Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
Menyakinkan hati.


__ADS_3

Pov Aisya.


Sejujurnya semua terasa membingungkan. Kak Dani, ah bukan. Sekarang dia adalah pimpinan ditempat kerjaku. Tiba - tiba hadir dihidupku lagi. Dua puluh tahun berlalu, dia yang tak pernah ada kabar. Lalu datang dengan penuh kejutan.


Baru sehari, dia mengatakan ingin mengenalku lebih dekat. Lalu sekarang, dia melamarku.


Ah, seperti itu apa bisa disebut lamaran. Lebih tepatnya, mengatakan niat baiknya.


Disepertiga malam, aku bangun dari tidurku. Lebih tepatnya bukan tidur. Karena memang aku tak bisa tidur dengan tenang setelah malam itu.


Lalu aku mengambil wudhu, ingin menghadap sang Pencipta. Memohon ampunan atas kekhilafan. Setelah sholat Tahajud ku lanjutkan sholat istiqarah.


Memohon petunjuk atas kebimbangan dihati. Aku ingin menanamkan iman yang kokoh dalam menemukan cinta sejatiku. Cinta yang diridhoi Allah SWT. Cinta yang senang tiasa berada dijalan penuh cahaya cintaNya.


Aku tak ingin cinta ku pada manusia mengalah cintaku pada Rabb ku. Tak ingin cinta yang kurasakan membawaku dalam kebaikan dan menjauhkan ku dari segala fitnah.


Jika memang dia adalah jodohku, maka tambuhkan cinta yang selalu dijalanMu. Tunjukan jalan yang benar kepada hambaMu ini yaa Rabb.


Pagi menjelang, aku bergegas pergi kekantor. Karena kepikiran pak Danies aku jadi melupakan kalau hari ini adalah deadline buku yang aku terjemahkan. Dan harus aku serahkan pada divisi tiga siang nanti.


Sebenarnya sudah selesai sejak kemarin, tapi belum sempat aku revisi demi memastikan tak ada kesalahan.


" Kenapa pagi dia juga sudah datang jam segini?" batinku saat keluar dari mobil.


Bertepatan saat itu, pak Danies juga turun dari mobilnya. Apa yang harus aku lakukan, aku sudah berjanji tidak akan menghindarinya. Tapi,..


" Assalamualaikum, Sya!" sapanya berjalan mendekat.


" Walaikum salam, pak Danies!" jawab ku canggung.


" Baru jam tujuh kenapa sudah datang?"


" Oo, itu saya masih ada perkerjan yang belum saya revisi ulang. Ehmm, bapak sendiri?"


" Aku hanya ingin mengambil barang yang kemarin ketingglan. Oo, yaa. Siang nanti aku harus ke Banjarmasin. Aku harap setelah aku pulang dari sana kamu mempunyai jawaban yaa Sya!"


Aku hanya menganguk, sejujurnya aku pun berharap sama aku sudah mempunyai jawaban yang tepat. Lalu kami berjalan menuju ruangan masing - masing. Tak ingin timbul fitnah, pak Danies memilih untuk naik tangga sementara aku disuruh mengunakan lift.


Sejujurnya aku merasa tak enak hati. Tapi, harus aku akui dia bisa menghargai wanita. Mendahulukan wanita dari pada dirinya. Eh, kenapa jadi kesengsem gini sih?


*****

__ADS_1


Hari - hari berlalu, sudah 3 hari Danies pergi ke Banjarmasin. Namun, Aisya masih belum menyakini akan hatinya. Semua masih terasa membingungkan. Satu sisi dia ingin sekali segera membangun rumah tangga. Tapi, baginya Pak Danies terlalu sempurna jika dibandingkan dengannya.


" Kenapa sih, sya? Mbak perhatikan akhir - akhir ini sering melamun." tanya mbak Arum yang siang itu menyuruh Aisya keruangannya.


" Maaf, mbak. Ehmmt." jawab Aisya ragu.


" Gara - gara Danies yaa? Besok juga dia pulang." goda mbak Arum.


Seketika Aisya membulatkan matanya. Pipinya merona karena malu.


" Bu _ bukan itu masalahnya mbak."


" Belum dapat jawaban?"


Aisya tersentak kaget. Karena mbak Arum mengetahui apa yang dia pikirkan.


" Mbak ini sepupunya Danies dan dia sudah menceritakan semuanya."


Aisya yang sebenarnya bukan seorang wanita pemalu. Lantas bertanya tentang siapa Danies yang sebenarnya. Tentang apa yang sebenarnya menjadi alasannya secepat itu ingin melamarnya.


Mbak Arum pun menceritakan semuanya. Tentang pesan dari alm. Andi pada Aisya. Yang membuat Danies nekat untuk memberanikan diri mengajak Aisya berumah tangga.


Jadi semua ini karena permintaan om Andi. Lalu apa nantinya pak Danies bisa mencintaiku sebagai mana mestinya. Ah, berharap cinta, sementara aku saja tak tahu bagaimana perasaanku padanya.


Astaqfirullah, berharap cinta pada manusia memang tak ada gunanya. Menikah bukanlah sekedar hal itukan. Tapi, diniatkan untuk beribadah karena Allah Ta' ala.


Besok adalah tepat seminggu, waktu yang diminta Aisya untuk memikirkan semuanya. Dan Danies pun kembali dari Banjarmasin.


Sebenarnya Danies pergi kesana untuk meyakinkan hatinya akan perasaannya pada Fitria. Memastikan kalau memang dirinya tak berjodoh dengan wanita itu.


Dan lagi Danies ingin memberi waktu pada Aisya meyakinkan hatinya juga. Mengambil keputusan yang terbaik untuk semuanya. Danies pun tak memaksa jika memang Aisya akan menolak. Karena semuanya memang akan terasa berat jika Aisya mengetahui semuanya.


Bukan hanya soal permintaan itu. Tapi, juga tentang perasaan Danies yang sesungguhnya.


Ah, mungkin memang benar. Yang Cinta bukan berarti yang memiliki. Sekalipun aku sangat mencintai Fitria, tapi jika memang bukan jodohku. Aku tak akan pernah bisa memilikinya.


Sama - sama saling meyakinkan hati, Aisya dan Danies berharap semoga memang jalan yang akan mereka tempuh adalah jalan yang dirodhoi Allah. Apapun perasaan mereka saat ini. Jika Allah menuliskan mereka berjodoh, maka tak akan ada yang bisa menghalanginya.


Danies kembali, menatap nisan sang papa. Mengusapnya beberapa kali. Sejak kecil hidup berdua, membuat Danies sangat terpukul dengan kepergian papanya waktu itu. Baginya papa Andi adalah segalanya.


" Pa, Danies sudah bertemu dengan Aisya. Seperti permintaan papa Danies akan menikahi gadis itu. Papa tahu, dia gadis yang sangat baik dan solehah."

__ADS_1


Selesai berdoa disana, Danies melangkah pergi meninggalkan makam itu. Hatinya yakin, jika semuanya memang takdir yang harus dia jalani. Lagi pula apa yang perlu diragukan dan ditakutkan.


Aisya gadis yang baik, solehah pula. Plus bonus cantik rupanya. Soal cinta, hanya Allah yang akan tahu. Allah lah yang akan membolak - balikan hati setiap umatnya.


Seperti pepatah juga, Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu.


Aku rasa, aku yang akan mencintai kamu duluan Sya. Sekarang saja aku sangat merindukanmu. Padahal hanya empat hari aku pergi. Dan Fitria, aku harus mengubur cintaku dalam - dalam.


Diam - diam Danies memperhatikan foto Aisya di foto profil akun aplikasi pesan berwarna hijau itu. Baginya semakin dilihat Aisya semakin manis.


Lalu dengan hati yang mulai berbunga, Danies menganti nama kontak yang semula hanya ' Ukhti Aisya ' diganti dengan ' Calon


istriku '.


Antara ragu dan rindu, Danies akhirnya mengeser icon warna hijau. Mencoba menelfon gadis yang sudah dianggapnya calon istri itu. Padahalkan Aisya belum memberi jawaban apapun.


Tuut... tuut... tuut...


" Assalamualaiku," sapa Aisya dari seberang sana yang memang tak tahu itu adalah nomor Danies.


" Walaikum salam, Sya. Ini aku Dani." jawab Danies.


Seketika hati Aisya serasa berhenti berdetak sekian detik. Tak menyangka laki - laki yang membuatnya kebingungan itu menghubunginya.


" I _ iya pak Danies.!" kata Aisya sedikit gugup.


Danies tersenyum bisa merasakan Aisya yang kaget dan gugup itu. Lalu Danies mencoba mengajak Aisya berbicara santai, tanya kabar dan sedang apa malam itu. Berharap Aisya merasa nyaman tak canggung lagi padanya.


" Besok aku pulang, kamu sudah punya jawabannya kan?"


Aisya kembali bingung, yang awalnya mulai sedikit santai. Eh, pertanyaan itu kembali membuat Aisya canggung kembali.


" Insya Allah, pak.!" jawab Aisya setenang mungkin.


Lalu Danies mengakhiri panggilannya, setelah mengucapkan salam. Begitupun Aisya. Danies tersenyum, tak menyangka gadis yang selama dua puluh tahun ini tak pernah dia pikirkan akan menjadi jodohnya.


Kamu masih saja polos seperti dua puluh tahun yang lalu, Sya.


Terima kasih sudah mampir.


Semoga suka.

__ADS_1


__ADS_2