Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
32. Maaf


__ADS_3

" Sudah malam begini, kenapa mas Fa'i belum pulang juga?" gumah Arini yang nunggui suaminya pulang.


Tapi hingga jam 10 malam belum juga pulang. Perasaan Arini benar - benar campur aduk rasa bersalah, cemas, dan resah memikirkannya.


Tingg,


suara kunci yang terbuka menandakan seseorang dari luar menekan kunci rumah dengan sistem kata sandi itu.


Langkah seseorang yang ditunggu sedari tadi muncul juga. Arini pun langsung menghampiri suaminya itu dengan senyuman seperti dulu.


Namun, Fa'i yang terlihat kacau dan cukup berantakan itu, tak menghiraukannya. Hanya memandang sekilas lalu melangkah kekamar melewati Arini. Seketika wajah Arini berubah terlihat kecewa pada sikap suaminya itu.


" Mas, maafkan aku." kata Arini sedikit berteriak, dengan pelupuk mata yang telah dipenuhi air mata, yang hampir saja jebol membanjiri wajahnya.


Fa'i pun berhenti, tepat didekat sofa ruang tv itu. Tapi, tak berbalik untuk menatap Arini. Walau sebenarnya dalam hati Fa'i ingin segera memeluk istrinya yang sudah kembali seperti dulu.


" Aku tau, selama ini aku salah. Aku tak memperdulikan perasaanmu, melupakan tugasku sebagai istri. Tidak mendengarkan nasehatmu. Maafkan aku mas, maaf " kata Arini dengan suara parau karena tangis yang sudah pecah itu.


Fa'i pun tak tahan mendengar tangisan Arini, langsung berbalik dan melangkah mendekati istrinya itu. Lantas memeluknya dengan sangat erat.


" Maaf mas, maafkan aku. huuuu" kata Arini yang semakin terisak dalam dekapan Fa'i. Dekapan yang ternyata sangat dirindukannya itu.


" Terima kasih, karena kamu kembali seperti dulu Arini, jangan larut dalam kesedihan lagi yaa. " kata Fa'i melepaskan pelukannya.


Jemari tangannya menghapus air mata yang membasahi pipi istrinya itu. Arini pun mengangguk dengan tangan, yang masih melingkar dipinggang suaminya itu.


" Sekarang senyum donk, mas rindu senyum kamu itu." celetuk Fa'i mencoba menggoda Arini, dan menatapnya dengan tatapan yang selalu membuat Arini tak mampu berkutik itu.


" Kruuuukkyuuukkk, " suara perut Arini membuat Fa'i tersenyum dan pipi Arini mulai merona karenanya.


" Kamu lapar sayang, ?" tanya Fa'i sebuah pertanyaan retoris karena sudah jelas dirinya tahu jawabannya. Arini hanya mengangguk pelan.


" Mas, mandi gih.! Aku panasin dulu makananya. Setelah itu kita makan bersama - sama." kata Arini yang dijawab anggukan oleh Fa'i, yang lantas pergi kekamar untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Hatinya begitu senang karena Arini sudah kembali ceria lagi, meski dirinya harus bersikap sedikit keras sampai harus membentak istrinya itu.


20 menit kumudian Fa'i keluar dari kamar dengan pakaian yang disiapkan Arini diatas tempat tidur. Arini tersenyum menyambut sang suami.


" Makan yang banyak, mas perhatikan akhir - akhir ini kamu nggak makan dengan baik!" ucap Fa'i


" Iya, suamiku. Maafkan istrimu yang keras kepala ini yaa. " Jawab Arini dengan nada manja dan tersenyum manis itu.


Fa'i pun mengacak rambut Arini, lalu mereka makan dalam keadaan hening. Karena memang diam saat makan adalah salah satu adab, ketika makan yang telah diajarkan dalam islam.


......................


" Sini Rin.! " panggil Fa'i yang telah duduk bersandar headboard tempat tidur, lalu menepuk sisi kananya yang kosong itu. Arini yang telah berganti piyama itupun merangkak naik ke ranjang berukuran king size itu. Duduk bersimpuh menghadap suaminya.


" Kok diam,? " tanya Fa'i yang baru saja menatap Arini karena beberapa saat setelah Arini bersimpuh disampingnya, Fa'i malah sibuk dengan ponselnya.


" Heeeh, mas aja sibuk sama tuuu setan pipih." jawab Arini memenyunkan mulutnya, pura - pura kesal itu.


" Setan pipih ?" Tanya Fa'i mengreyitkan keningnya karena tak mengerti maksud Arini.


Karena dia yang meminta dirinya mendekat. Tapi, malah diabaikan sekian menit dan sibuk dengan ponselnya.


" Kelihatanya istriku ini sedang merajuk , Sini - sini aku peluk biar nggak merajuk lagi." seloroh Fa'i menegakkan badanya dan memrentangkan kedua tanganya. Bermaksud menggoda Arini.


" Aku tidak merajuk."


" Iyaaa, tidak merajuk. " ucap Fa'i menarik Arini untuk bersandar pada dada kirinya. Setelah dirinya tadi kembali bersandar pada headboard tempat tidur.


Arini pun tak memberontak, kemudian merebahkan kepalanya dengan nyaman dan telinganya tepat dimana letak jantung suaminya berdetak.


" Mas.."


"Hhmmm"

__ADS_1


" Ehmmm, Kenapa jantungmu berdetak lebih kencang dari seharusnya .?"


" Kenapa , apa kamu berpikir aku punya kelainan jantung dan akan meninggalkanmu." Jawab Fa'i yang berniat candaan untuk Arini. Tapi, Arini justru membulatkan matanya dan mencubit pinggang suaminya. Juga menaikkan nada suaranya.


" Astaqfirullah, Nggak lucu. Aku serius mas!"


" Hhhhh, iyaa maaf - maaf. Jangan marah yaa!" Rayu Fa'i dan menarik Arini kembali dalam rengkuhanya setelah tadi kesal dan agak menjauh darinya.


" Apa kamu takut aku juga meninggalkanmu dengan cepat."


Arini tak menjawab hanya menganggukan kepalanya sedang jemarinya meremas kaus yang menutupi dada bidang suaminya.


" Kamu mau tahu kenapa jantungku berdebar kencang seperti ini.?" Ucap Fa'i sambil sesekali menciumi rambut Arini yang halus dan wangi itu.


" Iyaa, kalau tidak mau tahu, mana mungkin aku bertanya."


" Karena Mas jatuh cinta sama kamu, mas benar - benar jatuh cinta dan sangat mencintaimu sayang."


Mendengar pernyataan Fa'i itu, Arini langsung mendongakan wajahnya dan menatap wajah sang suami yang sudah memiringkan kepalanya untuk menatap wajah istrinya itu.


" Ini pertama kalinya mas mengatakan, kalau mas mencintaiku. " Arini tersenyum lebar menampakkan deretan giginya yang putih itu. Tangan kanan Fa'i terulur kewajah istrinya mengusap lembut pipi kiri Arini.


" Mas, kangen kamu Rin." Ucap Fa'i tersenyum dengan wajah yang kian mendekat dan semakin dekat hingga mengikis jarak diantara mereka.


Seiring dengan semakin dalam ciuman itu. Tangan kiri Arini mengulur keleher suaminya tepat dibawah telinga itu. Mengusapnya lembut hingga membuat hasrat dalam diri Fa'i semakin membuncak tak mampu lagi dibendung, mendamba setiap hal - hal yang harus dilakukannya bersama sang istri.


Ibadah bersama yang sangat dirindukan berhari - hari lalu. Ibadah bersama yang tak hanya bernilai pahala. Tapi, juga kenikmatan dari rasa cinta yang saling memiliki dan saling membutuhkan.


" ***Maka Nikmat yang manakah, dari Tuhanmu yang kau dustakan.?"


Terima kasih yaa, selalu setia. Hhhh. jangan lupa like, comment and votenya. Author tunggu.


ooyaaa, jangan lupa jaga kesehatan terkait dengan virus covid 19 ( corona ). Dan semoga cepat berlalu . Aamiin.....

__ADS_1


sehat selalu semuanya***.


__ADS_2