
" Kayaknya , harus Umi sendiri yang berbicara dan meminta Arini (sahabatku yang super baik dan rendah diri ini) untuk bersedia menjadi menantunya" Batin Sabina yang sebenarnya tidak tega melihat sahabatnya, Arini tertekan seperti ini.
" Maaf yaa Rin, seharusnya aku tidak memaksamu seperti ini. Merencanakan sesuatu tanpa meminta pendapatmu, padahalkan ini berkaitan dengan masa depanmu. Sebagai sahabat harusnya aku mendukungmu bukannya _," pelan Sabina tak bisa melanjutkan kata - katanya malah menggenggam tangan Arini.
" Iya Bin, kita bisa bersahabat baik seperti ini saja aku sudah bersyukur dan seneng banget. Dan bukannya aku menolak niat baik kamu, aku cuma takut membuatmu kecewa dan akhirnya merusak persahabatan kita."
ucap Arini tersenyum dan memeluk sahabatnya itu.
" Astaqfirullah, Bin udah masuk waktu dhuzur yaa, Aku bisa sholat dimana"
" Dikamar aku aja, tapi kamu harus mandi dulu deh Rin.. " jawab Sabina yang melihat Arini sudah lusuh dan bajunya terkena tepung dan bau masakan untuk makan siang keluarga itu.
Maklum tukang masak mereka baru sakit. Jadi mbak Amira meminta Arini untuk sekalian memasak makanan untuk makan siang.
" Kamu bener, Bin.Tapi aku g bawa baju ganti"
Sabina malah tersenyum lalu menarik tangan Arini supaya mengikutinya kekamar dilantai 2.
Sampai dikamar Sabina, Arini dibuat takjub lagi melihat kamar yang mungkin luasnya separuh separuh dari rumah Arini di kampung.
__ADS_1
menyadari ekspresi Arini membuat Sabina terkekeh gemes untuk menggodanya.
" Ini mah masih kalah jauh dari kamar mas Fa'i. Nanti kalau kamu beneran jadi sama dia, kamu bisa lihat sendiri. "
" Tuu kan, kamu mulai lagi."
Sabina meringis sambil mengacungkan dua jarinya tanda piss, lalu menggaruk - garuk rambut yang tertutup hujab padahalkan tidak gatal.
" Ini handuknya dan baju gantinya, tenang underwerenya baru ug, tapi udah aku cuci." kata Sabina lalu dia keluar dari sana meninggalkan Arini karena memang Sabina lagi tidak sholat.
Setelah keluar Sabina pun mencari Umi dan mbak Amira untuk membicarakan rencana mereka mengenai Arini dan Mas Fa'i. Entah apa yang mereka bicarakan ditaman belakang.
Siempunya langsung turun bersama dengan mas Haris suami mbak Amira dan Alvin sepupunya. Tak lama diikuti sebuah mobil yang berhenti tepat dibelakang mobil Mas Fa'i. Yaa itu mobil Imam sahabat sekaligus rekan sesama dokter mas Fa' i.
"Tuu Bin, mas mu tersayang udah pulang gimana kalau kita kenalin aja langsung sama Arini." celetuk mbak Amira setelah Uminya masuk kedalam rumah lagi.
" Iihh, mbak gimana sih tadikan aku udah bilang. Kalau Arini belum siap dan malahan dia agak kecewa sama aku" sahut Arini mendelik kesal pada Amira. Tapi, matanya tiba - tiba berbinar. Karena sosok pencuri hatinya datang menghampirinya sambil membawa buket bunga mawar putih.
Senyumnya berkambang sempurna dan tak lagi memperdulikan mbak Amira yang agaknya masih terus bicara.Tapi, entahlah Sabina sudah tak memperdulikannya lagi.
__ADS_1
Cleek
Arini membuka pintu kamar Sabina dari dalam setelah tadi selesai sholat dan berganti baju milik Sabina , gamis cantik berwarna peace dengan renda menghiasi bagian bawahnya pas sekali untuk Arini.
Ditambah hijab pasmina warna putih tulang dengan sedikit motif berwarna peace, menutupi menutupi auratnya . Arini begitu cantik dan mempesona bak bidadari surga.
" Haah, mas Fa'i"
Arini langsung menutup pintu lagi dengan cepat, karena baru selangkah dia melihat sosok laki - laki tampan berjalan menaiki tangga. Dan tinggal beberapa anak tangga untuk sampai dilantai 2. Sehingga Arini bisa melihat sosok itu.
Jantung Arini pun berdebuk, detak jantungnya semakin cepat. Entah kenapa setiap apapun yang berkaitan dengan sosok Mas Fa' i yang belum dikenalnya secara langsung. Selalu saja membuat jantungnya berdebuk kencang.
" Sepertinya tadi ada yang menutup pintu kamar Sabina, tapi kan tuu anak ada dibawah." gumam Fa'i pelan sambil mendekat kekamar Sabina untuk memastikan kalau dia tidak salah dengar.
Sementara Arini yang masih dibalik pintu mendengar langkah kaki mendekat dan terdengar sayup - sayup perkataan Fa'i. Semakin membuat jantungnya berdebuk kencang. Matanya terpejam sambil terus berdoa .
Bersambung
uuhh dasar Arini kelewat lugu atau apa yaa, sampai segitunya. hhhh terima kasih sudah mamapir jangan lupa like & commentnya
__ADS_1