Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
31. Berduka


__ADS_3

" Ibu mas, ibu dan mbak Ani mas, mereka pergi ninggalin aku." jawab Arini yang terus menangis dalam dekapan Fa'i. Mendengarnya Fa'i mengerti apa yang terjadi.


" Yang sabar yaa, mas tahu ini berat. Tapi apa kamu ragu akan kuasa Allah. Dan kamu nggak akan sendirian ada mas, yang akan selalu bersamamu. "


ucapan sederhana Fa'i membuatnya sedikit lebih tenang. Perlahan Arini menghembuskan nafasnya, memenangkan dirinya. Dalam pelukan suaminya itu.


" Sebentar yaa, mas cari tahu apa ada penerbangan kesana, Malam ini juga. sudah jangan nangis lagi. " ucap Fa'i penuh kelembutan dan menghapus air mata dipipi istrinya itu.


Setelah mencari lewat aplikasi Xxxx, akhirnya Fa'i mendapat penerbangan tercepat yaitu besok pagi jam 4. Tapi tak apa itu sudah lebih baik.


Semalaman Arini hanya diam dengan air mata yang terus berlinar dipipinya. Bahkan dia tidak tidur sama sekali. Fa'i sudah membujuknya berulang kali agar Arini tidur meski hanya sebentar.Tapi, percuma kali ini Arini benar - benar sulit untuk diajak bicara. Dia hanya memikirkan Ibu dan kakaknya.


Fa'i melirik jam tangan dipergelangan tangan kanannya. Jam 3 dini hari, mereka telah sampai di bandara. Bersama Imam, mbak Amira, mas Haris juga Abi saja yang ikut serta. Keadaan Sabina yang tengah hamil muda dan kondisi kesehatan Umi yang menurun akhir - akhir ini. Membuatnya tidak bisa ikut serta.


Arini masih diam tak bergeming, tak sepatah kata pun terlontar dari mulutnya. Fa'i begitu sedih dan tak tega melihat istrinya seperti ini.


Digenggamnya tangan Arini dengan sangat erat, dan sesekali menghapus air mata istrinya itu dengan tissu yang diberikan mbak Amira yang turut menguatkan hati Arini dengan mengusap - usap punggung Arini.


Tepat jam 6 pagi mereka semua tiba dirumah alm ibunya Arini. Arini langsung bersimpuh didekat kedua jenazah orang yang di sayanginya itu. Suaminya pun turut bersimpuh disana merengkuh Arini dalam pelukannya. Fa'i bisa merasakan kesedihan istrinya.


Tak ada yang bisa menyangkal, kehilangan orang tua dan saudara secara bersamaan pastilah begitu menyesakkan dada.


" Ibu "

__ADS_1


"Mbak Ani "


" Kenapa kalian tinggalin aku huuuu"


Arini begitu terpukul kehilangan mereka, dan sebuah penyesalan karena disaat - saat terakhir mereka, Arini tak berada didekat Ibu dan kakaknya itu.


" Sudah, yaa Rin. Mbak tahu kamu sangat sedih. Kita semua juga sedih dan kehilangan. Tapi, kamu harus ikhlas menerimanya. Ini sudah menjadi ketetapan ALLAH SWT. " Ucap Mbak Amira yang menemani Arini dikamarnya. Setelah pemakaman tadi selesai dan para petakziah sudah pada pulang.


Arini masih tak bergeming, meski sudah berhenti menangis. Tapi, tatapannya kosong entah kemana pikiranya berkelana.


Klekkkk,


Suara kenop pintu kamar Arini dibuka dari luar, lalu masuklah Fa'i setelah tadi berbincang dengan mas Anto dan keluarga lainnya.


" Mbak, duluan yaa Fa!" lanjut mbak Amira yang hanya mendapat anggukan dari Arini tadi.


" Iya , mbak hati - hati juga yang lain. maaf aku nggak bisa nganter. Aku nggak bisa ninggalin Arini dalam kondisi seperti ini. "


Setelah mbak Amira pergi dari sana Fa'i mendekati Arini yang menyandarkan kepalanya pada headboard tempat tidur.


" Sayang, sudah yaa jangan nangis terus kamu harus ikhlas menerima semua ini." ucap Fa'i menarik Arini dalam pelukannya.


Mengelus punggung Arini yang kini telah melingkarkan tanganya pada pinggang suaminya. Inilah yang dibutuhkan Arini saat ini, dekapan hangat sang suami yang mampu menjadi sandaran yang memberikan ketenangan baginya.

__ADS_1


.................


Sudah berhari - hari sejak kejadian itu, Arini masih saja larut dalam kesedihannya. meski kini telah pulang ke apartemen. Fa'i sang suamipun sudah berusaha menghibur dan menasehatinya. Tapi tetap saja Arini diam seolah sebagian dari jiwanya hilang.


Dia pun tak lagi datang kesekolah untuk mengajar, setiap hari hanya dirumah meratapi kepergian Ibu dan kakaknya.


Tak peduli pada apapun dan tak lagi peduli apalagi merawat dirinya sendiri juga suaminya. Arini benar - benar depresi karena semua itu.


" Rin, mas tahu kamu begitu terpukul dengan kepergian Ibu dan mbak Ani. Tapi kamu harus ikhlas, ini sudah menjadi ketetapan Allah. "


ucap Fa'i pelan menghampiri Arini yang tengah duduk dimeja makan pagi itu untuk sarapan. Tapi, Arini tak bergeming sama sekali, tangan kanannya hanya mengaduk - aduk makanan dipiring itu.


Melihat Arini yang selalu diam tak menaggapi dirinya sama sekali, membuat Fa'i meraup wajahnya gusar. Kesabarannya telah habis dan emosi yang ditahan beberapa hari ini akhirnya meledak.


" Sampai kapan kamu mau seperti ini Arini ? Ini sudah hampir 2 minggu. Heeeh, mana Arini yang dulu , Arini yang selalu sabar, dan percaya pada TuhanNya. Arini yang dewasa yang mampu menjalani segala cobaan hidupnya. Apa kamu mau menjadi seorang muslim yang jauh dari Tuhannya. Ibu dan mbak Ani pasti kecewa dengan kamu yang seperti ini. " Kata Fa'i yang menaikan intonasi suaranya karena marah pada sikap Arini.


" Aku juga kecewa dengan sikap kamu ini , Arini. " lanjut Fa'i yang langsung pergi kerumah sakit meninggalkan Arini sendiri yang menangis itu.


Arini mencerna semua perkataan suaminya tadi, sambil terus menangis dalam sholatnya. Arini memohon ampunan Allah SWT, atas segala sikapnya yang tidak mencerminkan seorang hambaNya yang mengimani segala ketetapan Rabbnya.


Sekarang dirinya menyadari segala kesalahan karena terlalu larut dalam kesedihan. Dirinya bersalah karena tidak memperdulikan suaminya.


Maaf yaa digantungin sama Authornya. hhhh

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir jangan lupa Vote. Like and Commentnya. Jangan bosan yaa.


__ADS_2