Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
29. Yakin telah jatuh cinta


__ADS_3

Tepat jam 7 pagi Arini keluar dari kamar setelah mandi wajib dan ritual lainnya. Menuju dapur sambil mencari keberadaan sang suami yang pergi entah kemana. Setelah Arini masuk kamar mandi tadi.


Pandanganya diedarkan keseluruh ruangan dilantai bawah, masih sepi karena memeng hari ini hari libur. Mungkin masih bermalas - malasan dikamar.


" Assalamualaikum, pagi bik " ucap Arini mengagetkan bik siti yang tengah memasak nasi goreng untuk sarapan.


" Walaikumsalam, Mbak Arini ngagetin bibik aja."


" Kok sepi bik pada kemana?" sambil membuat teh untuk suaminya.


" Kalau hari libur gini Umi sama Abi jalan - jalan pagi disekitar kompleks, sedangkan yang yang lain masih dikamar kayaknya mbak."


" Ehmmmt, lihat mas Fa'i bik?"


" Mas Fa'i sepertinya tadi berenang ." jawab bik siti sambil mengaduk -aduk masakannya.


Arini lalu pergi kekolam renang yang ada dihalaman belakang. Namun tiba - tiba langkahnya terhenti saat melihat Fa'i dan Imam sedang berbincang serius dan menyebut namanya.


" Bagaimana apa semalam setelah itu berlanjut, lalu bagaimana tanggapan Arini? Apa dia menolakmu atau justru kamu yang memang belum mau.?" pertanyaaan memberondong Imam membuat Fa'i terkekeh.


Tapi, tidak dengan Arini yang mendengar dari balik pintu kaca itu, pipi Arini merona malu dan mengingat kejadian yang memalukan itu.


" Apa perlu aku menjawab semuanya, Lagian tidak baik membicarakan urusan seperti ini pada orang lain." Fa'i tersenyum dan teringat akan saat terindah dalam hidupnya yang baru saja terjadi beberapa puluh menit yang lalu.


" Yaa, benar. Tapi, aku menyimpulkan dari senyuman mu itu. Kalau telah terjadi dan kamu menjalankan tugasmu sebagai suami, benarkan ? Lalu bagaimana sekarang perasaanmu pada Arini, Yakin telah jatuh cinta ?"

__ADS_1


Lagi - lagi Fa'i hanya terkekeh mendengar kata- kata Imam. Yang memang sangat penasaran dan terus saja memberondong dengan pertanyaan - pertanyaannya itu.


" Sudahlah, jangan dibahas aku tidak mau dihari akhir nanti aku dilaknat ALLAH karena membicarakan itu. " Sahut Fa'i sambil beranjak dari sana dan kembali menceburkan dirinya kekolam lagi, berenang beberapa putaran lagi.


" Terima kasih suamiku karena kamu tidak mengatakan semuanya pada orang lain, cukuplah hanya kita berdua yang tahu, juga Allah tentunya." Gumah Arini dalam hati lalu beranjak dari sana, menghampiri mbak Amira juga Sarah yang baru saja kelur dari kamar sarah.


Meski malu tapi Arini berusaha bersikap wajar. Karena memang tidak ada yang salah dengan apa yang dilakukannya.


Bermesrahan dengan suami adalah ibadah yang dinilai pahala, hanya saja dari segi etika dan tata krama orang jawa yang membuatnya salah. Hingga berakibat hal yang cukup membuat malu dirinya.


" Assalmualaikum, cantik" Sapa Arini mentoel pipi cubby Sarah yang begitu menggemaskan.


" Walaikumsalam, tante cantikku" balas Sarah dan mbak Amira bersamaan.


" Kamu lucu sekali sih, gemes tante jadinya " kata Arini mengusap rambut Sarah yang sudah disisir rapi.


" Aduhhh, mbak Amira jangan gitu donk.!" gumah Arini pelan tapi masih bisa didengar mbak Amira.


" Iya, maaf. Dan maaf juga untuk yang semalam." kata mbak Amira yang memang sengaja menggoda Arini itu.


Arini hanya terkekeh lalu mengikuti mbak Amira juga Sarah kedapur untuk sarapan. Arini kembali meletakan cangkir berisi teh yang tadi ingin diberikan pada suaminya tapi tidak jadi itu.


Karena sedari tadi Arini belum melihat Sabina, akhirnya Arini kembali ke lantai 2 untuk melihat keadaan sahabatnya itu.


Tok... tok...tok....

__ADS_1


" Assalamualaukum, Bin" panggil Arini sambil mengetuk pintu kamar Sabina. Tapi, tak ada jawaban.


" Dia mungkin masih tidur Rin, karena tadi habis sholat subuh dia terus muntah.." kata Imam yang tiba - tiba datang dan diikuti Fa'i dari belakang menaiki tangga setelah puas berenang tadi.


" Ooo, yaa udah kalau gitu mas. Aku turun sarapan duluan yaa" kata Arini dan dijawab anggukan oleh Imam kemudian masuk kedalam kamarnya.


Deg.


jantung Arini seakan melompat saat melihat suaminya berdiri didepan kamar sambil tersenyum pada dirinya.


" Mas cepet mandi gih, terus sarapan. Apa mau aku buatkan teh hangat.?" kata Arini mendekat pada suaminya yang masih mengeringkan rambutnya dengan handuk yang mengalung dilehernya.


" Nanti saja bikin tehnya, sekarang temenin aku dulu. " jawab Fa'i menarik lengan Arini untuk masuk kedalam kamar. Kemudian menutup pintu yang telah dibuka sedari tadi.


" Rin, " lirih Fa'i yang lagi - lagi menatap Arini dengan tatapan yang membius, dan selalu saja membuat jantung Arini bekerja lebih cepat dari seharusnya.


" Sudah sana mandi, masih banyak waktu untuk menatapku seperti itu." sahut Arini yang sengaja menghindari tatapan itu.


Bukannya tidak mau,tapi yaa begitulah Arini yang tidak akan bisa bilang tidak pada Fa'i jika sudah menatapnya seperti itu.


" Iyaa... Iya... Aku mandi nyonya Rifa'i Hadi Assalam." kata Fa'i menggoda Arini dan


Cup


Fa'i mendaratkan ketjupan dipipi kanan Arini. Lalu bergegas kekamar mandi dengan seringai jail menyungging dibibirnya. Saat berbalik dan melihat Arini yang kaget dan pura - pura kesal melirik padanya.

__ADS_1


Setelah pintu kamar mandi itu ditutup. Arini tersenyum memegangi pipinya meski Fa'i sudah beberapa kali memberikan ketjupan - ketjupan pada nya. Tapi, selalu saja membuat wajah Arini merona merah jambu.


Terima kasih, jangan lupa tinggalkan jejak like and comment juga Votenya yaaa... 🙏🙏🙏


__ADS_2