Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
67. Ajakan untuk kembali


__ADS_3

" Kenapa kamu lari dari aku dan Aisya, Rin?" tanya Imam membuka pembicaraan serius dengan Arini.


Tak ada jawaban, Arini hanya mendengarkan tak berniat menanggapi ataupun menatap kesungguhan itu.


" Apa kamu kecewa pada perasaanku ini.? Sungguh Rin, aku tak pernah bermaksud mencintai kamu sedalam ini. Aku juga tak mengerti, mengapa aku bisa jatuh cinta pada kamu yang sudah jelas waktu itu kamu adalah istri sahabatku sendiri."


Imam menghela nafas, mencoba mengendalikan hati dan emosinya. Karena sikap dingin yang Arini tunjukan.


" Maafkan aku, Rin.! Mungkin secara tak langsung aku telah menyebabkan semua ini terjadi dihidupmu. Jika saja waktu itu aku tak jatuh cinta padamu, pasti semua ini tak akan terjadi. Fa'i dan AL tak akan pergi selamanya. Maaf, Rin.!"


" Aku tahu kamu pasti membenci ku.! Aku memang pantas untuk itu. Tapi, tolong Rin. Jangan seperti ini. Kamu gak harus lari dari semua ini. Mbak Amira terus mencari kamu Rin. Dia yang paling mengharapkan kamu kembali. Dan juga apa kamu tak merindukan Aisya.?"


"Sejujurnya aku juga sama sangat merindukan kamu, Rin.! Maaf karena aku tak mampu mengubur cinta ini. Aku juga tak mengerti."


Deg, pertanyaan menohok itu sukses membuat Arini meneteskan air matanya. Padahal sedari tadi dia berusaha keras menahan air matanya agar tak jatuh.


" Rin, aku mohon. Kembalilah, jangan lari lagi. Jika mamang alasan kamu lari karena aku, maka biarlah aku yang pergi dari kehidupan kamu. Aku akan melakukan apapun agar kamu bahagia dan tetap tinggal.!"


Arini mendongak menatap mata hazel milik Imam, ingin memastikan bahwa tak ada kebohongan dari sana. Dan benar, yang ada hanya kesungguhan dan rasa bersalah yang teramat sangat.


" Apa Aisya baik - baik saja selama ini.?" sebuah pertanyaan kelur dari mulutnya yang sedari tadi tertutup rapat.


" Aisya baik. Seperti yang kamu liat waktu dimakam kemarin."


Jantung Arini seakan berhenti sedetik, matanya membulat menunjukan keterkejutannya.


" Apa dia menyadari itu aku, saat aku memeluk Aisya kemarin.?"


" Aku tahu itu kamu, saat mbak Amira bilang kalau kamu juga kemungkinan dari sana sebelum kami datang. Dan yang menjadi aku tambah yakin, saat kamu memeluk Aisya. Dari sana aku bisa melihat kasih sayang tulus seperti yang kamu berikan pada Aisya dulu."

__ADS_1


" Baiklah, saya akan menemui mbak Amira dan Aisya. Tapi, setelah bertemu dengan mereka dan saya ingin pergi dari kehidupan kalian maka jangan mencoba mencegah saya.!" tutut Arini datar setelah diam sesaat.


" Huufft, " suara helaan nafas Imam yang sedikit lega.


" Biarlah nanti aku yang akan pergi dari kehidupan kamu. Keluarga mbak Amira adalah keluarga yang kamu punya saat ini. Jadi jangan pergi meninggalkan mereka lagi.!"


Imam mengulas senyum bahagia dibibirnya. Meski bukan dirinya yang menjadi alasan Arini kembali dan tetap tinggal. Dirinya sadar, bahwa kesalahannya itu tak bisa dengan mudahnya diterima Arini. Apalagi dimaafkan.


**


Dengan terpaksa Arini menuruti Imam. Walau berat, tapi mengingat mbak Amira dengan segala kebaikan serta ketulusannya membuat hati Arini tersentuh.


Didalam mobil milik Imam, Arini hanya diam duduk dibangku belakang. Pandanganya menatap keluar kaca pintu mobil itu. Menikmati lalu lintas ibu kota yang dia tinggalkan setahun lamanya.


Sementara dari kaca spion diatas keemudinya, Imam sesekali melirik Arini. Ada sedikit rasa hangat menyentuh hatinya, saat melihat wajah yang membuatnya hampir gila.


" Astafirullah, Mam. Meskipun sekarang dia bukan lagi bersetatus istri orang, tapi dia masih haram kamu pandangi. Ingat zina mata."


"Yaa, Allah. berikan hamba kekuatan untuk menghadapi masalah ini. Sejujurnya aku lelah berlari menghindari masalah ini. Hilangakn perasaan cinta mas Imam itu yaa, Allah. Karena cintanya telah membawa kehancuran untuk hidup kami."


Doa yang digumamkan dalam hati seoarang Arini yang benar - benar terluka karena cinta haram seorang Imam pada dirinya. Walau tak bisa dia pungkiri, semua ini bukanlah kesalahan Imam sepenuhnya.


Setidaknya dulu Imam tetap berusaha menekan semua rasa itu. Memilih pergi demi kebaikan semua orang. Namun, apa daya takdir yang berbicara. Semua usaha yang dilakukan tetaplah Allah yang menentukan. Begitupun cinta dihatinya, sekian lama dia berusaha membunuh dan menguburnya. Namun, tetaplah cinta itu ada dan semakin mengakar hingga memenuhi seluruh hatinya.


Arini sadar betul, jika tak ada gunanya menyalahkan siapapun atas kejadian itu. Imam, mbak Amira dan dirinya sendiri mempunyai alasan dan pertimbangan sendiri melakukan hal yang dianggap terbaik untuk Fa'i. Namun, nyatanya malah berakibat fatal baginya.


**


Imam mendesah pelah, mengusir rasa canggung dan jenuh dengan keadaan itu. Bayangkan selama hampir setengah jam, dirinya dan Arini hanya saling diam. Hanyut dalam pikiran masing - masing.

__ADS_1


" Kita sudah sampai, Rin.! Sudah siap bertemu mbak Amira. Kebetulan Aisya juga masih disini." ucap Imam setelah masuk kehalaman rumah milik keluarga alm Fa'i.


Tak menjawab, Arini langsung turun begitu saja. Diedarkan pandanganya menyapu seluruh bangunan didepan matanya. Rumah yang penuh akan kenangan indah bersama suami tercintanya. Tak dirasa air matanya meleleh begitu saja.


" Ayo, masuk. Mereka pasti senang melihat kamu lagi.!" ajak Imam yang berjalan didepannya. Arini pun mengekori dengan jarak lebih dari satu meter.


" Papa, " panggil seorang gadis kecil yang berlari dari arah taman disudut halaman.


Imam menoleh, mengembangkan senyumnya kala melihat Aisya berlari menuju pelukannya. Arini terbawa suasana haru, melihat Aisya tanpa harus menyembunyikan wajahnya seperti kemarin.


Air matanya kembali meleleh dipipinya, bayi mungil yang telah menjadi piatu sesaat setelah lahir itu, kini telah menjadi gadis kecil yang cantik dan mengemaskan.


Aisya yang kini berada dalam gendongan Imam pun. Mengerutkan keningnya, melihat Arini yang datang bersama sang papa.


" Ooyaa, sayang. Ini bunda Arini yang sering papa ceritakan. Bunda Arini adalah bundanya Aisya.!"


Aisya pun mengingat, lalu tersenyum bahagia mengingat wajah Arini yang fotonya menempel didinding kamarnya.


" Bunda, " seru Aisya berhambur memeluk erat Arini.


Sesaat Arini membatu kala mengetahui Aisya mengenal dirinya. Meski hanya lewat foto dan cerita dari Imam. Arini membalas pelukan itu tak kalah eratnya.


" Akhirnya bunda pulang juga. Sudah lama Aisya ingin ketemu sama bunda." ucap Aisya merenggangkan pelukannya.


Arini tak mampu berkata - kata, ditatapnya wajah Aisya lalu menciumi seluruh bagiannya. Hingga membuat Aisya tertawa geli, namun bahagia terpancar dari sana.


Terima kasih sudah mampir.


Semoga suka, nikmati saja. Hidup gak melulu soal bahagia tapi juga ada kesedihan, itulah yang dinamakan kehidupan.

__ADS_1


Sehat selalu semua.


__ADS_2