
Akhir - akhir ini Aisya sering menghindar saat tak sengaja berpapasan dengan Danies. Bukan bermaksud tak sopan, tapi pernyataan Danies waktu itu masih menghantui pikiran Aisya saat ini. Apalagi kehebohan waktu itu saja masih berlanjut sampai sekarang.
Saya ingin mengenal kamu lebih jauh, boleh?
Pertanyaan yang sukses membuat Aisya kelimpungan dengan perasaannya sendiri. Tak terbayangkan, kalau dirinya akan bertemu dengan teman sesaat dimasa lalu. Bagaimana mungkin, pertemanan yang singkat menorehkan kenangan yang tak terlupakan untuk Danies, pikir Aisya.
Lalu setelah sekian lama sama - sama menghilang. Dia datang dan berbicara seperti itu.
Malam itu, semua karyawan diundang makan malam kerumah pak Rahmat yang harusnya malam setelah pengunduran dirinya. Tapi, karena keadaannya yang kurang sehat akhirnya diundur malam ini.
Aisya datang bersama Dara dan Mas Wahyu. Karena Bilal sang adik tidak bisa menemani.
" Gimana sih, kamu Sya. Katanya gak mau pacaran, maunya langsung nikah. Sekarang udah ada yang mau kenal malah bingung gini.?" tanya Dara yang memang sudah mendengar semua cerita Aisya.
" Yaa kan, pak Danies gak ngajak aku nikah, Dara. Dia kan bilangnya cuma pingin kenal lebih jauh sama aku."
" Iya, juga sih Sya. Tapi, gimana sama kamu sendiri? Tertarik gak sama pak Danies.?" tanya Dara menaik turunkan alisnya, menggoda Aisya.
Aisya mengedikkan bahunya, " gak tahu juga. Aku gak pernah mikirin sampai sana. Lagian aku gak mau terlalu banyak membayangkan hal - hal yang belum tentu terjadi. Entar banyak makan hati, kayak kamu."
Dara mendelik kesal dengan sindiran dari Aisya. Sementara Aisya tersenyum melihat sahabat baiknya itu mengerucutkan bibir. Tapi pada akhirnya, mereka tertawa kembali. Karena memang hanya saling menggoda saja. Tak ada maksud lain. Begitupun mas Wahyu yang sedari tadi fokus menyetir dan sesekali ikut tertawa.
Sampai dikediaman pak Rahmat, mereka bertiga disambut langsung oleh sang tuan rumah. Karena memang Pak Rahmat dulu sangat berharap Aisya bisa menjadi menantunya. Tapi, Allah berkehendak lain, putra satu - satunya lebih dulu dipanggil sang maha kuasa.
Aisya nampak akrab dengan keluarga pak Rahmat. Tak segan bercanda dan tertawa bersama.
Saat itu tanpa disadari ada seseorang yang mengamati Aisya dari jauh. Laki - laki berkaca mata itu, ikut tersenyum melihat Aisya yang tertawa lepas.
" Kamu makin cantik, Sya kalau tertawa seperti itu." gumam Danies dalam hati.
" Heeh, jangan cuma diliatin. Tapi, dideketin juga. Gimana mau jadiin istri kalau kamunya aja diem gini.?" sindir Arum yang berdiri disebelahnya.
" Sok tahu, aku dah bilang ke dia waktu itu. Kalau aku pingin kenal dia lebih jauh. Ehh, malah sekarang Aisya menghindari aku."
Sontak Arum tertawa, tak habis pikir dengan sepupunya itu.
__ADS_1
" Pantesan dia menghindar, kamu ngomong kek gitu. Aisya itu bukan seperti wanita - wanita yang kecentilan suka sama kamu. Dia gak mengenal namanya pacaran."
" Masa harus secepat itu aku ngelamar dia. Apa gak aneh. Lagian aku sama dia gak terlalu mengenal satu sama lain."
" Alasan, bilang aja kalau emang masih cinta sama Fitria. Lagi pula, aneh apanya? Yaa kan pacarannya nanti pas habis nikah lebih indah, banyak pahala pula." jelas Arum. Menggoda Danies yang memang masih terlihat bimbang.
" Tapi, kalau kamu masih bingung mending jangan dektin Aisya, Den! Kasihan anak orang kamu mainin.!" sanggah Arif suami Arum.
Danies diam, dirinya memang mengakui pesona Aisya. Tapi, disisi lain ada Fitria yang masih mendominasi hatinya.
****
Malam itu pun, Aisya tak menyapa Denies. Padahal Dara dan Wahyu mengajaknya menyapa teman - teman lainnya. Tapi, dia lebih memilih duduk di sebuah meja paling belakang.
Memainkan ponsel ditangannya, Aisya mengetik beberapa pesan untuk Bilal agar nanti menjemputnya.
Bil. Jemput kakak yaa. Di jalan Anggur no 9. Puri Edelweis.
Namun, sudah setengah jam tidak juga dibalas oleh Bilal. Ponsel papa Imam dan Bunda juga mati. Padahal belum terlalu malam. Masa u sudah pada tidur. Pikir Aisya.
" Boleh saya duduk disini?" tanya Danies yang tiba - tiba datang dan langsung duduk didepannya.
Astaqfirullahhalazim.
Aisya mengerjab beberapa kali. Lalu menunduk menghindari tatapan Danies yang menatapnya lekat.
" Bisa tidak bapak tidak menatap saya seperti itu. Saya dan bapak bukan mughrim.!"
" Kenapa kamu menghindari aku?" tanya Danies yang mulai berbicara lebih santai pada Aisya.
Pak Danies pake aku, kamu.
" Saya hanya tidak ingin timbul fitnah diantara saya dan bapak. Gara - gara waktu itu saja, satu kantor heboh. Jadi saya mohon, seba_"
" Saya ingin menjadikan kamu istri saya!" sahut Danies memotong ucapan Aisya cepat.
__ADS_1
Sementara Aisya tersentak kaget, tanpa sadar langsung mendongak hingga tatatapan mata indahnya bertemu dengan mata elang milik Danies.
" Aku serius, ingin menjadikan kamu wanita yang akan menyempurnakan separuh agama saya." sambung Danies serius.
Aisya nampak bingung dengan pernyataan Danies yang sangat tiba - tiba.
" P_ pak Denies serius?" tanya Aisya terbata.
" Apa kamu pikir dengan umur segini, aku masih terlihat main - main dengan perempuan. Saya serius. Kamu tidak perlu menjawab sekarang, pikirkan dulu!"
Aisya hanya mengangguk, sungguh hal yang tak terduga secepat itukah. Apalagi Danies seolah hanya bergurau, menyatakan keseriusannya dengan cara seperti itu. Ditempat yang jauh dari bayangan.
" Satu lagi. Jangan menghindari aku.!" ucap Danies.
Lagi, Aisya hanya bisa mengangguk. Entah kenapa lidahnya terasa kelu. Otaknya pun tak sejalan dengan hatinya. Bingung untuk sekedar menjawab ' IYA '.
Tiap sholat berdoa memohon cepat dipertemukan dengan jodoh. Tapi, giliran ada laki - laki yang mau serius malah bingung sendiri.
Rasa canggung pun seketika menyergap diri Aisya. Didukung pula suasana yang mendadak tenang karena, pak Rahmat memberikan pra kata ucapan terima kasih.
Saat itu pula Aisya menyadari tatapan mata perempuan - perempuan lain. Seolah mereka iri melihatnya berdua dengan pimpinan perusahaan yang menjadi pujaan para perempuan single dikantor.
" Kenapa pada liatin kayak gitu, Astaqfirullah gak boleh berfikir negatif. Kenapa jadi sering mengumpat dalam hati gini. Astaqfirullah, jauhkan hamba dari sifat buruk yang merusak iman, yaa Allah." batin Aisya.
" Kapan kira - kira saya harus menunggu jawabannya?" tanya Danies memecah keheningan.
" Huh," Aisya mengejab, tersentak mendengar sebuah pertanyaan yang kembali membuatnya bertambah bingung. Namun, ekspresi wajah Aisya itu, malah membuat Danies merasa gemas.
" Kamu mengemaskan sekali sih, Sya!"
" Seminggu beri waktu saya satu minggu untuk memikirkannya!" sahut Aisya cepat menundukkan wajahnya. Tak ingin membuat Danies lebih lama menikmati, menatap wajahnya.
Danies tersenyum melihat tingkah perempuan cantik itu. Apalagi mendengar jawaban itu. Waktu seminggu tak lama baginya.
" Semoga seminggu aku sudah memiliki jawaban yang terbaik untukku. Berikan jalan yang terbaik untuk hamba yaa Rabb."
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir.
Semoga suka.