Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
48. Posesifnya Suamiku.


__ADS_3

" Sayang, mas kan sudah bilang. Kamu gak boleh capek! Kamu gak melakukan pekerjaan apapun dirumah ini! Kamu harus banyak istirahat! Gak boleh terlalu sering naik turun tangga kalau mas lagi kerja! Biar nanti bik Siti yang menyiapkan semua kebutuhan kamu. Kamu tinggal bilang apa yang kami inginkan! " ucap Fa'i panjang banget udah kaya rel kereta api.


" Oooyaa, satu lagi. Kamu gak boleh makan makan yang gak sehat. Jangan makan mie, sarden, dan makanan yang banyak pengawetnya." Sambung Fa'i yang kembali dengan kata - kata yang over protektif itu.


Arini hanya mengangguk pelan, walau Fa'i begitu terlihat sangat menggemaskan karena sikapnya. Tapi, capek juga harus mendengar semua itu sebelum dia berangkat bekerja.


" Huuufff..."


Arini mendengus kesal dengan sikap suaminya. Kini Fa'i begitu posesif pada Arini dan kehamilannya.


Sejak persalinan Sabina yang merenggut nyawanya itu. Fa'i seolah trauma dan tak ingin jika istrinya mengalami hal serupa.


Memang sejak saat itu, dirinya lebih perhatian dan memperlakukan Arini dengan sangat baik. Memperhatikan segala hal mulau dari asupan makanan sehat, vitamin, emosi dan perasaan Arini selalu dijaganya.


Dan satu lagi segala kegiatan yang dilakukan Arini. Apapun itu selalu dalam pengawasan dirinya.


Tentunya dengan dibantu mbak Amira yang tidak kalah posesifnya seperti Fa'i suaminya.


Malam itu, Arini berniat mengungkapkan kekesalannya pada suaminya.


" Mas..." Lirih Arini, mendekati suaminya yang tengah duduk santai ditempat tidur.


" Hemmmt, ada apa sayang.?" sahut Fa'i yang masih menatap layar ponselnya.


" Bisa tidak sikap posesif kamu dikurangi dikit aja. "


Fa'i mengreyitkan dahinya, lantas meletakkan ponselnya diatas bantal itu. Tangan Fa'i menepuk sisi ranjang yang kosong.


Arini pun mengerti maksud suaminya. Lalu duduk tepat disamping suaminya.


" Sayang, mas melakukan semua itu demi kamu dan anak kita. Mas tidak ingin, apa yang terjadi pada Sabina akan terjadi padamu juga." tutur Fa'i yang kini memutar badanya supaya menghadap pada istrinya.

__ADS_1


Digenggamnya tangan sang istri, agar dia mengerti segala kegundahan dan ketakukan dalam dirinya.


" Tapi, mas. Semua yang terjadi pada Sabina adalah takdir yang telah ditulis untuk Sabina, sebelum dia terlahir didunia ini. Harusnya mas Fa'i lebih mengerti soal ini."


Fa'i menghela nafas kasar, merasa frustasi memberikan pengertian pada istrinya itu.


" Apa mas terlalu memaksa dan melarang kamu.? Apa kamu tidak suka semua itu.?" tanya Fa'i dengan nada suara yang pelan tapi sedikit ketus. Tak selembut tadi.


" Bu_ bukan aku tidak suka mas. Tapi, aku jadi merasa serba salah. Aku ingin melayanimu seperti dulu. Memasak makanan kesukaanmu, menyiapkan segala keperluanmu. Tapi, sejak saat itu. Mas melarangku melakukan pekerjaan ku sebagai seorang istri. " Jawab Arini mencurahkan segala isi hatinya.


" Aku merasa bersalah, sekarang mas yang lebih sering melayaniku. Padahal mas sudah capek bekerja. Aku bosan berdiam diri sepanjang hari. Cuma makan, tidur dan senam kehamilan. Aku tahu mas melakukan itu demi kebaikanku dan calon anak kita. Tapi aku juga ingin melayanimu dengan baik mas." sambung Arini dengan suara sedikit berat, karena matanya mulai memanas. Hingga terlihat berkaca - kaca.


Seketika Fa'i merasa bersalah, melihat Arini yang ternyata begitu tertekan. Akibat sikapnya yang terlalu posesif.


Fa'i pun beingsut untuk duduk di lantai menghadap sang istri. Berlutut didepannya.


Tanganya lantas terulur kedepan merapikan anak rambut Arini, menyelipkan kebelakang telinga.


" Maafkan, mas sayang. Jika sikap mas terlalu posesif, terlalu over protektif. Mas hanya takut kehilangan kamu sayang." ucap Fa'i sabil mengelus perut Arini yang didalamnya ada sebuah kehidupan dari darah dagingnya.


Arini menundukkan kepalanya. Menatap lekat - lekat manik mata suaminya. Terlihat jelas sebuah kekawatiran, ketakutan dan sebuah ketulusan hatinya.


Kedua telapak tangan Arini menagkup wajah sang suami. Ibu jarinya mengelus kedua pipinya. Kemudian mencium keningnya cukup lama.


" Terima kasih, mas telah mencemaskan aku sampai seperti ini. Aku tidak akan meninggalkan mu mas. Kelak aku akan bertahan untuk kamu dan anak kita. " ujar Arini, tersenyum manis pada suaminya itu.


Fa'i lalu meraih tangan kanan Arini dari pipinya. Menggenggam erat dan mencium punggung tangan itu.


" Maafkan, suamimu yang tidak kuat imannya ini yaa. Rin. Mas terlalu mencintai kamu."


" Mas, jangan lagi kamu mencintaiku, melebihi kamu mencintai Rabb-Mu. Hanya Allah yang berhak kamu Cintai sebesar ini. Cintai dan tampatkan aku disebuah ruang dalam sudut hatimu. Cintai dan miliki aku karena Allah. "

__ADS_1


Fa'i tersenyum, meski kata - kata Arini bagaikan sembilau yang menyayat hati. Bukan menyakiti, lebih tepatnya mengingatkan akan hatinya yang mulai terkoyak akan ketakutan yang tidak mendasar.


" Aku harap mas, akan lebih takut kehilangan iman dalam diri. Daripada takut kehilangan ku. Mas tahu, manusia hanyalah sebutir debu didalam debu dari segala apa yang diciptakan ALLAH SWT."


Fa'i kembali mencium punggung tangan Arini. Dirinya sangat bersyukur karena memiliki istri salehah seperti Arini. Yang mengingatkan jika dirinya salah.


Menyadarkan dari sikapnya yang terlena pada kenikmatan dunia. Saling melengkapi dan mencintai karena Allah.


" Terima kasih, karena kamu telah mengingatkan mas. Menyadarkan kekeliruan yang mas lakukan." ujar Fa'i memeluk erat istrinya, menciumi kepala istrinya.


Melihat sikap suaminya yang sudah melunak, Arini berniat untuk meminta sesuatu pada suaminya.


" Mas, aku mau makan mie lagi. Boleh yaa?" pinta Arini setelah Fa'i melepaskan pelukanya.


" Tidak sayang. Mas tidak memberikan itu." jawab Fa'i tegas.


" Mas masih saja posesif gini.!" gerutu Arini memanyunkan bibirnya.


" Kalau soal itu, mas akan tetap posesif."


" Maaf, yaa sayang.!" sambung Fa'i mengelus tengan Arini. Menenangkan hatinya. Arini diam sejenak lalu mengangguk. Berusaha lebih mengerti sikap posesif suaminya itu.


" Kalau gitu senyum donk!." tambah Fa'i memegang dagu Arini, supaya wajahnya menatap pada wajahnya.


Arini pun tersenyum kala melihat mata Fa'i yang menatapnya penuh cinta.


Terima kasih, sudah mampir dan membaca.


Sehat selalu semua.


Ditunggu yaa Visual tokohnya. Bentar lagi yaa..

__ADS_1


__ADS_2