
Hari demi hari berlalu begitu cepatnya. Tanpa dirasa kini kedua bayi itu telah tumbuh sehat dan menggemaskan.
Meski hanya diwaktu siang saja Arini merawat Aisya. Tapi, tak mengurangi rasa sayang Arini pada sosok bayi cantik dengan pipi gempil yang menggemaskan.
Deg.. deg...deg...
Detak jantung Imam kian lantang berdebuk kencang, setiap melihat dan berhadapan dengan sosok Arini yang telah memporak - porandakan hatinya. Apakah yang terjadi pada hati Imam hanyalah rasa baper saja atau kah mamang telah jatuh hati pada Arini.
" Assalamualaikum. " sapa Imam pada Arini yang tengah asik bermain bersama Aisya dan AL dihalaman depan rumah besar itu.
" Walaikumsalam, ehhh papa pulang tuu Aisya sayang."
Hati Imam semakin berdesir dibuatnya, senyuman dan ketulusan Arini benar - benar membuat Imam tergila - gila.
" Yaa Allah, mengapa aku harus memcintai dia. Aku tahu ini salah, tapi aku juga tak bisa menahan perasaanku ini. Mengapa kekosongan hati ku harus terisi oleh Arini."
Gumah Imam dalam hatinya.
Sekeras apapun Imam berusaha, bayangan Arini selalu saja mengusik pikirannya.
" Maaf yaa Rin. Setiap hari kamu harus repot mengurus Aisya juga."
" Gak repot sama sekali kok, Mas. Lagian sama siapa saja. Aku kan bundanya, sudah sewajarnya kalau Aisya ngrepotin aku." Jawab Arini memberikan Aisya pada Imam.
" Iyakan, Aisya. Aisya juga seneng kan disini sama bunda dan kakak AL." Sambung Arini berbicara pada Aisya yang berceloteh ria dengan senyum mengemaskan.
Lagi - lagi Arini membuat Imam terpukau. Apalagi kini Imam bisa melihat wajah Arini dari jarak yang cukup dekat.
Meski tak saling bersitatap mempertemukan mata mereka. Tapi, senyum dan binar mata indah Arini sukses membuat hatinya tak karuan.
Untung saja saat itu Fa'i datang, setidaknya Imam bisa mengendalikan debaran jantungnya. Dan menghilangkan rasa canggung dalam dirinya jika ketahuan oleh Arini. Karena diam - diam, dirinya memperhatiakn dan mengagumi wajah cantiknya.
" Hai, Mam. Kok tumben sore banget kamu pulang dari rumah sakit.?" tanya Fa'i yang memang seharian tadi tidak melihat Imam dirumah sakit.
" Ooo, tadi aku ke rumah sakit XY jadi agak terlambat pulang. " jawab Imam mengalihkan pandanganya dari Arini pada Fa'i.
Fa'i pun mengendong AL yang dari tadi duduk anteng distoler, mengigit - gigit mainan ditangannya.
Arini beranjak kedapur membuat minuman untuk dua hot daddy itu. Sementara dua lelaki itu, sibuk bercengkrama dengan Aisya dan AL.
__ADS_1
Harus diakui Imam merasa tak enak hati pada Fa'i. Meskipun tak sengaja jatuh hati pada istri sahabatnya itu. Tapi, perasaan bersalah menyelimuti hatinya.
Dirinya sadar betul, telah menghianati sahabat baiknya. Terlepas apapun alasannya, tetaplah Imam tak boleh melakukannya.
Imam memang tak ingin ataupun berniat merebut ataupun menghancurkan rumah tangga Fa'i dan Arini. Namun, dirinya juga tak bisa untuk menghianati hatinya.
Cintanya pada Arini tulus adanya. Memang salah dirinya jatuh cinta pada istri orang. Bukankah, jatuh cinta adalah hak setiap manusia.?
Mungkin benar bukan jatuh cintanya yang salah, Namun, pada siapa dulu jatuh cinta itu bisa dibenarkan.
Sejatinya CINTA adalah sebuah anugerah yang bersih dan suci, namun cinta yang berbaur dengan dosa bukanlah sebuah anugerah tetapi justru akan menjadi sebuah UJIAN.
Sikap Imam pada Fa'i pun sedikit berubah, tak ada kedekatan seperti dulu. Imam, memang mulai menjaga jarak dari Fa'i juga Arini. Bukan karena cemburu ataupun iri hati. Tapi, semata - mata dia lakukan untuk menekan perasaannya pada Arini. Juga rasa bersalah atas penghianatan hatinya.
" Maafkan aku Fa, aku memang bukan sahabat yang baik untuk kamu. Mana ada sahabat yang jatuh cinta pada istri sahabatnya sendiri." gumah Imam saat perjalanan pulang.
Tak pernah ada dalam bayangannya, perjalanan cintanya bisa serumit ini. Dulu dirinya harus menahan diri dan bertahan pada penantian panjang untuk memiliki Sabina cinta pertamanya.
Sekarang dikala kekosongan hati dan kesepian hidupnya, mengapa dirinya malah jatuh cinta pada wanita yang haram untuk dicintainya. Dan terjebak dalam cinta segitiga seperti ini.
Imam menghempaskan tubuhnya, diranjang tidurnya, bayangan Arini sekilas melintas dalam angannya.
Dalam setiap sujudnya, Imam selalu memohon kepada Rabbnya untuk menghapus perasaannya pada Arini. Namun, entah mengapa perasaan itu malah semakin mengakar dihatinya. Setan apakah yang membuatnya menjadi seperti ini, entahlah.
" Astafirullah, mengapa hatiku seperti ini? Arini sebenarnya apa yang ada dalam dirimu? Semakin aku menahan perasaanku, semakin aku tergila - gila padamu."
Sejenak Imam, berfikir untuk pergi menjauh dari semua kegilaan ini. Dirinya masih cukup waras untuk tidak berbuat dosa lebih banyak lagi.
Apalagi, kalau sampai perasaannya disadari orang lain. Tak terbayangkan kekacauan apa yang akan terjadi nantinya.
" Boleh Ibu masuk, nak?" tanya bu Dewi. Ibu dokter Imam yang melihat kegelisahan anak semata wayangnya itu. Beliau telah lama menyadari sikap putranya yang selalu gelisah dan terlihat murung.
" Haa, " Imam yang kaget lantas bangun dari rebahanya, lantas mengangguk pelan pada ibunya.
" Ada apa Nak? Apa kamu masih belum bisa mengikhlaskan kepergian Sabina.?"
Imam manggeleng kan kepalanya. Menghembuskan nafasnya kasar, mencoba bersikap tenang. Mungki dirinya perlu bercerita pada ibunya, meminta saran atau setidaknya berbagi beban dihatinya.
" Bukan itu Bu. Aku sudah ikhlas menerima kepergian Sabina. Tapi, seseorang yang menyadarkan keterpurukanku malah membuatku jatuh cinta lagi."
__ADS_1
Sang Ibunda yang belum mengetahui siapa yang dimaksud putranya, justru tersenyum bahagia karena beranggapan putranya telah menemukan seorang wanita pengganti alm Sabina yang akan membuatnya bahagia.
" Lha, bukannya orang yang jatuh cinta harusnya bahagia yaa? Kok, kamu malah nelangsa gini.?" canda bu Dewi terkekeh melihat kegusaran diwajah Imam.
" Bagaimana mau bahagia bu, Imam jatuh cinta pada wanita yang sudah bersuami.!"
Deg,
Ibu Dewi yang mendengarnya, kaget bukan kepalang. Putra kebanggaannya terjerumus dan terjebak dalam keadaan yang seperti ini. Cinta terlarang yang tak boleh dibiarkan berlarut - larut.
" Siapa dia, Nak?" tutur lembut ibunya, mengusap lengan Imam. Kerana beliau tahu putranya tak mengada - ada untuk masalah pelik seperti ini.
" Huuffff....."
" Arini bu." lirih Imam, dan bu Dewi kembali dibuat kaget dengan nama yang baru saja disebutkan Imam. Namun, beberapa saat kemudian beliau tersenyum.
" Harus ibu akui, perasaanmu itu salah dan berdosa. Tapi, ibu tidak heran kalau kamu bisa jatuh hati pada nak Arini."
Imam mengreyitkan alisnya mendengar penuturan Ibunya.
" Arini perempuan yang sangat baik dan pantas untuk dicintai. Laki - laki mana yang tidak akan jatuh cinta kala berada didekatnya. Tapi, nak perasaan kamu ini tidak benar. Kamu harus melupakannya, akan banyak hati yang terhianati kalau sampai perasaan kamu diketahui orang lain. Terutama Fa'i persahabatn kalian akan hancur karenanya."
Imam tertunduk lesu, semua penuturan ibunya benar adanya. Dirinya pun telah menyadari semua itu sejak awal. Tapi, dirinya juga tak mampu menahan gejolak rasa dihatinya.
" Imam harus bagaimana bu, agar Imam melupakan Arini.?"
" Pergi menjauh dari mereka untuk sementara waktu. Dan lebih mendekatkan diri pada Allah agar dimudahkan segalanya. "
Naluri seorang ibu mamang tidak akan bisa terbantahkan. Semua yang dipikirkannya, bisa dengan mudah dirasakan oleh beliau. Nasihat beliau pun juga sama dengan segala rencananya sendiri.
Mungkin memang inilah jalannya, doa dan restu sang ibu akan membuat segalanya dipermudah oleh Allah SWT.
" Rumit sekali kisah cintamu, nak. Semoga kelak kamu mendapatkan cinta dari seorang perempuan yang berhati malaikat yang akan membuatmu bahagia dunia akhirat."
batin Ibu Dewi mendoakan putra tercintanya. Sebenarnya beliau sangat sedih dengan apa yang yang alami Imam putranya. Tapi, Seorang ibu hanya ingin yang terbaik untuk anaknya.
Ibu Dewi hanya tidak ingin anaknya terjerumus nafsu setan yang akan membujuknya untuk bertindak lebih jauh lagi. Mengingat kekosongan dan kerapuhan hatinya saat ini.
*Terima kasih sudah mampir dan membaca. Jangan lupa like, comment dan vote yaa.
__ADS_1
Selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga kita diberikan keberkahan dibulan suci ini*.