
"yaa ALLAH, apakah aku salah mencintai suamiku sendiri. Mengapa mencintainya harus sesakit ini? Maafkan aku dokter Fa'i, karena aku telah mencintaimu. Aku tidak bisa jujur tentang perasaanku padamu. Aku hanya ingin kamu bahagia bersama orang yang kamu cintai. Mungkin inilah caraku mencintaimu, dengan membiarkanmu bahagia dengan nya. *Ta*pi tidak dengan cara yang salah seperti ini." batin Arini yang masih menangis dilantai, kepalanya bersandar pada ranjang dikamarnya.
Hatinya benar - benar terluka suaminya, cinta pertamanya, tak pernah berusaha untuk menerimanya hingga saat ini. Hingga akhirnya Arini beranjak keatas tempat tidur dan mencoba memejamkan matanya. Berharap semua yang terjadi selama hampir 3 bulan ini, adalah mimpinya. Terlalu sakit untuk diingat, kenangan pahit yang terlalu perih menyayat hati.
Drettt....drettt...
suara ponsel Fa'i bergetar saat dirinya masih termenung dimeja makan. Dan membuyarkan lamunan Fa'i. Seketika itu juga dirinya kaget dengan nama Imam yang menghubunginya.
" Assalamualaikum mam, ada apa?"
" Walaikumsalam, bisa keluar sebentar aku ada dicafe sebrang jalan Apartemen mu"
" Bisa, tapi tidak ada Sabina kan?" tanya Fa'i memastikan karena dia belum siap menghadapi Sabina.
"Tenang aku tau apa yang harus aku lakukan." jawab Imam diseberang sana. yang sepertinya sudah sangat memahami sahabatnya itu.
__ADS_1
Tidak sampai 10 menit Fa'i sudah sampai dicafe dengan berjalan kaki. Rasanya memang Fa'i membutuhkan seseorang untuk mendengarkan segala kegundahan dihatinya.
"Assalamualaikum mam, maaf yaa lama."
" Walaikumsalam, tidak apa - apa kok Fa! duduk minum tuu, dah aku pesenin capucinno panas" jawab Imam yang tersenyum melihat Fa'i begitu berantakan.
" Gimana Arini, dia baik - baik saja kan? " lanjut Imam setelah Fa'i duduk dan menyesap capucinno panas itu. Fa'i menghembuskan nafasnya pelan, menata hatinya.
" Tadi dia sempat pingsan, kami sudah bicara. Dia menanyakan kebenaranya tentang hubungan antara aku dan Diana."
"Lalu bagaimana tanggapan Arini ?"
" Maaf yaa Fa, sebenarnya bagaimana hubungan kamu dengan Diana?"
" Aku dan Diana masih suka jalan bareng seperti dulu, sebenarnya aku sudah memberitahu dia kalau aku sudah menikah. Tapi dia tidak keberatan dengan hal itu."
__ADS_1
" Dan kamu juga menikmati hubungan itukan?"
Fa'i pun mengangguk pelan pikiranya benar - benar kacau.
" Sepertinya kamu memang masih terobsesi pada Diana. Tapi itu salah Fa, kamu sudah menikah tidak seharusnya kamu menuruti ego dan obsesi kamu itu. Cobalah buka hati kamu untuk Arini dia yang halal bagimu, bukan Diana. Jangan biarkan hatimu dan pikiranmu dipenuhi nafsu dan bujuk rayu setan. Ingat Fa janji Allah itu benar." kata Imam mencoba mengingatkan sahabatnya itu.
"Astagfirullah, kamu benar Mam." Fa'i tertunduk lesu mengingat semua dosa - dosanya pada Arini istrinya, yang dengan tulus menerimanya. Begitu sabar menghadapi segala sikap dingin dan tidak peduli padanya.
" Seharusnya kamu lebih paham, dengan apa yang harus kamu lakukan selanjutnya. Tapi, yaa Fa seandainya aku jadi kamu, aku akan lebih memilih Arini dia lebih segalanya dari Diana. Kalau kamu menerima permintaan Arini untuk menikahi Diana itu terserah kamu yang pasti kamu bakal diamuk sama Sabina dan mbak Amira." canda Imam diakhir nasihat dan saran untuk sahabat sekaligus kakak iparnya itu. Fa'i pun tersenyum
" Kamu benar Mam, ngeri juga kalau mereka ngamuk. Terima kasih yaa Mam."
"Ooyaa, Fa kalau aku pikir niih, sepertinya Arini sudah sangat mencintaimu. Buktinya dia memintamu untuk menikahi Diana. Mungkin itu cara Arini mencintaimu.."
" Tapi waktu aku tanya, apakah dia mencintaiku, dia bilang tidak mencintaiku." selak Fa'i sambil menyesap kembali minumanya yang hampir dingin.
__ADS_1
" Udah tua masih aja bodoh kamu Fa, dalam situasi seperti ini mana mungkin dia mengakui perasaannya. Dasar Bucin " kelekar Imam yang tertawa melihat kebodohan Fa'i. Fa'i yang menyadari itu hanya menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal..
Terima kasih tungguin bab berikutnya Yaa....