
" Yaa Allah, tanangkan hatiku jadikan cemburuku ini sebagai alasan karena hambamu ini semakin mencintai suami hamba dan menjadikan lebih banyak bersyukur atas segala nikmatMu. Kuatkan imanku yaa Rabb, jangan biarkan setan mempengaruhi pikiran dan hatiku lebih dalam lagi, sehingga membuatku cemburu buta pada suami hamba sendiri. "
Doa Arini ketika bayangan yang dia pikirkan sendiri tantang suaminya dan Diana kembali melintas begitu saja. Saat dirinya selesai mengajar dan ingin segera pulang.
" Tante, Arini pulang bareng Danies yuk," kata Danies yang tiba - tiba datang dengan Papanya saat Arini kelur dari kantor guru menuju pintu gebang.
" Ehhh Danies, Maaf yaa sayang tante gak bisa lagian kan Danies harus segera pulang istirahat bobok siang. Danies mau jadi anak yang patuh kan." Jawab Arini sambil mensejajarkan tingginya dengan Danies
" Ayolah, Rin biar kami antar kamu. !"Sambung pak Andi yang sejujurnya ingin sekali berbincang lebih lama dengan Arini. Karena dirinya telah benar - benar jatuh hati pada Arini.
" Maaf sekali lagi pak Andi, saya tidak bisa dan terima kasih atas tawarannya. Seharusnya bapak faham saya sudah bersuami dan tidak baik jika saya menerima ajakan bapak. Saya menghormati bapak jadi tolang hargai rasa hormat saya pada bapak. " Jawab Arini dengan tegas karena tidak ingin melakukan hal yang tidak sepantasnya dilakukan seorang istri, dirinya harus menjaga perasaan suaminya.
Mungkin memang suaminya tidak tahu tapi Allah maha mengetahui. Jika dia tidak ingin disakiti dan dibuat cemburu oleh suaminya setidaknya dirinya akan selalu menjaga sikapnya untuk berhati - hati dan tidak menyakiti hati suaminya apalagi membuatnya cemburu.
" Danies, tante duluan yaa. Assalamualaikum."
ucap Arini mengusap rambut anak kecil itu lalu melangkah pergi dari sana setelah mereka menjawab salam darinya.
" Arini seandainya saya yang lebih dulu berjumpa denganmu mungkin sekarang kita sudah hidup bahagia. Kamu benar - benar wanita yang baik dan sempurna Arini. Pantas saja Fa'i lebih memilihmu dari pada Diana. " gumah Andi dalam hati sambil terus memandangi punggung Arini yang semakin menjauh itu.
__ADS_1
" Semoga dengan sikap ku yang seperti ini pada laki - laki lain. Allah akan selalu mengingatkan mas Fa'i tantang menjaga sikapnya pada perempuan lain juga. Aamiin." batin Arini setelah masuk kedalam taxsi online yang tadi dia pesan.
.....................
Sejak pagi Fa'i disibukkan dengan beberapa jadwal operasi. Dan membuat Diana menunggu hingga waktu makan siang tiba.
" Maaf, yaa Di sudah membuatmu menunggu." Ucap Fa'i yang segera menemui Diana setelah operasi terakhir selesai dan ruang dokter bedah dipoliklinik sudah sepi. Tinggal beberapa pasien dipoliklinik lainnya saja yang masih menunggu giliran.
" Iya, gpp mas." Jawab Diana yang kini duduk didepan Fa'i dengan raut wajah yang penuh kebimbangan juga rasa takut.
" Suster Fani, tolong hasil dari pemeriksaan nona Diana yang sudah saya perintahkan tadi." Kata Fa'i kapada suster Fani asistennya dipoliklinik itu.
Melihat hasil Leb, CT -scan dan sederet prosedur pemeriksaan lainnya memang mengharuskan untuk segera dilakukan tindakan bedah untuk mengangkat sel -.sel tumor diotaknya.
" Apakah, besok lusa kamu sudah siap Di?" Ucap dokter Fa'i seraya menatap wajah Diana yang nampak lesu itu. Diana pun tersenyum tipis.
" Lakukan apa saja Mas, kamu lebih faham yang harus dilakukan untuk membantuku sembuh. "
" Kamu harus semangat yaa Di, InsyaAllah kamu sembuh. Aku akan melakukan yang terbaik dan yang aku bisa untuk membantumu." Ucap Fa'i menyakinkan Diana
__ADS_1
" Mas, apa kamu masih mencintaiku.?"
Sebuah pertanyaan dari Diana yang membuat jantungnya serasa berhenti saat itu juga. Kamudian kenangan masa lalu bersamanya muncul begitu saja, kenangan semasa kuliah yang indah saat bersama - sama menggampai mimpi dan cita -cita, kenangan akan indanya cinta pertama. Masa -masa indah saat pacaran dulu untuk sesaat membuat perasaan Fa'i campur aduk.
" Ada apa ini, mengapa perasaanku seperti ini mengingat saat kebersamaanku dengan Diana. Apa masih ada cinta yang tersisa untuknya." Gumah Fa'i dalam bisikan hatinya mengingat kenangan saat kebersamaan mereka dulu.
Astaqfirullah, Fa'i apa yang kamu pikirkan. Sekarang dirimu, hati, cinta dan bahkan seluruh hidupmu setiap nafasmu adalah untuk Arini.. Yaa hanya Arini dia lah Istriku, Cinta sejatiku, belahan jiwaku." kata hati lainnya yang mengingatkannya pada Arin**i.
" Hemmt, Di. Janganlah mengingat masa lalu. Walaupun kita pernah bersama, tapi Allah tidak mentakdirkan kita untuk berjodoh. Aku sudah beristri dan aku berharap kamu akan segera menemukan jodoh kamu."
" Aamiin, maaf yaa mas. Aku sudah bertanya hal yang tidak pantas_" Jawab Diana menundukan wajahnya karena merasa malu pada dokter Fa'i.
" Tidak apa -apa, Lebih baik kamu mempersiapkan diri untuk operasi dan perawatan lainnya agar nantinya tidak perlu waktu lama untuk kamu kembali pulih." Kata Fa'i sambil tersenyum pada Diana yang dari cara menatap dokter Fa'i masih terlihat ada cinta untuk laki - laki yang menjadi cinta pertamanya itu.
Setelah Diana pergi dari hadapannya, Fa'i menghembuskan nafas kasar. Karena sedari tadi pikirannya cukup kacau akibat pertanyaan Diana. Meskipun tidak bisa dipungkiri Diana cukup berperan dalam hidupnya, terlebih masa lalunya.
Namun, kini Fa'i dengan sepenuh hati menerima takdir Allah bahwa jodohnya adalah Arini wanita yang selalu mampu membuat hari - harinya begitu Indah dan membuatnya terus mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah SWT.
Terima kasih sudah mampir jangan lupa like,comment and Vote yaa. aku tunggu.
__ADS_1
Untuk semuanya semoga kita terhindar dari Covid 19. Dan semoga Bumi kita lekas sembuh. Semoga Allah selalu melindungi kita semua. Aamiin.