Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
68. Imam


__ADS_3

" Maafkan, aku mbak.!" ucap Arini berhambur memeluk Amira yang menyambut kedatangannya dengan uraian air mata bahagia.


Bukan, tanpa alasan Amira sudah menganggap dan menyayangi Arini seperti adik kandungnya. Ketulusan dan kelembutan sosoknya itu yang membuat semua orang dengan mudahnya menyayangi Arini.


Tak ada satu kata pun yang menggambarkan kebahagiaan dan kelegaan hati Amira saat ini. Selama setahun berusaha mencari akhirnya bisa bertemu kembali.


" Jangan pergi lagi yaa, Rin.! Kita mulai semua dari awal yaa, membuka lembaran baru untuk kebaikan kehidupan kita kedepannya."


Arini mengangguk haru. Tak menyangka ada seseorang yang begitu peduli pada wanita sebatang sepertinya.


Imam tersenyum melihat Arini yang begitu bahagia. Meskipun air matanya terus meleleh, tapi bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.


" Kita adalah keluarga, jadi jangan pernah kamu pergi lagi. Kita selesaikan masalah yang ada, bersama - sama.! " kata mas Haris bijaksana.


Benar kata mas Haris, masalah tak akan pernah selesai dengan menghindarinya. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan cara yang baik.


**


Setelah drama pertemuan yang penuh haru. Arini bercengkrama dengan Aisya disofa ruang keluarga. Walau baru bertemu setelah sekian tahun, Aisya nampak begitu nyaman didekat Arini. Begitupun Arini yang terlihat sangat bahagia.


Imam duduk bersandar dimeja makan mengamati dua orang dihatinya saat ini. Senyum manis itu bisa dilihat oleh Imam lagi. Walau hanya senyuman dan bukan untuknya, tapi Imam senang melihat itu.


" Masih, cinta kan?" tanya mas Haris mengagetkan.


" Eh, mas. Ehmm, " Imam mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Sudahlah, dikhitbah aja. Buruan sebelum keduluan yang lain.!"


Deg, sesaat Imam ingat kalau Andi juga masih menaruh hati pada Arini. Pasti dia tidak akan menyia - nyiakan kesempatan ini.


" Amira, berniat ngenalin Firman pada Arini."


" Ukhuuk...ukhuk..!" Imam pun tersedak mendengar perkataan itu. Dadanya bergemuruh hebat. Takut, cemburu sudah pasti.


" Yaa, gak apa - apakan mas. Firman laki - laki yang baik, cocok untuk menggantikan Fa'i dihati Arini. Aku percaya jika mereka berjodoh pasti Firman akan membuat Arini bahagia.!"

__ADS_1


Imam menghela nafas dalam, jujur saja hatinya terasa sesak membayangkan Arini berjodoh dengan laki - laki selain dirinya.


" Lagian, aku sudah berjanji akan menjauh darinya. Jika dia mau kembali." lanjut Imam berusaha tetap tegar.


" Kamu serius, Mam.? Dia Arini lho Mam.! Liat Aisya begitu bahagia didekat Arini. Kamu tidak ingin berjuang untuk menjadikan Arini bundanya Aisya.?"


" Arini memang bundanya Aisya kan, Mas!"


" Maksud, mas_ "


Imam tersenyum lalu bergeleng,


" Aku tahu maksud, mas Haris. Mungkin benginilah caraku mencintainya mas. Aku nggak mau dia lebih menderita jika bersamaku. Rasa kecewanya padaku masih sangat dalam. Demi Aisya pasti dia mau, tapi pasti sulit menerima ku.!"


Haris pun mengerti posisi Imam yang serba salah. Rumit memang! Tak banyak yang bisa dilakukan, hanya berpasrah pada Allah SWT. Biarlah takdir yang berbicara.


Amira sangat bersemangat untuk memjodohkan Firman dan Arini. Baginya hanya Firman yang cocok untuk menggantikan alm. Fa'i dihati Arini. Firman laki - laki sholeh dengan iman yang kuat. Dia juga seorang Dosen disalah satu universitas Islam. Mengajar materi Hadist dan tafsir.


" Sayang, kamu serius menjodohkan Arini dan Firman.?" tanya Haris malam itu, saat keduanya bersiap untuk beristirahat.


" Apa gak terlalu cepat.?"


" Yaa, kan. Kenalan dulu mas. Nanti kedepannya biar mereka yang menentukan. Lanjut atau tidak. Tapi, aku berharapnya mereka berjodoh."


" Lalu bagaimana dengan Imam. Bukankah lebih baik sama Imam aja yaa.?"


" Mas, kan tahu gimana kecewanya aku dan Arini pada Imam. Arini pasti gak akan mau juga."


Haris menghela nafas panjang, sejujurnya dia lebih setuju jika Imam dan Arini bersatu. Bukan tanpa alasan, Haris tahu benar hati Imam. Cinta laki - laki itu terlampau tulus pada Arini. Apalagi kepribadian Imam yang dewasa dan tenang dalam bertindak menambah poin plus dimata Haris.


" Mas, lebih setuju kalau Arini sama Imam berjodoh. Setidaknya cintanya pada Arini benar - benar tulus. Soal kesetiaan juga gak perlu diragukan. Dan yang paling penting semua demi kebahagiaan Aisya."


" Nggak, aku berharap dan maunya Arini sama Firman. Aisya pasti bahagia, meski Arini tak menikah dengan Imam. Arini akan tetap jadi bundanya Aisya."


Haris tak bisa berbicara lagi. Amira memang kekeh pada pendiriannya sejak beberapa bulan lalu, dia sudah merencanakan hal ini

__ADS_1


Jika suatu saat Arini kembali.


Dan benar saja, Arini kembali disaat yang tepat. Firman juga telah pulang dan benar - benar menetap ditanah Arini sejak 2 bulan lalu.


Ditempat lain, Imam berdiam diri ditepi ranjang tidurnya. Sekilas ingatan tentang Arini kembali mengusik pikirannya. Janjinya pada wanita itu, membuat hatinya sedikit bimbang.


Bukan karena cintanya yang masih terlampau dalam. Tapi, karena tawa bahagia Aisya lah yang membuatnya ragu.


*Aisya membutuhkan sosok seorang ibu, dia sangat nyaman didekat Arini. Bagaimana mungkin aku tega pergi lagi dengan membawa Aisya. Sedangkan aku telah berjanji pada Arini, akan menjauh dari hidupnya.


Apa benar kata mas Haris, kalau aku harus memperjuangkan Arini.?


Apa aku harus berusaha menjadikan Arini bunda Aisya yang sesungguhnya.?


Yaa, Allah. Langkah apa yang harus aku ambil sekarang. Tunjukan jalan terbaikMu. Hamba tidak ingin menyakiti hati siapa pun lagi*.


Hati dan pikiran Imam pun tak sejalan. Pertanyaan - pertanyaan itu seolah berputar - putar memenuhi otaknya.


Menghela nafas kasar, Imam mengambil ponsel di nakas sebelah kiri ranjangnya. Lalu bersandar pada head board, mulai membuka galeri foto di ponsel itu. Membuka foto yang masih sesekali dia pandangi saat hati dan pikirannya tak sejalan.


Foto dua orang wanita yang hadir didalam hidupnya. Sama - sama membuatnya jatuh cinta karena ketulusan hatinya. Sabina, alm. istrinya, jujur tak akan pernah ada yang menggantikan sosok itu dihidupnya bahkan Arini sekalipun. Tapi, Arini juga tak kalah berarti dihatinya, dialah wanita lain yang membuatnya bangkit dari keterpurukan saat kehilangan Sabina.


Haruskah aku pergi lagi dari hidup Arini, Bin.?


Kalian berdua sama - sama membautku jatuh cinta dengan mudahnya. Aku tak pernah menyangka takdir membuatku harus belajar ikhlas dalam mencintai.


Andai aku bisa memilih, tak akan mau jatuh cinta lagi, Bin. Terlebih jatuh cinta pada Arini. Maaf karena sekarang, ada cinta lain dihatiku.


Tak dirasa air mata meleleh dari sudut mata Imam. Tak ingin menyalahkan takdir, Imam berusaha menerima semua yang terjadi dihidupnya. Ikhlas adalah cara terbaik untuk menyembuhkan luka.


Meski harapan serta keinginan memeiliki begitu kuat. Namun, Imam berharap jika hatinya tak akan pernah dihinggapi penyakit yang merusak imannya. Hingga pada akhirnya takdirlah yang akan menentukan.


Terima kasih sudah mampir.


Maaf karena lama yang up. Semoga kalian suka. Hari ini bahas tentang perasaan, imam. Mungkin nanti setelahnya Andi dan Firman.

__ADS_1


Sehat selalu semua.


__ADS_2