
Setelah berfikir cukup lama dan mengikuti saran ibunya. Imam akhirnya memutuskan untuk melanjutkan jenjang pendidikannya untuk meraih gelar Konsultan ( K ). Dibelakang gelar Sp.A menjadi Sp. A. K. Juga strata pendidikan S3.
Imam telah memutuskan untuk pergi keJerman bersama ibu dan Aisya untuk sementara waktu. Tekatnya telah bulat, dirinya harus melupakan cintanya pada Arini.
Berharap waktu dua sampai tiga tahun kedepan semua telah berubah. Kesibukan belajarnya mampu membuat nama Arini terhapus dari hatinya.
Mungkin terasa amat berat, namun inilah keputusan terbaik untuk saat ini. Keputusan untuk menghindari banyaknya hati yang akan terluka karena cinta haramnya.
Drettt...drettt...
Suara getaran ponsel Imam disaku celananya, membuyarkan konsentrasinya saat melakukan visit dibangsal anak seperti biasanya.
Sebuah pesan dari mbak Amira muncul dilayar ponsel miliknya.
Nanti siang ada waktu Mam, mbak ingin bertemu ada yang mbak ingin tanyakan.!
" Apa yang ingin dibicarakan mbak Amira?" batin Imam setelah membalas pesan itu. Dan berjanji menemui mbak Amira dicafe dekat rumah sakit saat makan siang nanti.
Imam pun kembali melanjutkan pekerjaannya, bulan depan dirinya tak lagi bertugas dirumah sakit itu. Imam juga telah menghadap direktur di dua rumah sakit tempatnya bekerja. Imam pun diberi kesempatan jikalau nanti dia ingin kembali kerumah sakit itu lagi.
Sementara itu Imam, meminta agar pengunduran dirinya tidak diketahui orang lain dulu. Sebelum dirinya berangkat keJerman.
Tak terasa waktu makan siang telah tiba, mbak Amira sudah menunggu Imam sejak sepuluh menit yang lalu. Dirinya memang sengaja datang terlebih dahulu sebelum Imam.
" Assalamualaikum, Mbak."
" Walaikumsalam, duduk Mam.!"
" Sudah lama mbak, maaf aku terlambat."
Mbak Amira hanya menggeleng dan tersenyum pada Imam. Sejenak mbak Amira menata hati dan kata - katanya.
" Kapan kamu berangkat keJerman?" sebuah pertanyaan dilontarkan mbak Amira, bukan hal mengejutkan sebenarnya. Tapi, dari mana mbak Amira tahu hal ini.
Sedangkan rencana ini dia sembunyikan dari orang lain kecuali ibu dan ayahnya.
__ADS_1
" Dari mana mbak Amira tahu.?" tanya Imam menyelidik balik bertanya pada mbak Amira.
" Bu Dewi, ibu kamu. Tadi beliau datang kebutik dan menceritakan rencana kamu itu. Kenapa kamu harus pergi Mam.?"
" Apa kamu masih belum mengiklhlaskan Sabina. Kamu masih sedih ?"
" Ternyata ibu, tidak menceritakan alasanku yang sebenarnya pada mbak Amira." batin Imam.
Pertanyaan mbak Amira membuat Imam diam sejenak. Memikirkan alasan yang tepat, ataukan memang dirinya harus jujur pada kakak alm. istrinya.
" Banyak yang terjadi setelah kepergian Sabina. Aku ikhlas dengan apa yang tejadi. Tetapi, ada satu hal yang mengharuskan aku pergi."
" Apa karena kamu jatuh cinta pada Arini.?"
Deg,
Jantung Imam serasa berhenti saat itu juga. Dari mana mbak Amira tahu, apa dari ibu Dewi. Tapi, tidak mungkin ibu Dewi menceritakan aib anaknya sendiri.
" Kenapa, kamu kaget. Mbak tahu perasaan kamu pada Arini.?" Sambung mbak Amira yang bisa menebak isi kepala Imam dari ekspresi wajahnya itu.
Imam hanya tertunduk, mengapa mbak Amira sampai menyadari perasaanya. Apakah tanpa disadari Imam, sikap dan cara menatap Arini terlalu berlebihan.
Imam tak tahu harus berkata apa, untuk membela dirinya sendiri. Pada kenyataannya memang dirinya lah yang bersalah. Membiarkan hatinya begitu lemah, menganggap semua kebaikan dan ketulusan seorang Arini adalah harapan lebih dalam kesendiriannya.
" Mbak melihat cara kamu menatap Arini, sama seperti waktu dulu kamu menatap Sabina. Atau seperti cara Fa'i menatap Arini. Sejak kapan kamu jatuh cinta pada Arini.?"
" Entahlah, mbak. Aku juga tak tahu mengapa bisa segila ini, jatuh cinta pada istri sahabatku sendiri."
" Mbak, aku mohon tolong rahasiakan semua ini pada Arini dan Fa'i. Aku tidak ingin persahabatan kami hancur."
" Apa kamu sudah memberitahu Fa'i soal kepergianmu keJerman.?"
Imam mengelengkan kepalanya, matanya mulai memanas membayangkan perpisahannya nanti dengan sahabat baiknya itu.
" Tak bisakah kamu tidak pergi Mam?"
__ADS_1
" Akan banyak hati yang terluka mbak, jika aku tidak pergi dan melupakan semua ini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Fa'i jika suatu saat nanti dia tahu, kalau aku mencintai istrinya." jawab Imam menarik nafas sejenak, mengumpulkan keberaniannya mengatakan isi hatinya pada mbak Amira.
" Mungkin saat ini aku masih bisa menekan perasaanku pada Arini. Tetapi, jika harus melihatnya dan berada didekatnya terus menerus, mungkin aku tak akan bisa mbak. Aku takut mereka menyadari semua ini. Sama seperti mbak Amira yang menyadarinya kan."
Mbak Amira, menghela nafas pelan. Dirinya merasa kasihan dan prihatin pada keadaan Imam. Kisah cintanya sungguh rumit, kehidupan yang sekilas terlihat sempurna ternyata menyimpan kepedihan seperti ini.
Setelah berbincang cukup lama, Imam pun pamit pada mbak Amira. Karena dirinya harus kembali bekerja. Poliklinik anak dibuka kembali setelah makan siang.
Yaa Allah, mengapa aku tak bisa mengontrol perasaanku ini. Dan hatiku apa yang akan terjadi sebernarnya, mengapa terlalu sulit menutupnya.
Malam itu, Imam sudah memulai packing apa saja yang akan dibawanya ke Jerman. Lusa adalah hari keberangkatanya. Semua urusan sudah diselesaikannya. Hanya saja Imam masih bingung cara berpamitan dengan Fa'i dan Arini. Alasan apa yang akan diberikannya nanti.
Kemudian diraihnya ponsel diatas nakas itu. Mencoba menghubungi Fa'i, tapi entah mengapa jemarinya malah menyentuh File yang menyimpan foto - foto itu. Dilihatnya foto yang muncul pertama kali adalah foto Arini bersama Aisya dan AL.
Mengapa dengan mudahnya aku jatuh hati padamu Rin. Aku sungguh gila karena kamu. Maafkan aku, telah mencintaimu. Semoga kamu selalu bahagia bersama Fa'i.
Harapan serta doa tulus dari hatinya, dirinya memang payah dalam urusan hati. Tapi, dirinya tak ingin merusak imannya, karena berusaha mendapatkan cintanya. Tidaklah dibenarkan dalam Islam mencintai istri orang apalagi sampai merebutnya.
Imam memijit pangkal hidungnya, kepalanya terasa sedikit pusing. Lalu sebuah ketukan, membuyarkan lamunannya.
" Maaf, mas Imam ada mbak Arini dan mas Fa'i dibawah. Katanya mau ketemu sama dek Aisya." kata Rina baby siter Aisya.
" Oo, bentar lagi saya turun. Pergilah!"
Imam lantas bergegas menemui sahabatnya itu. Sebenarnya hatinya masih bimbang, untuk memberitahu soal kepergiannya ke Jerman. Mengingat alasan apa yang kiranya tepat jika nanti Fa'i bertanya.
Mungkin Imam memang harus berdusta pada mereka. Demi kebaikan bersama. Namun, kelak jika saatnya tiba Imam akan memceritakan semuanya. Kapan itu terjadi?
Saat dirinya telah berhasil melupakan cintanya pada Arini dan telah bertemu dengan jodohnya. Jika Allah mengijinkan tentunya.
Sejenak tatapan Imam kembali terpaku pada sosok Arini yang tengah berbincang akrab dengan Ibu Dewi. Hatinya kembali berdesir, namun Imam segera mengontrol dirinya.
Sadar Mam, zina mata. Jangan semakin berbuat dosa. Astafirullah.
Terima kasih,
__ADS_1
Semoga sehat selalu. banyak rejeki.! Amiin