Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
83. Tak akan Melepasmu.


__ADS_3

Tak perlu kau ragukan betapa besarnya cintaku. Aku tulus memcintaimu, setulus aku memperlalukan dirimu selama ini.


Mungkin aku harus melepasmu, membiarkan dirimu aman dan tentram oleh laki - laki lain. Namun, sungguh jangan pernah kau ragukan semua rasa ini. Aku hanya ingin kau terhindar dari hal buruk yang akan menimpamu.


Jika memang, cintaku hanya membuatmu menderita. Maka aku dengan berbesar hati akan melepasmu.


Sekelebat, ingatannya akan kekecewaan Arini kembali mengganggu konsentrasinya. Untuk sekian kali Imam membuat orang yang dicintainya kecewa.


Satu hal yang membuatnya tersakiti, melihat Arini menangis karenanya. Apakah cintanya hanya mengoreskan luka dan menorehkan kekecewaan saja. Sungguh, tak pernah sekalipun Imam membayangkan cintanya ternyata hanya membawa penderitaan untuk Arini.


Dulu kamu membuatku kecewa dan menghancurkan keluarga dan harapanku. Kamu tahu mas, bagaimana tersiksanya aku saat itu.? Lalu sekarang kamu datang menyakinkanku dengan cintamu dan aku mulai berharap dan menggantungkan harapanku kembali. Tapi, apa? Lagi - lagi kamu menghancurkan segalanya mas. Aku kecewa sama kamu.!


Itulah kata - kata Arini saat Imam membatalkan pernikahan mereka dan memintanya untuk menikah dengan Firman. Kata - kata yang membuat hatinya berdenyut perih.


***


Imam, bergegas menemui Firman yang telah menunggunya disebuah taman yang tak jauh dari rumah sakit tempatnya mengabdi.


" Assalamualaikum, Maaf Man. Kamu harus nunggu lama.?" sapa Imam menepuk pundak sahabatnya itu.


" Walaikum salam.!" Firman tersenyum.


" Ada masalah?"


Imam mengangguk, " Aisya diculik Andi sejak kemarin!"


Firman kaget mendengarnya, tak menyangka Andi akan berbuat senekat itu untuk mendapatkan Arini.


" Dia minta aku membatalkan pernikahan dan meninggalkan Arini.!"


" Lalu.!"


" Mungkin, aku akan melepaskan Arini. Tapi, aku juga tidak ingin Arini bersama Andi nantinya." kata Imam menahan sesak didadanya. Berat baginya untuk melepaskan Arini. Apalagi lusa adalah pernikahan yang sudah diimpikan bersama.


" Bisa kamu membantu ku Man?"

__ADS_1


" Apapun yang aku mampu pasti aku membantumu. Katakan apa yang harus aku lakukan untuk kalian.?"


Imam menghela nafas kasar,


" Menikahlah dengan Arini.!"


" Apa?" sentak Firman kaget. Hal gila apa yang sebenarnya dipikirkan Imam


Sampai melakukan hal yang sulit dimengerti akal sehat.


Harus diakui dia dianugerahi otak yang jenius. Tapi, tak menyangka dia bisa berfikir hal gila dengan mempermainkan perasaan orang - orang yang disayanginya.


" Kamu ikhlas melepas Arini begitu saja.?" tanya Firman.


Imam memgedikkan bahunya, " Aku akan ikhlas jika kamu yang menikahi Arini. Bukan Andi. Mungkin sulit, tapi aku percaya padamu."


Firman pun diam, mencoba untuk berfikir bijaksana untuk menyelesaikan masalah itu. Sebuah cara pun, terlintas dipikirannya. Mungkin harus menciptakan sedikit kebohongan agar semua baik - baik saja.


Firman lantas membisikkan rencana yang terpikir olehnya. Sedangkan Imam tersenyum bahagia mendengar rencana Firman.


" Tapi, kamu harus berbohong Man. Itu bukan kamu, Man.?"


" Tidak apa demi kebaikan dan menyelamatka Aisya anak kamu. Dan aku sudah sedikit berbohong padamu dan Arini. Kamu tahu, sebenarnya aku tak yakin waktu melamar Arini. Waktu itu aku hanya berfikir untuk merengkuh dan melindungi Arini saja. Aku kasihan padanya. Dia adalah janda alm sahabat kita. Ehhh, tak tahunya kamu dan Andi sudah lebih dulu menyimpan rasa padanya."


Imam tersenyum, jelas dia bahagia karena Firman memang tak memiliki rasa pada Arini. Keputusannya meminta tolong pada Firman adalah keputusan yang tepat.


" Lalu kapan, Andi akan melepaskan Aisya.?"


" Nanti sore, aku akan menjemputnya. Aku ingin berbicara dengan Arini dulu setelah ini.! Kemarin aku sudah membuatnya menangis karena membatalkan pernikahan kita."


" Baiklah, nanti sore kabari aku saat kamu berangkat aku juga akan berangkat dari rumah.!" kata Firman yang kemudian pamit untuk kembali kekampus.


Imam memutuskan untuk menemui Arini saat itu juga. Meminta maaf karena ucapannya tempo hari. Sungguh tak pernah ada niatan sedikitpun untuk melelaskannya. Hanya saja kemarin Imam benar - benar bingung dan tertekan.


Dengan langkah pasti, Imam berjalan menyusuri koridor sekolah tempat Arini mengajar. Namun, langkahnya terhenti ketika Ia melihat Arini tengah berjalan keluar dari ruang guru sambil menundukkan pandangannya.

__ADS_1


Hatinya begitu perih melihat Arini yang nampak sangat kacau. Kekecewaan benar - benar tersirat dari wajah yang ditekuk lesu tak bersemangat. Tak ada senyuman dan binar bahagia seperti beberapa hari yang lalu.


" Arini," panggil Imam lirih. Saat dirinya menghentikan langakahnya didepan Arini.


Deg,


Arini memdongakkan pandangannya, menatao wajah tampan mantan calon suaminya itu. Hatinya berdesir melihat senyuman Imam. Namun, rasa kecewanya masih terlalu dalam dihatinya.


Arini tak kuasa menahan air mata yang luluh begitu saja membanjiri pipinya. Arini sadar, jika dirinya memang belum mencintai Imam. Tapi, harapan dan cinta Imam membuatnya terbuai. Hingga tanpa sadar Arini berharap lebih pada laki - laki didepannya saat ini.


" Ada apa?" tanya Arini sinis, memalingkan wajahnya. Lalu menghapus air mata dipipinya. Dia tak ingin terlihat lemah didepan laki - laki yang menghancurkan semua harapan dan mimpinya lagi.


" Rin, maafkan mas.! Mas_"


" Sudahlah, selamatkan Aisya dan aku akan menikah dengan mas Firman seperti katamu kemarin.!" sahut Arini memotong perkataan Imam.


Arini lalu bergegas pergi dari sana, meninggalkan Imam.


" Rin, tunggu.! Bukan itu maksud mas datang kesini.!" kata Imam sedikit keras. Tapi, Arinu tak memperdulikan. Dia pun berlari menuju taksi online yang sudah menunggu didepan sana.


Imam mengejarnya, tapi Arini tak peduli. Lalu menyuruh sopir taksi itu segera melajukan mobilnya.


Imam merutuki dirinya sendiri. Kenapa harus membatalkan rencana pernikahannya. Sebelum dia benar - benar berfikir jernih. Sekarang mungkin tak ada gunanya. Arini sudah benar - benar kecewa dan marah padanya.


Arini, maafkan mas! Mas tidak akan membatalkan pernikahan kita. Mas akan membuat kamu bahagia. Mas nggak akan melepaskan mu. Bagaimana pun caranya mas akan mempertahankanmu. Kamu adalah milim mas, hanya milik mas sekarang dan selamanya.


Ditempat lain, Arini masih saja menangis karena luka dihatinya.


Mengapa aku harus selalu menjalani pernikahan yang seperti ini. Dulu mas Fa'i menikahiku karena terpaksa. Dan sekarang saat ada laki - laki yang bilang tulus mencintaiku. Tapi, malah tega melepasku untuk orang lain. Setelah memberiku harapan dan mimpi - mimpi indah, kau tega menghempasku begitu saja mas.


Andai Arini mau mendengarkan penjelasan Imam. Mungkin hatinya tak akan sehancur saat ini. Entah siapa yang harus disalahkan. Imam yang terlalu gegabah saat itu. Atau memang semua yang terjadi saat ini adalah ujian cintanya, ujian untuk mereka sebelum melakukan ikatan suci pernikahan dihadapan sang pencipta.


Terima kasih, sudah mampir dan membaca.


Semoga suka yaa.!

__ADS_1


Sehat selalu dan lancar rejekinya semua.


__ADS_2