
Seminggu yang lalu operasi Diana berjalan lancar. Semua baik -baik saja, masa kritis paska operasi pun telah berlalu. Keadaan Diana sudah membaik. Hanya tinggal menjalani proses penyambuhan yang akan membutuhkan waktu sedikit lama, karena operasi yang dijalani Diana termasuk dalam operasi besar.
Fa'i pun berusaha dengan maksimal memberikan perawatan dan perhatian ektra dibandingkan pasien - pasiennya yang lain.
Ketika dirumah pun Fa'i selalu memantau perkembangan Diana. Bukan hanya itu sering kali Diana menghubunginya. Awalnya Arini tidak merasa terganggu dengan hal itu. Tapi, entah mengapa 2 hari ini Arini begitu kesal dengan Diana yang menghubungi suaminya ketika dirumah.
" Bentar yaa, Rin. Diana telfon." ucap Fa'i yang langsung sedikit menjauh dari Arini untuk mengangkat panggilan dari Diana itu.
Padahal tadi Arini lagi bermanja -manja pada suaminya sambil menonton acara Tv malam itu.
" Diana lagi Diana lagi.." gumah Arini yang memang sejak beberapa hari ini terlihat berbeda. Sikapnya jadi agak sensitif, gak tahu kenapa juga mudah marah sekarang ini.
" Assalamualaikum, Di ada apa. ?"
" Walaikumsalam, mas. Iya ni mas, kenapa yaa tiap aku berusaha konsentarasi rasanya kepalaku sakit banget." jawab Diana yang sekarang sudah sembuh. Namun, belum diijinkan pulang.
" Ehmmmt, besok coba kita cek ulang semuanya. semoga itu hanya trauma paska operasi yang akan segera hilang dengan sendirinya. " kata Fa'i menenangkan Diana itu. Mereka cukup lama berbicara. Hingga membuat Arini kali ini benar -benar marah. Langsung menuju kamar untuk tidur.
Dyarrrr,...
Suara pintu yang ditutup Arini dengan sangat keras hingga membuat Fa'i yang masih asik berbicara dengan Diana pun kaget. Lalu mengakhiri percakapanya dengan Diana.
" Arini, ada apa kenapa sampai membanting pintu segala ?" batin Fa'i
Kemudian Fa'i bergegas kekamar memastikan keadaan Arini itu. Sampai dikamar Fa'i mendapati Arini masih duduk ditepi ranjang dengan wajah yang terlihat sangat marah.
__ADS_1
Sudah lama Fa'i tidak melihat Arini dengan wajah seperti itu. Dulu saat marah seperti ini gara - gara dirinya mengetahui kenyataan hubungan Fa'i dan Diana. Dan sekarang dirinya marah pada suaminya juga gara - gara Diana.
Padahal Arini terbilang seorang wanita yang sangat sabar dan sangat jarang marah pada siapa pun. Tapi, mengapa dua kali kemarahannya pada sang suami harus gara - gara seorang Diana Astari. Apakah Diana begitu berpengaruh pada kehidupan seorang Dokter Rifa'i.
" Sayang, kamu marah mas menerima telfon dari Diana." tanya Fa'i sambil membelai rambut Airini lalu berlutut didepan Arini yang masih cemberut dan membuang muka enggan menatap wajah suaminya itu.
" Maafkan mas yaa, Rin. !" lirih Fa'i sambil menyelipkan rambut istrinya itu kebelakang telinga. Karena Arini masih tak ingin jemarinya digenggam suaminya itu. Dan bibirnya masih setia membisu tak ingin menjawab sepatah katapun.
" Heehh, Liat suamimu ini sayang,!" ucap Fa'i yang sekarang duduk disamping Arini dan memeluk pinggang istrinya dari samping kanan.
" Apaan sih, mas lepasin.!"
" Tidak, sebentar saja Arini. mengapa akhir - akhir ini kamu tidak mau aku peluk ?"
" Seharusnya aku yang bertanya, mengapa mas selalu sibuk urusan Diana dan seolah mengabikan ku ?"
" Ak_ Aku takut kehilangan kamu mas. Bayang - bayang kebersamaanmu dan Diana tiba - tiba muncul begitu saja akhir - akhir ini."
Fa'i tersenyum lalu menarik istrinya itu kedalam pelukannya. Mencium puncak kepala Arini yang begitu wangi.
" Mas kan sudah bilang sayang, mas sekarang milikmu seutuhnya. Lagian kan kamu sudah janji akan percaya pada suamimu ini. Lalu mengapa masih merajuk dan cemburu seperti ini. Hemmt."
"Aku ini perempuan mas, Perempuan mana yang rela suaminya dekat dengan perempuan lain, terlebih dia adalah mantan kekasih kamu. kebersamaan kalian lebih lama jika dibandingkan kebersamaan kita yang baru benerapa bulan ini, Mas."
" Iyaa, ssyang maafkan mas yaa. Beberapa hari ini mas sering mengabikanmu." jawab Fa'i kembali mengecup puncak kepala Arini dan terus membelai rambut panjang favoritnya itu. Arini mengangguk dalam dada budang suaminya itu.
__ADS_1
Drettt.... Drett....
Ponsel Fa'i kembali bergetar. Arini pun bergegas merenggangkan pelukan suaminya itu saat Fa'i menrogoh ponsel disaku celananya.
" Diana , ada apa lagi dengannya.?" batin Fa'i lalu meletakkan poncelnya begitu saja tanpa berniat menerima panggilan itu.
" Dari, Diana lagi.?" tanya Arini yang berusaha menahan amarahnya dan mengerti gelagat suaminya itu, sementara Fa'i hanya mengangguk.
" Tidak diangkat dulu mas.?"
" Tidak, biarkan saja. Besok saja aku berbicara padanya dirumah sakit. Kalau dia merasa kesakitan disana ada Dokter jaga dan perawat yang siap 24 jam kok." jawab Fa'i menatap dalam mata Arini yang terlihat memencarkan rasa cemburu dan tidak suka itu.
" Sudah, tidak usah dibahas. Ooyaa, aku perhatiakan akhir -akhir ini berubah sensitif sekali Rin, apa kamu sedang ada tamu.?" lanjut Fa'i mengubah topik pembicaraan karena tak ingin istrinya terus merajuk.
" Haaa, tidak.. Belum , mungkin Pms." Jawab Arini yang teringat bahwa seharusnya datang bulan. Menang sih kadang juga terlambat datangnya bisa 3 sampai 4 hari. Tapi, ini sudah lama sekali hampir 2 minggu.
" Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Sudah malam ayo tidur.!" ajak Fa'i yang terlebih dulu beranjak ketengah ranjang diikuti Arini yang masih berpikir tentang seduatu itu.
Setelah mengucapkan selamat malam dan membaca doa Fa'i yang nampak lelah itu langsung memejamkan matanya. Hembusan nafas yang tenang dan dengkuran halus itu sebagai tanda Fa'i telah terlelap dalam mimpi indahnya.
" Apa aku hamil yaa, ini sudah terlambat 12 hari dari jadwal bulanan ku. Biasanya memang terlambat tapi ini terlalu lama. Mengapa aku sampai tidak menyadarinya. Semoga saja, didalam sini telah tumbuh benih cinta kami Yaa Rabb. Aaminn."
Batin Arini seraya mengusap perutnya yang rata dan tersenyum bahagia membayangkan dirinya benar -benar positif hamil. Seraya berdoa semoga ini benar adanya.
Terima kasih sudah mampir jangan lupa like, comment, anda vote yaa... Aku tunggu.
__ADS_1
Semoga sehat selalu semuanya..