
Arini berjalan menuruni tangga untuk menemui Firman. Meski berat, tapi untuk menghormati tamu dan niat baik Firman. Arini terpaksa melakukan itu.
" Maaf, mas Firman harus nunggu lama." kata Arini yang duduk didepan Firman. Sedang mbak Amira memilih duduk di ruang keluarga gak tak jauh dari sana, membiarkan Arini dan Firman berbicara.
" Tidak apa, saya mengerti Arini pasti capek karena baru pulang." sahut Firman penuh kelembutan.
" Ehmmt, jadi apa yang membuat mas Firman menemui saya.?"
" Arini, mungkin kita baru bertemu dua kali. Tapi, saya punya niat baik menemui kamu.!"
Nyatanya tak semudah itu mengatakan niat baiknya pada seorang perempuan. Bagi Firman ini adalah yang pertama.
" Saya ingin mengkhitbah kamu. Bersediakah kah kamu menerima niat baik saya ini.? Saya tak bisa menjanjikan apa - apa, tapi saya serius untuk menjadikan kamu istri saya. Seandainya diizinkan."
Arini masih diam, tak menyangka Firman akan secepat ini mengutarakan niat baiknya itu. Memang tak ada yang salah,, hanya saja Arini merasa ini terlalu cepat.
" Mengapa mas Firman yakin untuk mengkhitbah saya secepat ini."
" Maaf, bila ini terlalu cepat. Tetapi, bukankah niat baik harus disegerakan. Saya ingin menyempurnakan separuh agama saya bersama kamu, Arini. Jika kamu bersedia, secepat saya akan datang bersama orang tua saya untuk mengkhitbah kamu secara resmi."
Arini bingung harus menjawab apa dan bagaimana. Semua begitu cepat, dan tak pernah dibayangkan masa lalunya terulang kembali. Haruskah dirinya membangun rumah tangga lagi secepat ini.
" Bisakah mas Firman memberi saya waktu. Saya ingin berfikir dan melakukan sholat istiqarah dulu. Semua tidak bisa saya putuskan sekarang. Banyak hal yang harus saya pertimbangkan." kata Arini tegas, dirinya tak ingin mengambil keputusan dengan emosi sesaat.
Memang benar untuk sekarang ini, Arini belum siap untuk membangun rumah tangga lagi. Lagi pula hati kecilnya tak menerima Firman hadir dihidupnya.
Entah mengapa hatinya menjadi gamang, saat tiba - tiba Aisya melintas dipikirannya. Putri kecilnya yang merindukan sosok seorang ibu. Jika Arini menerima Firman akan kah dirinya bisa sepenuhnya menyayangi Aisya. Sementara kehidupan rumah tangganya nanti akan seperti apa belum terlintas dipikirannya.
Sore itu Arini termenung didekat jendela kamarnya. Entah mengapa pikirannya tak berhenti memikirkan Aisya yang sudah dua hari tidak mengunjunginya. Padahal bocah itu sudah memberitahu Arini kalau dia dan papa Imam pergi kedesa selama beberapa hari.
__ADS_1
Nyatanya rasa rindu itu teramat besar untuk Aisya.
" Yaa, Allah. Haruskah aku menerima mas Firman. Tapi, bagaimana dengan Aisya.? Seandainya aku menerima mas Firman, tidak mungkin aku bisa selalu ada untuknya lagi. Aku pasti akan lebih fokus pada keluarga baru ku nantinya."
Lamunan Arini tiba - tiba buyar dengan kedatangan mbak Amira untuk mengajak Arini makan bersama.
Dimeja makan sudah ada mas Haris dan Sarah yang menunggu mereka. Saat makan pun Arini kelihatan murung tak bersemangat, hanya sedikit makanan yang diletakkan kedalam piringnya.
Mas Haris yang melihatnya pun merasa kasihan pada Arini. Mengingat istrinya yang terlalu memaksa Arini menerima Firman.
" Mir, apa gak sebaiknya kamu berhenti memaksa Arini." kata mas Haris setelah selesai makan dan bersantai di teras belakang.
" Semua ini demi kebaikan Arini, mas. Firman adalah pilihan yang tepat untuk Arini. Dia baik, soleh gak jauh beda dari Fa'i."
Mas Haris menghela nafas,
" Tapi, Mas_ "
" Sayang, biarkan Arini menentukan pilihannya sendiri. Lagipula mas liat, Arini begitu bahagia bersama Aisya. Kenapa bukan Imam saja yang kamu jodohkan dengan Arini."
" Kok Imam sih, mas?"
" Mir, Aisya anaknya alm. Sabina, keponakan kamu sendiri. Dia membutuhkan sosok seorang ibu dan hanya Arini yang mampu memberikan kasih sayang yang tulus pada gadis malang itu. Kamu liatkan bagaimana cerianya Aisya setelah Arini kembali.?"
Mas Haris mengelurkan seluruh pemikiran dan kata hatinya, sejak lama dirinya menahan untuk ini. Tapi, membayangkan dan demi Aisya membuatnya harus menegur keras sikap Amira.
" Lalu bagaimana perasaaan Aisya seandainya Arini menikah dengan Firman. Harusnya sebagai seorang ibu kamu lebih faham kan, Mir. Jangan hanya karena kekecewaan mu pada Imam, lantas membuatmu egois dan menutup mata seperti ini. Ingat Mir, Aisya adalah keturunan dari Umi dan Abi. Dia yang mempunyai ikatan keluaraga yang lebih kuat dengan kita dibandingkan Arini."
Amira diam, mencerna semua perkataan suaminya. Setidaknya penuturan mas Haris mampu mengetuk hati nuraninya. Matanya mulai basah, mengingat semua hal yang terjadi dihidupnya.
__ADS_1
Bayang - bayang wajah polos Aisya melintas dipikirannya. Bagaimana dia membayangkan Aisya yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu.
Senyum bahagia Aisya saat bertemu Arini muncul pelupuk matanya. Gadis kecil itu terlihat sangat bahagia. Hari - hari setelahnya dirinya bisa merasakan kasih sayang tulus seorang ibu dari Arini.
" Mir, pikirkan sekali lagi. Kebahagiaan Aisya yang paling penting. Jangan renggut lagi kebahagiaan itu. Biarkan Aisya bersama Arini dulu. Seandainya Arini memang berjodoh dengan Firman tak jadi masalah. Yang pasti jangan memaksa Arini secepatnya menerima Firman. Biarkan Aisya merasakan kasih sayang itu sedikit lebih lama.!"
Mas Haris sedikit lega, karena dari diamnya Amira dia bisa merasakan Amira benar - benar memahami semua hal yang dia sampaikan.
Mungkin terlalu menyakitkan bagi Amira, mengingat sikap acuhnya itu. Hatinya bagai ditimpa batu besar yang meremukkan. Sikap kekanak - kanakan membutakan hatinya.
Kecewa pada Imam, apakah semuanya salahnya? Tidak adil rasanya melimpahkan kesalahan itu padanya. Setidaknya dia tak menghancurkan kebahagiaan orang lain, bukan. Tapi, takdirlah yang membuatnya hidup dalam kekecewaan itu.
Apa selama ini aku menutup mataku, karena rasa kecewaku pada Imam terlalu dalam. Sampai aku tak melihat dan menyadari keberadaan Aisya. Apa benar kata mas Haris, kalau aku egios.
Yaa, Allah. Apa yang aku lakukan? Mengapa aku sepicik dan setega ini pada keponakanku sendiri. Aisya sudah terlalu lama tanpa kasih sayang seorang ibu. Tapi, aku malah ingin merenggut kebahagiaan yang baru dia rasakan.
Perih memang menyadari kekeliruan yang hampir menyakiti hati tak berdosa. Aisya tak mengerti semua kekecewaan karena Imam. Tapi, dialah yang paling menjadi korban dari semuanya. Dari sikap egois dan tak peduli Amira pada Imam, yang juga berimbas pada gadis kecil itu.
" Aku harap kamu mengerti Mir. Lupakan semua kemecewaaan dihatimu. Semua bukan salah Imam, ini sudah menjadi jalan hidup kita semua. Aku gak mau hati kamu akan dipenuhi dendam yang tak mendasar nantinya. Cukup, kita harus melanjutkan hidup. Kita buka lembaran baru yang lebih berpasrah pada Allah."
Mas Haris merengkuh istrinya untuk masuk dalam dekapannya. Membiarkannya tenang dulu, sebelum dia memikirkan semuanya.
Bukan masalah terbaik untuk siapa? tapi, masalah hati yang harus dijaga dan diutamakan. Kebahagiaan kecil orang terdekat akan lebih berarti untuk kita. Dibandingakan kebahagiaan berlipat namun, menyakiti sebuah hati yang tak berdosa.
Terima kasih sudah mampir.
Semoga suka.
Sehat selalu semua.
__ADS_1