Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
62. Takdir Tuhan.


__ADS_3

" Aaaaaa.....!" teriakan Arini menggema. Lantas detik berikutnya semua terasa gelap bagi Arini. Entah apa yang terjadi, setelahnya.


Tiit...tiit...tiiit


Suara monitor ruang operasi mengiringi saat -saat menegangkan yang harus dijalani seseorang dimeja itu. Tim dokter yang berjumlah delapan orang, tengah berkonsentrasi meneyelamatkan nyawa seorang pasien korban kecelakaan sejam yang lalu.


Kecelakaan yang teramat tragis dan sungguh miris melihat para korban bersimpah darah. Mungkinkah mereka terselamatkan? Entahlah.


Diruangan lain, terlihat seorang perempuan korban kecelakaan itu, masih tak sadarkan diri. Luka yang dialami tak begitu serius.


Sementara, balita laki - laki yang sangat tampan itu tak dapat tertolong. Keluarga kecil yang malang, kecelakaan membuat kebahagiaan itu sirna.!


Perlahan Arini yang salah satu korban itu, berjalan memasuki sebuah ruang ICU. Berjalan bengan tergopoh - gopoh, karena luka yang dialaminya. Arini mendekati bankar pasien, seketika tangisnya pecah.


Air matanya mengalir begitu derasnya. Kala melihat laki - laki tercintanya tak sadarkan diri. Kepala yang dibalut perban, serta alat medis yang terpasang hampir diseluruh tubuhnya. Arini tak tahu apa fungsi dari semua alat- alat itu. Yang dia tahu hanya selang - selang itu adalah alat medis yang bisa membantu organ - organ dalam tubuh suaminya agar tetap berfungsi.


Kakinya terasa lemas hingga tak mampu menopang tubuhnya sendiri. Ambruklah dia didekat bankar itu.


Cobaan apalagi yang diberikan sang pencipta padanya. Arini, tertunduk dipunggung tangan Fa'i.


" Mas, bangun maafkan aku.!"


" AL, mas. Anak kita..!" Arini tak mampu melanjutkan perkataannya. Bahunya bergetar menahan isakan yang jelas - jelas tak mampu tertahan.


Paska menjalani operasi dikepalanya selama hampir 5 jam, Dokter memang menyatakan kondisi Fa'i dalan keadaan koma.


Mengingat betapa mengerikan kecelakaan itu, seketika membuat Arini kembali meresa bersalah dengan kebohongan yang membuat semuanya terjadi.

__ADS_1


Seandainya aku tak berbohong padamu, aku tak menyembunyikan segala yang aku tahu. Pasti kita tidak akan mengalami semua ini mas.! Aku menyesal kebohongan dan menyembunyikan kenyataan itu harus aku bayar mahal seperti ini. Aku kehilangan putraku dan sekarang kamu seperti ini mas.


Dalam ruangan dingin yang didominasi warna putih dan hanya suara elektrogaram yang menemani. Fa'i, entah kapan dia akan membuka matanya.? Hanya hembusan nafas teratur karena bantuan alat medis itulah yang masih menjadi tanda laki - laki itu masih bernyawa.


Arini yang masih setia disampingnya, tak pernah berhenti untuk berharap dan berdoa agar sang suami cepat bangun tidur panjangnya.


Sebuah Al- Quran kecil dan tasbih selalu setia dalam genggaman tangannya. Berharap lantunan kitap suci penerang hati setiap muslim itu, mampu membaut hatinya ikhlas menerima keadaan ini.


Terlebih tak ada satu hal pun yang mampu dilakukannya saat ini selain berdoa, bermunajat pada sang pencipta. Berharap semua akan segera berlalu.


" Rin, makan dulu yuuk! " ajak mbak Amira. Arini hanya menggelengkan kepalanya.


" Mbak tahu dan paham kesedihan yang kamu rasakan. Tapi, kamu juga harus jaga kesehatan kamu. Kalau kamu sakit siapa yang akan menjaga Fa'i?"


Arini masih tak bergeming. Meski telah tiga hari berlalu, tapi Arini seolah belum memaafkan dirinya sendiri. Semuanya terjadi karena ketidak jujurannya.


Mbak Amira yang juga merasa bersalah pun lantas memeluk Arini. Pada akhirnya Arini meraung melupkan segala sesak dihatinya. Bahunya bergetar menandakan betapa beratnya beban psikisnya saat ini.


" Kamu gak salah Rin. Mbak yang salah karena melarang kamu menceritakan semuanya pada Fa'i. Maafkan mbak yaa, Rin.!"


*


Tidak ada hal lain yang dilakukan Arini setiap harinya. Selain menghabiskan waktu didalam ruangan itu. Menemani suaminya dan berharap kelak satu saat ketika waktu itu tiba. Fa'i suaminya akan terbangun dari tidurnya yang sangat panjang.


Ini sudah menjadi hari ketujuh, dimana itu pula Fa'i sudah terbaring diatas bankar rumah sakit. Yang tersisa kini hanyalah sebuah keyakinan dan harapan bahwa Fa'i akan membuka matanya. Menyadari bahwa Arinu menyesali semuanya dan dia begitu merindukan dekapan hangat suaminya.


" Bangun yaa, Mas. Aku butuh kamu mas, hanya mas yang aku punya sekarang."

__ADS_1


Tangan Arini menjulur kedepan mengusap wajah suaminya yang begitu tenang.


" Mas nggak kangen sama aku. Apa mas nggak mau maafin aku? Mas masih marah yaa sama aku?"


Tidak ada jawaban hanya ada hembusan nafas teratur Fa'i dan hati yang kebas. Ari mata Arini kembali menggenangi pelupuk matany, hingga akhirnya tumpah ruah membanjiri pipinya yang semakin tirus.


Digenggamnya tangan suaminya itu sekali lagi, berharap dia akan membalas genggaman itu. Sambil mengecup punggung tangan itu cukup lama. Seketika tubuhnya bergetar hebat karena isakan dan sesak didada yang tak mempu ditahannya.


" Sudah cukup Allah menghukumku atas kesalahan ku padamu dengan mengambil AL dari pelukan ku, mas. Aku mohon mas bertahan demi aku. Aku janji tidak akan pernah lagi menyembunyikan apapun dari mas. Meskipun itu akan menyakitimu. " Arini menarik nafas dalam lantas melanjutkan curahan isi hatinya.


" Aku rela melakukan apapun untuk menebus semua kesalahanku. Tapi, mas bangun dulu yaa. Aku kangen, mas.!"


Arini menatap nanar kearah Fa'i kearah Fa'i sambil sesekali menoleh pada mesin elektrodiogram yang memperlihatkan detak jantung suaminya disana.


Air mata Arini seakan tak ada habisnya. Dirinya tak lagi tahu harus berbuat apa. Sisa - sisa kesabarannya hampir menipis. Menggeleng lemah, Arini memejamkan matanya dan menggumamkan sebaris untaian doa yang selalu dia ucapkan dalam hatinya setiap saat.


Arini sedikit merasa lelah menangis saat itu, sebelum akhirnya Arini keluar dari sana dengan segala ketakutan akan kehilangan lagi.


Benar kata mbak Amira sesedih apapun, Arini harus tetap menjaga kesehatannya. Dia tak ingin ketika suaminya bangun nanti, bukan dirinya yang dilihat untuk pertama kalinya.


Ku pasrahkan segalanya hanya padamu, Yaa Allah. Jika seandainya hamba diijinkan memohon lagi, hamba ingin suami hamba kembali. Hamba tahu, Engkau maha pengasih lagi maha penyayang. Ijinkan hamba sekali lagi memperbaiki diri untuk menjadi istri yang baik untuk suami hamba. Aamiin.


Seutas doa dari dalam hatinya, tak ada lagi yang diinginkan selain kesembuhan suaminya. Meskipun kata dokter kemungkinan itu sangat kecil. Tapi, Allah lah menentukan segalanya.


Terima kasih sudah mampir. Maaf yaa sudah lama tidak up. Karena suatu masalah yang harus Author selesaikan dulu.


Selamat lebaran semua. Mohon maaf lahir dan batin. 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2