
Dering jam menunjukkan pukul 3 pagi. Ketika ponsel Fa'i yang berada dinakas sebelah tampat tidur itu, berdering . Namun tak membangunkan siempunya saat itu. Tidurnya begitu lelap sambil terus mendekap tubuh polos sang Istri, setelah percintaannya semalam yang begitu melelahkan.
Arini perlahan mengerjabkan matanya, karena suara ponsel yang sedari tadi terus bergetar itu. Melihat sang suami yang masih begitu nyaman dengan mimpi indahnya. Membuat Arini tak tega membangunkan suaminya itu.
Lalu diambilnya ponsel itu, dengan sedikit usaha melepaskan tangan Fa'i dari perutnya. Juga menutupi tubuhnya dengan selimut, memang tidak ada yang melihat. Tapi Allah maha Melihat. Jika kita saja malu pada manusia kenapa kita tidak malu pada sang pencipta kita.
" Diana, kenapa jam segini dia menghubungi mas Fa'i.? Apa mereka masih berhubungan.?" batin Arini setelah melihat ponsel Fa'i yang tertera sebuah panngilan dari Diana.
" Aku angkat atau tidak." kebimbangan seketika memenuhi pikirannya. Lalu dengan ragu Arini mengangkatnya.
" Assalamualaikum. "
" Walaikumsalam, maaf Arini bisa saya berbicara dengan mas Fa'i. Ada hal penting yang harus saya bicarakan pada dia."
" Sebentar saya, bangunin dulu mas Fa'inya." jawab Arini tanpa bertanya lebih lanjut. Lalu diletakan ponsel itu disebelah kanannya dan mulai mengelus pipi Fa'i.
" Mas, mas Fa'i bangun dulu.!"
" Ehmmt, ada apa sayang ?" jawab Fa'i mulai membuka matanya dengan malas itu.
" Diana, menelfon mas."
__ADS_1
" Diana, ada apa jam segini menelfon.?" tanya Fa'i merasa kaget dan langsung bangun, duduk bersandar pada headboard. Arini mengedikkan bahunya sambil menyodorkan benda pipih itu pada suaminya.
" Assslamualaikum Di, ada apa?" tanya Fa'i dengan suara serak khas bangun tidur. Melihat Arini yang mulai beringsut untuk mengambil pakaiannya yang teronggok dilantai, Fa'i segera menarik Arini dalam dekapannya dengan secepat kilat. Karena tak mau nanti istrinya itu salah faham kepada dirinya.
" Bisa, kah aku minta tolong mas ?"
"Hm, apa?"
" Kemarin aku kerumah sakit dan dokter, menjelaskkan aku terkena tumor otak dan harus segera dioperasi, bisakah kamu saja yang melakukan operasi itu untuk ku.!"
" Tumor otak, " sahut Fa'i sedikit terkejut begitupun dengan Arini yang mendengar penjelasan maksud Diana menelfon pagi - pagi buta.
" Oke, besok datanglah kerumah sakit,! Aku akan berusaha membantumu."
..................
Sejak panggilan itu, hati Arini dibuat resah karenanya. Entah mengapa bayangan tantang suaminya dan Diana akan bersama memenuhi akal sehatnya.
" Astaqfirullah, mikir apa aku ini? Jangan suudzon pada suami sendiri. Aku harus percaya pada mas Fa'i, lagian dia semalam telah mengatakan dia mencintaiku, apa yang harus aku risaukan. Dia adalah suamiku, dia milikku hanya milikku"
" Sayang, kok malah bengong sih, ada apa?"
__ADS_1
" Haa, nggak aku cuma kepikiran soal Diana." jawab Arini menoleh pada suaminya karena sedari tadi Arini hanya melihat keluar kaca mobil saat mereka berangkat bekerja.
" Ooo, jadi kamu cemburu? Arini diriku, hati dan cintaku sekarang adalah milikmu, karena itu jangan pernah berfikir macam - macam yaa. Dan kamu tahu, kenapa aku menarikmu dalam pelukanku tadi saat aku berbicara dengan Diana. ?" Jawab Fa'i menepikan mobilnya karena sudah sampai di sekolah itu. Arini hanya menggeleng pelan, sambil menatap wajah suaminya.
" Ehmmm, itu karena aku ingin kamu ikut mendengarkannya, agar tak ada salah faham diantara kita. Dan kamu maukan percya sama suami kamu ini.?"
" Iya, Aku percaya kok mas. Tapi, apa aku tak boleh cemburu pada Diana. ?"
" Aku malah senang sayang kalau kamu cemburu. Love is accompanied by jealousy because without jealousy love does not exist ." Ucap Fa'i sambil mencium punggung tangan Arini.
" Kamu manis banget sih mas." kata Arini yang merasa suaminya benar - benar romantis kali ini. Sampai -sampai pipinya merona.
" Maaf yaa mas, aku sudah membayangkan yang tidak -tidak tentang kamu. " lanjut Arini menundukkan wajahnya.
" Heemt, gpp. aku seneng kamu menunjukan apa yang kamu rasakannya. Bukan hanya diam dan menganggap semuanya akan baik - baik saja dengan sendirinya. "
" Terima kasih, mas sudah mengerti aku. "
" Mas juga berterima kasih karena kamu cemburu pada mas." Kata Fa'i menangkupkan kedua tanganya diwajah istrinya. Lalu mencium kening Arini.
" Aku turun yaa mas, kamu hati - hati dijalan." kata Arini setelah mencium tangan suaminya lalu turun setelah memberi salam. Membiarkan suaminya pergi melaksanakan tugasnya sebagai dokter.
__ADS_1
Meski mulai hari Fa'i akan menjadi dokter yang menangani penyakit Diana. Mereka akan sering bertemu dan berinteraksi. Meski hanya sebatas dokter dan pasien. Tapi dulu mereka pernah berbagi cinta dan kenangan indah cinta pertama.