Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
42. Penghilang mual


__ADS_3

" Mas,..."


lirih Arini yang kini berbaring diranjang, dalam dekapan sang suami yang begitu hangat dan nyaman.


" Hemmt..."


" Aku masih bingung, kenapa pagi tadi kamu udah dikamar ini. Sejak kapan...."


Sambil membelai rambut panjang sang istri, Fa'i menghela nafas pelan mengingat persidangan antar saudara diapartemennya kemaren malam. Yaa, saat dirinya ditampar oleh mbak Amira untuk pertama kalinya.


Flashback on ( Fa'i pov )


Tamparan mbak Amira tak seberapa sakit, jika dibandingkan rasa sakit hati Arini. Sikap gegabahku yang membuatku menyakiti istriku.


Aku sungguh menyesal menyakiti Arini, aku hampir saja gila karenanya.


Perkataan mas Haris dan Imam benar - benar menusuk hatiku. Aku baru sadar, Arini tak memiliki siapapun didunia ini kecuali aku suaminya.


Aku harusnya menjaganya dengan segenap jiwa dan ragaku. Tapi, aku malah menyakitinya.


" Temui, Arini sekarang. Dia ada dirumah, mbak tidak akan pernah memaafkanmu jika kamu menyakiti Arini karena Diana. " Ancaman Mbak Amira yang sangat kecewa padaku.


Dan Malam itu, perlahan aku mendekati Arini yang sudah terlelap dikamarku. Seketika mataku basah melihat keadaan Arini, bekas air mata yang mulai mengering masih terlihat jelas dipipinya. Wajahnya begitu pucat seolah kesedihan hatinya tetap nampak terlihat jelas diwajah cantiknya.


" Maafkan mas yaa Rin, " lirihku sambil menyilakan anak rambutnya yang menutupi keningnya.


Ku ketjup keningnya dan ku usap perutnya yang kini telah tumbuh calon anak kami, buah cinta kami.


Setelah puas memandangi wajahnya. Aku beranjak kesofa untuk merebahkan tubuhku. Bisa saja aku tidur disebelah Arini, Tapi, gerakan kecil saja bisa membuatnya bangun. Aku tak ingin mengusik mimpinya.


Flashback off


Arini tersenyum mendengarkan cerita sang suami. Matanya berkaca - kaca, terharu.


dalam hati Arini berdoa.

__ADS_1


" Semoga apapun ujian Cinta kami bisa membuat rasa cinta itu semakin kuat. Dan atas ijinMu yaa Rabb., semoga kami tetap bersama hingga maut memisahkan dan semoga Kau persatukan kami lagi diJannahMu kelak."


......................


Hooooeeekkk..... Hooooeeeekkk


Suara itu terdengar sebelum subuh menjelang, kala Fa'i dan Arini selesai melakukan ibadah menghadap sang Ilahi disepertiga malam. Untuk memanjatkan rasa syukur akan anugerah terindah sebagai pengikat cinta antar keduanya.


" Sayang, minum air hangat ini dulu.!" kata Fa'i lembut setelah Arini memutahkan seluruh isi perutnya.


" Terima kasih mas."


Jawab Arini duduk ditepi ranjang menerima gelas berisi air hangat dari suaminya itu. Lalu meneguknya, terasa hangat diperut yang terasa masih seperti diaduk - aduk itu.


" Masih mual kah...?" Tanya Fa'i mengelap bibir Arini dengan ibu jarinya yang basah setelah minum tadi.


Arini yang memejamkan matanya menahan mual yang masih saja bergulung diperutnya. Sementara hanya anggukan yang diberikan sebagai jawaban dari pertanyaan sang suami.


Arini kembali berlari kecil menuju wastafel dikamar mandi, kembali memuntahkan air minum yang baru saja diteguknya itu.


Mulutnya terasa pahit karena cairan bening yang keluar melalui mulutnya bercampur dengan cairan lambung berwarna agak kekuningan.


Fa'i pun mengikutinya, dari belakang. Tangan kanannya lantas memijat tengguk Arini. Sedang tangan kirinya mengusap lembut perut Arini.


" Tak tega rasanya melihat Arini harus seperti ini setiap pagi. Yaa, Allah berikan kekuatan pada istri hambamu ini.. Dengan ijinmu Dia telah mengandung buah cinta kami. Semoga kelak anak kami memjadi hambamu yang taat dan berjihat dijalan yang kau ridhoi yaa Rabb."


Arini kembali berjalan ketempat tidur. Tubuhnya lemas tak bertenaga. Fa'i yang memapahnya terlihat cemas dengan kondisi sang istri.


Meskipun dirinya seorang dokter yang sedikit banyak faham kondisi Arini. Tapi , tetap saja sebagai seorang suami dan juga manusia biasa dirinya tetap cemas dan tak tega melihatnya.


Yaa, karena ikatan cinta itulah yang membuatnya terlihat seperti itu. Kala melihat sang istri dalam kondisi seperti itu cukup mengiris hatinya.


Fa'i menarik Arini dalam dekapannya, mengecup puncak kepala istri. Berharap bisa merasakan apa yang tengah dirasakan sang istri saat ini.


Sementara Arini memejamkan matanya, menarik nafas dalam - dalam. Mencium aroma maskulin yang menguar dari tubuh sang suami.

__ADS_1


Entah mengapa aroma itu membuat Arini begitu nyaman, rasa mual dari perutnya perlahan menghilang tak lagi mengaduk -aduk seperti tadi.


" Mas..."


" Heemt..."


" Aku suka aroma maskulin dari tubuhmu. Enak, mualku sudah mulai berkurang..." ucap Arini tersenyum dan terus meraup oksigen beraroma maskulin itu. Aroma yang benar - benar membuatnya nyaman sekali dalam dekapan sang suami.


" Sungguh, "


" HEhmmt... " Arini mengangguk setelah mendongakkan wajahnya, menatap wajah sang suami yang terlihat senang.


" Agaknya calon anak kita menginginkan ayah dan ibunya sering menghabiskan waktu untuk bersama. Atau mungkin kamu yang pingin deket terus sama mas yaa." Goda Fa'i yang membuat Arini seketika merona kedua pipi merahnya semakin merah saja.


" Ooyaa, Rin. Mas hampir lupa. Besok lusa mas harus ke Jogja untuk mengisi seminar dikampus XXX. Selama 2 hari. Kamu gak apa - apa kan mas tinggal."


Wajah Arini seketika berubah cemberut, entah mengapa dirinya tak ingin jauh dari sang suami. Sekarang seorang Arini memang dalam keadaan emosi yang benar - benar naik turun.


" Ehhh, jangan cemberut gitu sayang kan cuma 2 hari. Sebenarnya mas ingin mengajakmu. Tapi, kondisi kamu tidak baik untuk pergi jauh.!" sambung Fa'i menatap manik mata coklat Arini lekat - lekat.


Sementara Arini tersenyum manis setelah emosinya kembali turun. Fa'i membelai wajah Arini yang tidak sepucat tadi. Pipi merahnya sudah kembali.


" Terima kasih, karena kamu hadir dihidup mas, sayang.... Mas tidak lagi menyesal menikah denganmu. Mas bersyukur karena Allah memberiku jodoh seorang wanita yang sangat Istimewa sepertimu." ucap Fa'i begitu romantis saat wajahnya mendekat dan telah siap menc*um Arini, adzan subuh telah berkumandang. Panggilan cinta Allah mengharuskannya menghentikan perbuatannya itu.


" Sepertinya, Allah tidak ingin mas terlalu mencintaiku melebihi cinta mas kepada Allah."


" Kamu benar sayang, Allah mengingatkan kita untuk tidak terlalu besar mencintai ciptaannya. Melebihi cinta kita pada sang penciptaNya."


Fa'i segera bangkit dari duduknya, mengambil perlengkapan sholat untuk sholat berjamaah dimasjid. Dan meminta Arini untuk sholat dulu sebelum kembali istrirahat karena tubuhnya masih terasa lemas.


" Jaga kami selalu dijalanmu yaa Allah. Jadikan kami hamba - hambamu yang senang tiasa bersyukur atas segala cinta dan kebaikan Mu kepada kami. " Aamiin.


***Terima kasih sudah mampir jangan lupa like , Comment dan Vote yaa.


Sehat selalu semua, semoga Allah me limpahkan cintanya kepada kita semua. Aamiin***..

__ADS_1


__ADS_2