
" Aku gagal, Rin. Aku gagal jadi kakak yang baik untuk Sabina." Gumam Fa'i dengan suara bergetar.
Arini pun ikut menangis, kesedihan karena kepergian sahabat baiknya juga rasa iba pada suaminya itu.
Dihadapan semua orang Fa'i bersikap seolah tegar dan ikhlas. Berusaha menahan air matanya, karena tak ingin terlihat lemah oleh orang lain.
Namun, saat berdua dan dihadapan sang istri. Fa'i tak mampu menahan semuanya, tangis kesedihan dan rasa bersalah yang teramat sangat memenuhi benaknya.
Bendungan dipelupuk matanya akhirnya jebol, membaut air matanya luluh lantah membasahi wajahnya.
" Mas, harus kuat. Kita semua kehilangan, tapi rencana Allah lebih indah untuk kita semua." Ujar Arini dengan suara parau menahan tangisnya.
Arini melepaskan pelukannya, menatap wajah sang suami. Kedua tangannya menjulur menangkup wajah suaminya. Perlahan ibu jarinya menghapus air mata itu.
" Aku tahu mas sudah berusaha. Manusia hanya mampu berusaha, tapi bukankah segala sesuatu Allah yang menentukan."
Ucap Arini tersenyum manis.
Senyum manis Arini seketika mampu menyejukkan hati Fa'i. Rasa gundah dihatinya perlahan berkurang meski belum hilang.
Sentuhan hangat diwajahnya juga senyuman Arini. Perlahan kedua sudut bibirnya tertarik keatas membuat sebuah senyuman diwajahnya.
Meskipun mampu tersenyuman, tapi kegundahan itu masih saja menyelimuti hatinya. Tapi, tak apa setidaknya bebannya sedikit berkurang.
Selain menjadi istri yang sempurna, Arini juga mampu menjadi sosok sahabat yang baik untuk suaminya.
....................
Hari - hari telah berlalu, kesedihan itu sedikit demi sedikit telah berkurang. Semua kembali pada aktivitas masing - masing.
Sedih memang, tapi hidup masih terus berjalan. Sampai waktu Allah menghentikan waktu untuk bernafas.
Semua telah berlalu, manusia hanya tinggal menunggu kapan saat itu tiba.
Putri Imam dan almarhumah Sabina, kini dirawat oleh keluarga Imam. Imam tak ingin tinggal dirumah itu lagi. Terlalu banyak kenangan yang akan membuatnya terus - menerus memikirkan Sabina.
__ADS_1
Bayi cantik itu bernama Aisya Alfattarunissa . Karena rasa bersalahnya, sering kali Arini dan Fa'i berkunjung untuk sekedar melihat bayi mungil itu.
Fa'i sangat menyayangi keponakannya itu. Sampai - sampai dirinya tidak ingin dipanggil Paman oleh Aisya nantinya.
Tetapi, Fa'i ingin Aisya kelak memanggilnya ayah dan bunda untuk Arini.
Mungkin seandainya bisa, Fa'i ingin merawat bayi mungil itu. Tapi, tidak mungkin Imam akan mengijinkan. Imam sangat menyayangi putrinya melebihi apapun didunia ini.
Hari itu Arini dan Fa'i berkunjung kerumah orang tua Imam. Untuk bertemu dengan Aisya tentunya.
Fa'i mengajak berbincang dengan Imam diteras samping rumah besar itu.
" Mam, Apa kamu tidak ingin mencari pengganti Sabina?" tanya Fa'i setelah hampir empat bulan kepergian Sabina. Imam menggelengkan kepalanya.
" Sabina adalah cinta pertamaku, kamu tahu itukan. Hampir sepuluh tahun aku menunggunya, bersabar untuk memiliki dirinya. Tidak semudah itu aku bisa melupakannya dan menggantikan dengan yang baru."
Fa'i pun mengerti, tapi dia juga tidak ingin sahabat baiknya terus menerus larut dalam kesedihan.
Mungkin jika ada sosok wanita pengganti Sabina. Imam bisa sedikit demi sedikit mengikis kesedihan dihatinya.
Imam mengalihkan pandanganya pada Aisya yang kini dalam gendongan Arini diruang tamu. Kedua ujung bibirnya tertarik keatas, membentuk sebuah senyuman. Sekarang Imam jarang sekali tersenyum seperti itu.
Aisya pun terlihat nyaman dalam gendongan Arini. Aisya selalu berceloteh ria, kala Arini mengajaknya berbicara.
" Ehhmpph, Aisya sekarang udah pinter yaa. Senyum terus dari tadi. Kangen bunda yaa, nak..?" ocehan Arini yang seketika membuat Aisya tertawa renyah khas tawa seorang bayi.
Imam dan Fa'i yang memperhatiakan dari jauh pun ikut tersenyum. Lalu berjalan menghampiri mereka berdua.
" Terima kasih yaa, Rin. Karena kamu, Aisya mendapatkan kasih sayang dari seorang Ibu.!" Ujar Imam
" Bukankah Aisya juga putri kami, mas. Mengapa harus berterima kasih. Kami tulus menyayangi Aisya." Jawab Arini setelah memberikan Aisya pada Fa'i yang juga ingin menggendongnya.
Imam tersenyum mendengarnya. Entah mengapa sikap Arini membuat hatinya menghangat.
Malam semakin larut, akhirnya Arini dan Fa'i pulang keapartemen yang lebih dekat dibanding kerumah Umi.
__ADS_1
Kehamilan Arini yang telah memasuki usia delapan bulan, membuatnya tak leluasa bergerak seperti dulu.
" Mas, ada masalah?" tanya Arini kala keluar dari kamar mandi dan memdapati sang suami termenung didekat jendela kamar.
" Haah, tidak ada.!"
" Mas bersih - bersih dulu yaa.?" sambung Fa'i berlalu masuk kekamar mandi.
Walau sebenarnya Arini tahu, Suaminya itu dalam keadaan yang tidak baik. Apalagi tiap Arini bertanya tentang penyebab kematian Sabina yang sebenarnya. Ataupun apa yang terjadi didalam ruang operasi hingga Fa'i begitu merasa bersalah. Tak pernah dijawab olehnya.
Bahkan pernah satu hari Arini bertanya, tapi malah membuat Fa'i menjadi marah padanya.
Sejak saat itu Arini tak ingin bertanya. Walau sejujurnya rasa ingin tahu masih ada.
Fa'i hanya bilang, kalau kejadian itu membuatnya takut. Bayang - bayang itu masih nyata, hingga membuatnya takut kejadian itu terjadi pada Arini juga.
Sebenarnya Fa'i menyakini, semua yang terjadi adalah kehendak sang pencipta. Tapi, untuk melupakannya terlalu sulit. Seakan ada trauma tersendiri dalam dirinya.
Bayang - bayang saat Sabina menghembuskan nafas terakhirnya. Saat tangannya mulai terlepas dari genggaman Imam. Kadang masih terngiang dipikirannya.
Sabina belum melihat putrinya yang sembilan bulan dalam rahimnya. Jangankan untuk itu, sesaat setelah bayi itu keluar Sabina telah tak bernyawa lagi.
Seolah saat bayi Aisyah keluat dari rahimnya. Nyawanya pun ikut keluar dari raganya.
Seakan terkoyak hatinya. Fa'i benar - benar merasa sangat bersalah. Hingga membuatnya trauma, ketakutan tersendiri dalam hatinya. Apalagi jika membayangkan itu terjadi juga pada Arini.
Arini pun memilih memberikan dukungan untuk suaminya. Arini percaya, mungkin ada hal - hal yang memang tak perlu, ia ketahui demi kebaikannya.
Klekkk..
suara pintu kamar mandi terbuka, menyadarkan lamunannya Arini. Dilihatnya sang suami nampak segar setelah mandi.
Seketika senyum Arini terbingkai dibibirnya.
" *Semoga, segala beban dalam benakmu luruh dan pergi seiring berjalannya waktu. Aku yakin, kamu tak ingin berbagi denganku karena untuk kebaikanku dan anak kita."
__ADS_1
**Terima kasih sudah mampir jangan lupa like , Comment dan vote yaa.
Author sudah dapat beberapa visual dari mereka niih. Kira - kira di Up apa gak yaa. Bingung juga***.