Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
19. Nasehat mbak Amira ( Part 2)


__ADS_3

Sementara Sabina yang dari tadi mendengar pembicaraan mereka berdua pun merasa senang, karena rencananya bisa dibilang berhasil.


Arini mau mendengarkan mbak Amira. Dan rencana satunya pun sepertinya juga berhasil.


Sebenarnya sebelum tadi meninggalkan Arini dan mbak Amira untuk bicara berdua. Dia telah menghubungi Imam seperti yang telah direncanakan.


Sedangkan Imam mengajak Fa'i untuk mendengarkan semuanya. Sabina meletakan ponselnya dimeja itu supaya Imam dan Fa'i bisa mendengarnya.


Rencana yang sempurna bukan, untuk menpersatukan dua orang yang aneh itu, Fa'i yang seorang Bucin kalau kata anak zaman now. Sedangkan Arini yang terlampau baik atau bahkan bisa dibilang bodoh.


" Assalamualaikun, " kata Fa'i dan Imam bersamaan pas sampai diapatemen Fa'i.


" Walaikumsalam" jawab Arini, Sabina dan mbak Amira bersamaan.


" Akhirnya kamu datang juga sayang" kata Sabina yang seperti biasa selalu bersikap manja pada Imam suaminya. Sementara Iman hanya tersenyum pada Sabina .


"Udah mesrah - mesrahanya dirumah saja. ini Umi udah WA suruh cepat pulang." kata mbak Amira sedikit berbohong supaya bisa cepat pergi dari sana dan memberikan waktu, pada Arini dan Fa'i untuk berbicara berdua.

__ADS_1


" Rin, mbak pulang dulu yaa. Hari minggu jangan lupa pesenan kue mbak yaa.!"


" Iya, mbak hati - hati yaa. Semuanya hati - hati juga." kata Arini mengantar sampai depan pintu bersama dengan Fa'i yang dari tadi masih dicuekin itu.


Setelah mengucapkan salam mereka masuk kedalam lift dan menghilang dari pandangan. Arini pun masuk kedalam lalu menuju kamar untuk membersihkan diri dan sholat ashar.


" Anda sudah sholat Dokter?" tanya Arini pada Fa'i yang baru saja masuk kamar setelah Arini selesai sholat dan melipat mukena juga sajadahnya.


" Sudah tadi berjamaah dimasjid bareng Imam juga tadi, aku mandi dulu Yaa" jawab Fa'i yang menerbitkan senyuman termanisnya. Sepertinya Arini memahami dan melakukan segala hal yang dikatakan Amira tadi.


Selesai membersihkan diri dan berpakaian santai yang telah disediakan Arini diatas tampat tidur.


Tapi, langkahnya terhenti kala menyadari penampilan Arini yang sangat berbeda.


Inilah kali pertama Fa'i melihat Arini tidak memakai hijab untuk menutupi rambutnya yang panjang dan lurus itu.


Dia pun hanya mengenakan , celana trening warna krem, dan kaus longgar warna putih bersih bermotif abstrak. Terlihat begitu cantik dimata seorang suami. Karena pada dasarnya Fa'i menyukai wanita berambut penjang.

__ADS_1


" Dosa nggak sih, aku berpikir macam - macam." gumah Fa'i menelan salivanya, mencoba mengendalikan dirinya.


" Boleh aku duduk?" kata Fa'i yang entah mengapa merasa sangat gugup dan jantungnya berdebar kencang.


" Boleh, Silahkan!"


"Apa anda mau minum teh?" tanya Arini sambil menyerahkan secangkir teh hangat kepada Fa'i yang memang dibuat Arini untuknya.


" Bisa kita mulai semuanya dari awal.?" tanya Fa'i memecah keheningan diantara mereka, yang terjadi beberapa saat yang lalu. Arini menoleh menatap wajah suaminya.


" Bagaimana dengan perasaan Anda pada Diana?. Apa anda tidak ingin memilikinya?"


" Tidak,. mungkin saat ini aku masih mencintainya. Tapi, bukankah ini salah harusnya aku tidak menuruti egoku dan obsesiku, hingga aku tak menyadari perbuatanku adalah dosa besar yang dilarang Allah." jawab Fa'i berhenti sejenak dan menarik nafas dalam.


"Aku memilih dia yang haram bagiku dan mengabaikanmu yang halal bagiku. Aku sudah terlalu banyak menyakiti hatimu, Maafkan aku Arini!" Sambung Fa'i meraup wajahnya dengan kasar karena frustasi, mengingat dosa dan kebodohannya selama ini.


" Apa anda sungguh - sungguh?"

__ADS_1


" Yaa, aku ingin memperbaikinya Arini, aku tak ingin semakin terjerumus pada tipu daya setan yang membuat ku semakin tersesat. Hingga tak ada lagi iman didalam diri ku.


Maafkan aku Arini, kamu maukan memberi kesempatan pada suamimu yang berdosa ini" Kata Fa'i sungguh - sungguh dan berlutut di depan Arini, tangannya menggenggam jemari istrinya. Seraya menatap mata indah Arini yang begitu teduh. Arini menitikan air mata haru sambil tersenyum bahagia, melihat kesungguhan dari mata sang suami yang begitu didambakannya itu.


__ADS_2