Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
61. Kemarahan Rifa'i


__ADS_3

Weekand itu Arini mengajak suaminya untuk berkunjung kerumah mbak Amira. Sudah sebulan lebih tak bertemu. Jarak memag membuat mereka tak bisa sering bertemu.


" Sudah siap semua, sayang.?" tanya Fa'i memasukan barang bawaan mereka kedalam mobil putih miliknya. Arini mengangguk.


" Gak ada yang lupa atau ketinggalan kan.?"


" Gak ada suamiku sayang.!" Jawab Arini terkekeh, setelah mendudukkan AL di car seat yang dipasang dijok belakang.


Setelah berdoa, Fa'i melajukan mobilnya kekota tempat tinggal mbak Amira. Butuh waktu kurang lebih empat untuk sampai disana. Berhubung ini weekand, jadi gak bisa diprediksi jam berapa mereka bakal sampai disana.


Makanya mereka berangakat lepas Subuh. Selain jalanan masih cukup lenggang pastinya. Juga karena takut AL akan rewel dijalan. Mengingat ini perjalanan yang cukup jauh untuk jagoan kecil itu.


Arini nampak begitu bahagia, senyum selalu menyungging dibibirnya. Akhirnya sang suami yang super sibuk dengan jadwal dirumah sakit, bisa meluangkan waktunya pergi bersama keluarga kecil mereka. Ada kebahagian tersendiri dalam hatinya.


" Senyum terus dari tadi.!" tanya Fa'i melirik sang istri yang beberapa kali menoleh kebelakang melihat keadaan AL dibelakang.


Arini tersenyum, mengusap lembut lengan suaminya. " Aku bahagia dan bersyukur punya suami seperti kamu mas."


Fa'i merasa tersanjung, menoleh pada Arini. Lantas tersenyum sambil mengusap kepala istrinya.


" Mas, juga bersyukur punya kamu. Semoga kelak disurga kita dipertemukan dan dipersatukan kembali.!"


"Aamiin.!"


Tak terasa waktu menunjukkan hampir waktu Dzuhur. Saat mereka tiba dikediaman saudara yang dirindukan. Sebulan ini.


" Asalamualaikum, "


" Walaikumsalam." jawab mbak Amira yang telah menunggu kedatangan adik dan keluarga kecilnya.


Seperti sudah sangat lama mereka tak bertemu. Rasa haru dan bahagia membuat mbak Amira berkaca - kaca. Mungkin karena sekian lama tinggal bersama membuat mereka sulit untuk berjauhan.


Arini dan Fa'i sangat menikmati liburan weekand kali ini. Tempat tinggal mbak Amira sekarang benar - benar seperti kampung halaman Arini. Dikaki sebuah gunung dengan pemandangan luar biasa indah, udara yang sejuk membuat paru - paru terbebas dari sesaknya polusi ibukota.


Bukan tanpa alasan mbak Amira pindah, disini adalah tempat kelahiran mas Haris. Dan usaha perkebunan sayur keluarganya butuh seorang penerus. Mengingat orang tua mas Haris sudah semakin menua.


*

__ADS_1


Siang itu Arini berbincang serius ditaman bunga yang tidak jauh dari rumah. Sementara Fa'i memilih ikut mas Haris berkeliling perkebunan sayur. Sekalian membawa AL turut serta.


" Rin, tiga bulan lagi Imam bakalan kembali. " tutur mbak Amira sedikit ragu. Arini yang mendengar seketika membeku, tak tahu harus bagaimana. Harus senang atau kah sedih.


" Dan sebenarnya, Aisya tidak dibawa keJerman. Dia ada dikota ini. " Arini terbelalak mendengarnya. Matanya mulai memanas, air matanya telah berkumpul dipelupuk matanya.


" Mbak, aku harus bagaimana jika bertemu dengan mas Imam nantinya. Aku tak ingin bertemu dengannya. Mbak tahu selama bertahun - tahun aku tersiksa menyembunyikan rahasia ini dari suamiku. Tiap hari aku harus melihat kegusarannya dan ketidak berdayaannya. Sakit rasanya membautnya putus asa setelah pontang - panting mencari keberadaan Aisya dan mas Imam. Padahal aku, istrinya tahu semuanya.!" Arini terisak menyesali segala kebohongan yang ditutupinya dari sang suami.


" Mbak tahu Rin. Tapi, kamu tahukan apa yang terjadi jika Fa'i mengetahui kebenaran tentang perasaan_."


" Jadi selama ini kalian tahu dimana Imam dan kenapa sampai dia harus pergi.?"


Suara vokal Fa'i membuat Arini dan mbak Amira seketika menegang. Kaget buakan kepalang karena ternyata Fa'i mendengar semuanya. Dia telah sampai disana saat mbak Amira mengatakan kepulangan Imam.


Makanya Fa'i memilih bersembunyi dibalik tanaman bunga dibelakang mereka.


" Mas, aku bisa jelaskan semuanya.!" Sahut Arini mendekati suaminya menggenggam tangannya.


" Imam pergi karena dia jatuh cinta pada Arini.!" sentak mbak Amira, membuat Fa'i seakan membeku, kenyataan yang membaut gendang telinganya seakan disambar petir maha dasyat.


" Jangan bilang, kalau kamu telah lama mengetahui semua ini. Rin!" bentak Fa'i.


Arini memejamkan matanya, lantas mengangguk pelan. Fa'i semakin marah karenanya.


" Selama ini kamu membohongi aku Rin. Kamu tahu kan bagaimana usahaku mencari mereka dan mengapa alasan mereka pergi!" Kamu tega Rin. Membohongi suami kamu.!"


" Mas, maafkan aku.! Aku gak bermaksud berbohong padamu mas. Aku_ ."


" Dan mbak Amira, aku kecewa pada mbak.!"


Fa'i bergegas pergi dari sana. Tanpa perduli pada Arini yang memanggilnya. Kebohongan yang tersimpan bertahun - tahun terbongkar sudah.


" Mas, kita mau kemana ?" tanya Arini menghampiri suaminya yang telah bersiap di samping mobilnya menunggu Arini datang.


" Pulang." jawabnya datar lantas masuk kedalam mobil.


Arini menggendong AL, sambil terisak. Mbak Amira keluar bersama mas Haris. Saat Arini ingin berpamitan pada mereka, Fa'i terlebih dahulu berteriak

__ADS_1


" Arini cepat masuk, !"


Tetapi, Arini tak menaggapinya. Dia malah berpelukan dengan mbak Amira. Fa'i yang terlihat makin murka langsung keluar dari mobil.


" Aku bilang cepat masuk,! bentak Fa'i menarik paksa Arini lalu membuka pintu mobilnya. Mendorong pelan Arini masuk dalam mobil.


Mbak Amira pun tak mampu berbuat apapun. Dia sangat mengenal Fa'i, dalam keadaan seperti itu penjelasan apapun tak akan didengarkan.


" Berdoa saja semoga mereka baik - baik saja. Dan Fa'i mau mendengar penjelasan Arini. " kata Mas Haris memenangkan istrinya.


Mobil pun melaju meninggalkan rumah itu. Fa'i diam menahan amarah yang begitu memyesak kan dada. Sementara Arini masih menangis sambil memeluk AL yang terlelap dalam pangkuannya.


" Mas, aku minta maaf. Aku_."


" Diam lah.!" sentak Fa'i memcengkeram kaut kemudinya.


Imam mencintai Arini.. Imam mencintai Arini.


kata - kata itu terus saja berputar - putar dikepalanya. Dadanya bergemuruh hebat, terlebih lagi Arini telah mengetahui semua itu. Bahkan memyembunyikan darinya.


Semakin Fa'i memikirkan, semakin Fa'i marah pada Arini. Bukan salah Arini jika Imam mencintainya. Tapi, kebohongann yang dilakukannya itulah.


" Mas, pelan - pelan. Jangan seperti ini.!" sahut Arini panik karena Fa'i melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Arini samakin panik tak didengar oleh suaminya. Tangannya memcoba mengusap lengan suaminya. Tapi, ditepis oleh Fa'i dengan kasar. Pikiran Fa'i benar - benar kacau. Marah dan kecewa campur aduk jadi satu.


Yaa, Allah. Lindungi kami, bukalah hati mas Fa'i jangan biarkan hatinya dipenuhi amarah seperti ini.


Arini terus berdoa, memejamkan mata sambil semakin erat mendekap putranya AL.


Maafkan Author yaa, lama gak Up.


Maklum lagi banyak kegiatan dan lebih fokus beribadah dulu.


Terima kasih, sudah mampir dan membaca.


Sehat selalu semua.

__ADS_1


__ADS_2