kenangan tentang alm. Sabina menguras seluruh emosi dihatinya.

__ADS_1


Sejujurnya Imam begitu hancur akan kepergian istri tercintanya. Kenangan indah yang telah dilalui bertahun - tahun ikut terkubur bersama jasadnya.


Flasback On


Beberapa hari *sebelum kepergian Sabina.


Malam itu Imam dan Sabina tengah memadu kasih berdua, dalam balutan cinta yang menggelora didada.


" Mas, boleh tidak aku meminta satu hal dari kamu." lirih Sabina yang masih ingin bergelayut manja dipelukan suaminya. Menenggelamkan wajahnya didada bidangnya.


" Jangankan satu hal, apa pun itu selama tak menyalahi dari aturan agama, Mas akan penuhi semuanya."


" Seandainya nanti, aku tidak bisa bertahan. Aku mohon, mas akan mencari penggantiku yang benar - banar tulus mencintai putri kita. Dai ha_"


Imam pun kaget langsung menegakkan posisi duduknya yang semula bersandar pada headboard tempat tidurnya.


" Kan tadi aku bilang seandainya kan mas. Gitu aja marah.!"


" Yaa gimana mas gak marah coba. Kamu ngomong kaya gitu."


Sabina hanya terkekeh, melihat raut wajah suaminya yang mendadak berubah gusar.


" Iya, aku minta maaf yaa." ucap Sabina mengecup pipi kiri suaminya sekilas.


" Sudah, senyum donk Mas.!" Sambung Sabina menangkup wajah Imam lalu menghadapkan wajah itu padanya.


Seketika senyum itu memgembang menghiasi wajah mereka berdua. Perlahan Imam menurunkan tangan Sabina untuk digenggam dan meletakkan didadanya, tepat dijantungnya.


" Detak jantung ini hanya hidup untuk kamu sayang." Lirih Imam menatap intens manik mata coklat Sabina yang teduh.

__ADS_1


" Jangan pernah lagi kamu bicara seperti itu. Mas gak akan sanggup hidup tanpa kamu Bin.!" sambung Imam tegas.


" Tapi, mas dengerin aku dulu. Seandainya ini hanya seandainya suamiku sayang. Akubtak mampu bertahan, Mas gak perlu cemas putri kita tidak akan kekurangan kasih sayang seorang ibu. Ada Arini yang akan menyayangi putri kita, seperti dia menyanyangi putrinya sendiri. "


Imam kembali menampakan wajah marahnya. Guratan rahang yang mengeras menampakan emosi yang benar - benar ditahannya.


Dia tak habis pikir, mengapa Sabina selalu tiba - tiba berbicara seperti itu. Apakah seorang ibu hamil yang tengah menanti persalinan memang berfikir seperti itu.


Flash back Off*.


" Yaa, Allah berikan hamba kekuatan untuk menghadapi segala ujianmu. Mengapa semakin hari rasa kehilangan ini malah semakin menjadi. Mengapa waktu itu aku dan sabina tak memiliki kesempatan untuk merasakan kebahagiaan seperti halnya Fa'i dan Arini." Teriak Imam mengeluarkan seluruh isi hatinya.


Terkadang Imam masih tenggelam dalam kesedihanya. Rasa cintanya yang begitu besar membuat dirinya lemah tak berdaya, hidup tanpa Sabina.


Imam memang terlihat tegar didepan orang lain. Tapi, saat sendiri dia akan menagisi Sabina entah itu saat termenung, ataupun saat larut dalam doa pada sang Ilahi robby.


" Karena kamu belum ikhlas menerima kepergian Sabina."


Teriak seseorang yang datang dan mendengar jeritan hati Imam. Suara itu terdengar tak asing ditelinga Imam.


Imam yang kaget langsung memghapus air matanya. Menarik nafas dalam untuk menetralkan emosi dalam dadanya, sebelum berbalik melihat seseorang yang bisa ditebaknya itu.


***Maaf yaa baru bisa up nii.


Jangan lupa like, comment dan Vote yaa.


Oyaa, sekalian mampir dinovel ku yang lain yuuk. " Ooohh Captain Krisna."


Ceritanya cukup berbeda ringan dan lebih santai dalam bahasa kok. Selamat menbaca yaa. Terima kasih***.

__ADS_1


__ADS_2