
Fa'i terus berlari mencari keberadaan istrinya berharap masih ada disekitar lorong poloklinik ataupun loby sampai dengan halaman rumah sakit.
Perasaan bersalah yang teramat sangat, membuatnya tak bisa berfikir dengan jernih. Setelah berlari sampai keluar halaman rumah sakit, Fa'i meraup wajahnya gusar. Sampai dipinggir jalan depan rumah sakir pun, tak terlihat tanda - tanda Arini masih disana untuk sekedar menunggu taksi.
" Sayang ayo donk angkat telfon mas.. !" ujar Fa'i yang semakin gusar karena berkali - kali mencoba untuk menghubungi istrinya itu. Tapi, tak diangkat sama sekali.
Fa'i terus berusaha menghubungi ponsel Arini hingga puluhan kali. Namun, tetap saja sang
Istri tidak menjawab sama sekali bahkan puluhan pesan dan pesan suara yang dia kirimkan tak dibaca ataupun dibalas.
" Astaqfirullah, Fa'i kenapa sikap gegabahmu masih saja kamu pelihara. Bodoh kamu.!" ujar Fa'i merutuki dirinya sendiri sambil mengacak rambutnya frustasi memikirkan bagaimana keadaan dan dimana keberadaan istrinya itu.
Sementara ditempat lain,
" Mas, kenapa kamu tega menuduhku seperti itu. Aku memang cemburu pada Diana. Tapi, aku tidak sepicik yang kamu pikirkan. Aku masih percaya padamu, aku percaya kamu tidak akan pernah berbuat macam - macam. Aku percaya kamu tidak akan menghianati ku. Tapi kenapa kamu setega itu menuduhku bahkan aku tak pernah berfikir sejauh itu. Kenapa mas, kenapa kamu tega padaku mas Fa'i "
Gumah Arini meninggalkan rumah sakit itu dengan menggunakan taxsi yang kebetulan lewat ketika Arini sampai di luar halaman rumah sakit, dan begitu masuk kedalam taxsi saat itulah Fa'i yang berlari kesana kamari mencari istrinya itu juga tiba disana. Yaa, tapi terlambat dirinya tak melihat Arini karena taxsi itu mulai berjalan.
.............
Disalah satu sudut rumah sakit, Imam menghubungi mbak Amira memberitahu tentang masalah yang terjadi pada Arini dan Fa'i.
" Assalamualaikum, Mbak.!"
" Walaikumsalam, Mam ada apa.?"
" Mbak, bisakah mbak mencari Arini. Aku khawatir keadaannya.?
" Memang ada apa dengan Arini, Mam. Jangan buat mbak jadi cemas.!"
Imam menghela nafas, " Fa'i baru aja menyakiti hati Arini, sebenarnya hanya salah faham. Tapi, kata - kata Fa'i aku rasa dah menyakiti hati Arini."
" Maksudnya gimana sih Mam, "
" Sudahlah mbak nanti aku jelaskan semuanya dirumah!, sekarang mbak harus mencari Arini keadaannya pasti sangat tidak baik. Apalagi dia lagi hamil mbak."
__ADS_1
" Apa , Arini hamil.? Sahut mbak Amira dengan cepat,
" Iya, mbak. Mbak Amira harus segera cari Arini dan bawa dia pulang kerumah. Aku gak bisa ikut bantu nyari mbak. Maaf yaa mbak."
" Oke Mam, mbak ngerti. Mbak akan cari sekarang."
Walau belum faham dengan masalahnya. Mbak Amira bergegas keluar dari butiknya. Sambil menghubungi ponsel Arini, tapi tak ada jawaban.
Mbak Amira menuju apartemen adiknya itu, berharap Arini ada disana. Dan karena mbak Amira tau kata sandi kunci pintu itu, mbak Amira pun langsung masuk.
Begitu masuk matanya tertuju pada Arini yang menangis dilantai kamar tidurnya yang terbuka itu. Memeluk lutut dan menenggelamkan wajahnya diantara lututnya.
Perlahan mbak Amira mendekati Arini, menyentuh pundak kiri Arini. Lalu mengusap kepala Arini yang masih tertutup hijab itu.
Karena terkejut dengan sentuhan seseorang dipundak dan kepalanya, secara refleks Arini mendongakkan kepalanya.
" Mbak Amira..." sahut Arini langsung berhambur kepelukan kakak iparnya itu. pundak Arini bergetar, tangisnya semakin menjadi. Lalu Mbak Amira mengusap dan menepuk - nepuk punggung Arini, mencoba menenangkan adik iparnya itu.
" Kerumah Umi aja yaa, Rin. Biar kamu tenang. Dan kita bisa jagain kamu."
" Tapi, mbak aku gak mau Umi_"
Karena Arini tidak ingin mertuanya itu tahu masalah rumah tangganya dengan Fa'i. Terlebih kondisi Umi yang memang tidak begitu baik.
....................
Fa'i bergegas pulang ke apartemenya. Untuk menemuhi Arini. Setelah memarkirkan mobilnya, Fa'i berlari secepat menuju apartemen miliknya dilantai 5 itu.
Didalam pikiranya hanya ingin segera mungkin memeluk Arini istrinya. Mengucapkan maaf , maaf , dan maaf. Perasaan bersalah yang teramat besar membuatnya tak memperdulikan apapun lagi.
Kegelisahan, rasa bersalah sekaligus bahagia dengan kehamilan sang istri benar - benar membuat perasaannya campur aduk.
" Assalamualaikum, Arini dimana kamu sayang.? Arini...!" panggil Fa'i mencari setiap sudut tempat itu, dapur, kamar, kamar mandi, dan balkon. Namun, Fa'i lagi - lagi tak menemuakan sosok sang Istri dimanapun juga.
Karena 10 menit yang lalu sebelum kedatangan Fa'i. Arini dan mbak Amira telah pergi dari sana.
__ADS_1
" Setidaknya dia tidak pergi jauh dan meninggalkanku. " Batin Fa'i setelah membuka pintu almari Arini dan masih melihat baju - baju Arini masih tertata rapi disana.
Karena sesaat lalu dia berfikir, Arini akan pergi meninggalkan dirinya. Sebenarnya membayangkan itu pun Fa'i tak sanggup. Namun, karena tak mendapati Arini disana. Membuat bayangan itu terlintas begitu saja dipikirannya.
" Kemana lagi mas harus mencarimu sayang. Maafkan mas, maafkan semua kata - kata mas yang pasti membuat hatimu sangat sakit.!" lirih Fa'i mengusap wajahnya yang semakin gusar dan cemaa memikirkan keadaan istrinya yang entah dimana.
" Yaa, Allah Arini, dimana kamu sekarang sayang.? Ini sudah malam kenapa kamu belum kembali.!" batin Fa'i yang masih menanti kepulangan Arini.
Namun, sampai malam itu Fa'i tak bisa menghubungi ponsel Arini, dan sekarang ponselnya malah mati.
Hati Fa'i semakin tak tenang dibuatnya. Meski perasaan dan hatinya tak segusar tadi. Karena dirinya telah memohon ampun pada sang pencipta karena kesalahan pada Isrrinya Itu.
" Assalamualaikum, " ucap mbak Amira yang datang bersama mas haris dan Imam.
" Walaikumsalam, " jawab Fa'i yang kaget melihat kedatangan mereka bertiga. Terlebih mbak Amira yang menatap datar padanya.
" Sorry, Fa' bukannya aku mau ikut campur urusan rumah tangga kamu, Tapi, aku tetpaksa memberitahu mbak Amira dan mas Haris. Sekali kagi maaf yaa Fa" Ujar Imam duduk disamping Fa'i.
" Gak apa, ini memang salah. Aku terlalu berburuk sangka pada Arini.!"
Tiba - tiba saja mbak Amira mendekat lalu melayangkan tamparan dipipi kanan adiknya itu.
" Plakkkk..."
Imam dan Haris pun kaget melihatnya. Mereka tidak menyangka mbak Amira tega. melakukan hal seperti itu.
" Tamparan itu tidak seberapa sakit, rasa sakit hati Arini karena tuduhanmu itu." Kata mbak Amira bergetar karena menahan amarahnya itu. Sementara Fa'i hanya menunduk, matanya pun mulai basah.
Dan setidaknya tamparan mbak Amira itu mewakil Arini. karena tidak mungkin Arini akan tega melakukan itu.
" Fa, kami tahu ini adalah urusan rumah tangga kalian. Tapi, kami juga peduli pada kalian berdua. Masalah ini mungkin memang hanya kesalahfahaman. Tapi, disini yang menjadi akar semuanya adalah sikap kamu terhadap Diana dan sikap gegabah kamu itu." Kata mas Haris yang akhirnya bicara menasehati Fa'i.
" Iya Fa, muali sekarang buang sikap gegabah kamu itu. Jangan asal menuduh niat baik istrimu. Cobalah lebih mengerti dia, karena sekarang bagi Arini kamu adalah segalanya. Dia hanya memiliki kamu Fa, sebagai seseorang yang paling dekat dengan dirinya." sambung Imam menepuk pundak Fa'i.
Fa'i hanya diam tak bisa berkata apa - apa. Dalam diamnya dirinya mencerna setiap kata - kata mas Haris dan Imam.
__ADS_1
Memang benar sikap gegabah Fa'i sering kali mendatangkan masalah bagi dirinya sendiri. Dan memang benar sekarang hanya dirinya lah orang yang paling dekat dengan Arini. Orang yang diharapkan mampu menjadi sandaran hati dan hidupnya.
Menjadi tempatnya berbagi suka dan duka.