Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
53. Sebuah rasa dihati Imam


__ADS_3

Pagi itu Arini telah diperbolehkan pulang bersama buah hatinya. Kebahagiaan itu terlihat jelas diwajah pasangan orang tua baru yang masih perlu banyak belajar menjadi orang tua yang baik.


Kedatangan baby AL dirumah telah dinanti oleh Umi, Abi dan mbak Amira sekeluarga. Mereka sangat antusias menyambut anggota baru keluarga Hadi Assalam. Terlebih untuk Umi dan Abi, baby AL adalah cucu laki - laki pertama untuk mereka.


Begitupun dengan Imam dan Aisya yang datang selang beberapa menit setelah mereka sampai rumah.


" Aisya cantik, bunda kangen sama kamu sayang. " ujar Arini yang langsung mengambil Aisya dari gendongan pengasuhnya.


Seperti halnya Arini, Aisya juga merindukan dekapan hangat bunda Arini. Terbukti bayi cantik itu langsung berceloteh ria dengan senyum yang menggemaskan.


Imam sempat terpukau melihat ketulusan Arini menyayangi putri semata wayangnya. Entah mengapa hatinya terasa hangat dibuatnya.


" Pantas saja, Alvin dan Andi juga sempat jatuh hati padamu Rin."


Lalu sebuah tepukan dipundak kiri menyadarkan lamunannya. Mengerjapkan matanya, Imam menoleh pada seseorang disebelahnya.


" Kenapa lagi.? Liat Arini dan Aisya membuat kamu ingat Sabina." tanya Fa'i.


" Bukan begitu, hanya saja aku bersyukur Aisya begitu nyaman didekat Arini. " Bohong, Imam sedikit berbohong dengan suatu hal yang tengah dirasakan hatinya.


" Ada apa dengan hatiku, Ingat Mam dia istri sahabatmu. Jangan biarkan aku jatuh cinta pada Arini yaa Rabb. Astaqfirullahalazim."


Harus diakui, sosok Arini yang lembut mampu membuat setiap laki - laki jatuh hati padanya dalam sekejab.


Padahal disini dia hanya mengenal beberapa laki - laki. Tapi, Alvin, Andi dan suaminya yang dulu tak menginginkan sekarang bertekuk lutut dihadapannya. Bahkan kini seorang Imam yang bertahun - tahun setia pada Sabina, dengan mudahnya Arini mengalihkan dunianya setelah kepergian istri tercintanya.


Entah apa yang membuat sosok Arini begitu istrimewa, selain kelembutan hatinya. Dirinya hanyalah wanita biasa yang jauh dari kata sempurna.


Setelah Fa'i pergi entah kemana.? Imam, lantas mengeluarkan ponselnya. Mengambil foto Aisya dan Arini secara candid.


" Cantik." satu kata yang keluar dari mulutnya. Entah ditunjukkan kepada Aisya ataukah Arini.


Setelah jam makan siang, Imam bergegas kerumah sakit. Karena tadi dirinya meminta ijin untuk visit setelah makan siang.


Sementara Aisya ditinggalkan dirumah keluarga alm. Istrinya.


Wajah dan senyum seorang dokter Imam yang dulu terkenal dengan keramahanya telah kembali seutuhnya.


Sesekali Imam memandang foto yang telah diambilnya tadi. Menatap foto yang tiba - tiba membuat hatinya berdesir.

__ADS_1


Seulas senyuman terukir dibibir merahnya. Seolah dengan menatap foto itu saja, membuat hatinya menghangat.


" Apa yang kamu pikirkan Mam, ingatlah jangan berlebihan. Kamu tidaklah pantas jatuh cinta pada istri sahabatmu."


Imam mengacak rambutnya frustasi setelah tersadar dari kegilaanya memandangi potret Arini dilayar ponselnya.


" Tidak - tidak. Aku pasti hanya mengagumi dia saja. Aku masih waras untuk tidak membiarkan diriku jatuh cinta padanya."


Imam menyakinkan dirinya dan perasaan dihatinya. Ini semua salah, perasaan apapun untuk Arini tidak boleh dia biarkan tumbuh dihatinya.


Sebelum semua semakin jauh, Imam telah bertekat untuk menutup hatinya rapat - rapat.


" Aku harus hapus foto ini. Yaa, harus."


Tapi begitu akan menyentuh " Delete ", Imam kembali ragu dan sayang menghapus foto yang menampakan senyum Aisya putri kecilnya.


Dirumah keluraga Fa'i senang melihat Arini yang begitu bahagia. Seolah Arini tak ingin berpisah dengan Aisya dan AL. Kasih sayang yang dia curahkan pada dua bayi mungil beda usia 4 bulan itu begitu tulus adanya.


" Sayang, sebaiknya kamu istirahat. Kamu masih harus banyak istirahat untuk memulihkan kondisi kamu. Masa nifas kamu juga masih rentan dengan komplikasi."


Arini hanya tersenyum sambil menidurkan Aisya ditempat tidurnya. Sedang baby AL telah pulas terlebih dahulu setelah puas minum ASI dari sang bunda Arini.


" Ehhmt, mas pasti bakalan jadi prioritas kedua setelah mereka, pasti." sidir Fa'i yang duduk disofa kamarnya sambil terus menatap istrinya.


Fa'i mengedikan bahunya. Lalu mendekat pada Arini. Menarik pinggangnya agar merapat pada dirinya.


Arini membulatkan bola matanya, pura - pura mendelik kesal. Lantas melayangkan pukulan ringan pada dada kiri suaminya.


" Kamu cantik sekali, Rin.!"


Mendengar pujian itu, hati Arini kembali berdesir. Tubuhnya seakan membeku, lidahnya kelu hanya untuk sekedar melayangkan protes akan sikap dan sentuhan suaminya itu.


" Tenanglah mas hanya ingin. Mengisi energi dalam diri mas. Mas lelah sayang, kamu tahukan keadaan mas beberapa bulan ini."


Arini kemudian tersenyum, mengusap lembut pipi kiri suaminya. Merasa gayung bersambut, Fa'i lantas melepas hijab Arini.


Fa'i memeluk Arini dari belakang, membenamkan wajahnya diceruk leher Arini. Menghirup wangi buah jeruk yang menguar dari tubuh Arini.


Mungkin itulah yang dibutuhkan Fa'i, sebuah kenyamanan. Ketenangan dari hangatnya cinta sang istri.

__ADS_1


" Mas, bagaimana kalau kita jodohkan mas Imam dengan mbak Diana. ?" Ujar Arini yang masih membiarkan Fa'i dalam posisinya tadi.


" Tidak mungkin sayang, Diana sudah kembali ke Paris dan menetap disana. "


Arini pun berO ria. Tidak tahu harus menjawab apa. Karena sejak kesalahfahaman waktu itu, mereka tak pernah membahas tentang Diana.


" Mas "


" Hhmm "


" Aku jadi kasihan sama mas Imam, "


" Sudahlah jangan membahas dia lagi. Aku cemburu."


Arini terkekeh mendengar jawaban suaminya yang dia tahu hanya sebuah candaan. Sebab suaminya sedang menikmati apa yang dia rasakan saat ini, tanpa ingin diganggu oleh apapun dan siapapun.


Allahhu Akbar - Allahhu Akbar.


Seruan cinta Allah telah memanggil, mau tidak mau Fa'i harus menyudahi bermanja - manja pada sang istri.


Dengan perasaan yang benar - benat dalam mood yang baik. Fa'i bergegas mengambil wudhu. Kemudian kemasjid untuk menjalankan sholat Ashar.


Baju koko warna abu, sarung dan peci warna hitam, membuat Fa'i terlihat sangat rupawan. Penampilan seperti itulah yang sangat disukai Arini dari suaminya.


" Mas, kemasjid dulu yaa.!"


" Hhmm," Arini menganggukan kepala dan tersenyum manis. Lalu mencium tangan kanan suaminya.


" Assalamualaikum."


" Walaikum salam."


Arini masih memperhatikan punggung suaminya, berjalan keluar dari kamar hingga punggung itu tak terlihat lagi karena pintu telah ditutup.


" Semoga kebahagiaan ini selalu disertai keberkahanMu yaa Rabb. Bimbinglah kami selalu dijalanMu, selalu mensyukuri atas segala nikmat yang engkau limpahkan kepada kami. Aamiin."


Seutas doa yang selalu dipanjatkan dalam hati Arini setiap saat. Dalam keadaan apapun doa itu tak akan pernah lepas terucap dalam hati Arini.


***Terima kasih sudah membaca, jangan lupa Like, Comment dan Vote yaa.

__ADS_1


Semoga senang tiasa kita selalu bersyukur atas nikmat dari Allah SWT.


Semangat untuk menjalankan ibadah puasa esok hari***.


__ADS_2