
Imam mendesah pelan, tangannya mengepal erat. Tak mampu membayangkan jika benar Arini menerima salah satu lamaran yang datang padanya. Bagaimana dengan Aisya, nantinya.?
" Apa kamu sudah memiliki jawaban untuk Firman.?" tanya Imam pasrah.
" Belum, kalau menurut mas Imam bagaimana.? Aku tolak apa aku terima?"
Arini berbalik tanya pada Imam. Bukan sengaja sebenarnya. Namun, entah mengapa Arini ingin melihat reaksi dan tanggapan dari laki - laki yang membuat hatinya berdebar sejak tadi.
" Huuffft, " Imam menghela nafas, dari raut wajahnya terlihat sebuah penyesalan dan kekecewaan pada dirinya sendiri.
" Tanyakan pada hatimu, Rin.! Setiap hati tak akan pernah berbohong untuk masalah perasaan."
Arini tersenyum samar melihat wajah Imam yang nampak sedih dan kecewa.
" Apa mas Imam mengikhlaskan ku jika aku menerima salah satu dari mereka.?"
Sebuah pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab oleh Imam. Mengingat status Arini saat ini, sebetulnya Imam punya peluang yang sama seperti Andi dan Firman.
Tetapi, dengan sikap Arini yang mau bercerita seperti ini. Imam beranggapan bahwa Arini hanya merasa nyaman sebagai seorang teman.
Berbeda halnya dengan Arini, dia nampak menikmati raut wajah Imam yang seperti itu. Terlalu menggemaskan baginya.
Ehh, kenapa jadi seneng liat dia seperti itu. Apa aku mulai ada rasa padanya.
Imam masih bingung harus menjawab apa, ikhlas mungkin mudah diucapkan. Tetapi, entah dengan hatinya. Mendengar bahwa Arini telah dilamar oleh kedua sahabatnya saja, sudah membuat hati hancur. Perih tak tertahankan. Apalagi sampai melihatnya bersanding dipelaminan.
Bilang kalau kamu gak ikhlas mas. Mungkin aku akan mantap untuk menolak mereka.
" Aku tidak tahu, Rin. Tapi, apapun yang kamu pilih aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu."
" Gimana sih, mas. Tinggal jawab gak ikhlas gitu aja susah banget.!"
Arini nampak lesu dengan jawaban dari Imam. Walaupun Arini tahu, dari raut wajah Imam menunjukan ketidak ikhlasanya. Tapi, Arini hanya ingin mendengar langsung dari lubuk hatinya.
" Istirahatlah, sudah malam.!" sambung Imam setelah hening cukup lama.
__ADS_1
" Pulanglah mas, kasihan Aisya kamu tinggal.!"
" Nanti aku pulang setelah kamu tidur dengan nyenyak." jawab Imam sambil melangkahkan kaki kesofa, lalu membuka ponsel yang tadi diletakkan dimeja itu.
Arini merebahkan kepalanya, menarik selimut sampai batas pinggangnya. Diam - diam dia tersenyum mencuri pandang menatap wajah manis laki - laki itu.
" Aku pasti sudah tidak waras. Yaa, Allah sembuhkan kepalaku. Pasti gara - gara terbentur trotoar tadi nii,." batin Arini sambil memejamkan matanya.
Tak butuh waktu lama, Arini sudah terlelap kedalam mimpinya. wajahnya begitu tenang dan damai. Seolah dalam mimpinya Arini mendapatkan sebuah kebahagiaan yang sangat luar biasa indah.
Imam berjalan mendekati Arini, dilihatnya jam yang melingkar ditangan kanannya. Sudah hampir pukul 11 malam.
Ditatapnya wajah cantik itu dalam - dalam. Ingin rasanya Imam menyentuh wajah yang selalu hadir dimimpinya tiap malam.
" Jujur saja Rin, saat ini aku tidak ikhlas. Jika kamu dimiliki oleh orang lain.!" gumamnya pelan, sambil mengulurkan tangan untuk menyentuh punggung tangan Arini.
Namun, Imam mengingat Arini bukanlah seperti perempuan diluar sana yang mau disentu oleh seorang laki - laki yang bukan muhrimnya. Sekalipun hanya berpengangan tangan. Lalu ditarik kembali tangannya yang hampir saja menyentuh jemari lentik itu.
Imam keluar dari sana setelah puas menatap wajah Arini. Hatinya bahagia bisa berada dalam kondisi seperti ini dengan Arini. Walaupun dia sadar, akan banyak hal yang menghalangi dirinya untuk memiliki Arini.
Jika aku kembali dan tidur disofa, pasti akan terjadi gunjingan jika ada salah satu suster yang melihat. Ahh, lebih baik aku menunggu disini.
Imam pun memutuskan untuk menjaga Arini dari luar kamar rawatnya. Duduk bersandar dipada jejeran kursi tunggu yang merapat pada tembok itu.
Malam kian larut, hingga akhirnya mata Imam tak tertahan lagi untuk terjaga. Imam terlelap disana, meringkuk dengan jaket kulit yang menutup tubuh bagian atasnya.
Udara memeng dingin malam ini. Apalagi diluar ruangan seperti ini. Hembusan Angin malam serasa menusuk pori - pori kulit sampai menembus daging hingga ketulang. Mungkin besok pagi akan terasa ngilu saat bangun tidur.
Denting jam terus berputar, sampai waktu sudah menunjukan hari telah berganti. Waktu sepertiga malam pun telah tiba. Arini yang sudah terbiasa bangun untuk sholat tahajut pun, mulai membuka mata.
Lalu mulai turun dari tempat tidurnya, untuk kekamar mandi. Dipengangnya tiang infus itu, diseret menuju kamar mandi.
Arini telah selesai mengadukan segala kegundahan dihatinya. Meminta petunjuk akan semua masalah lamaran yang datang kepadanya dan perasaan aneh yang tengah dia rasakan saat ini.
Arini melipat mukenanya dengan susah payah. Saat akan memasukan kedalam laci, matanya menagkap sebuah benda diatas nakas. Sebuah kunci mobil tergeletak disana.
__ADS_1
" Apa ini kunci mobil mas Imam.? Apa dia tidak pulang.? Lalu dimana dia,?"
Entah dorongan dari mana, Arini pun berjalan mendekati pintu. Sampai disana, Arini melihat seseorang dari balik kaca yang terpasang dipintu itu. Seseorang yang baru saja dicarinya, masih terlelap dikursi tunggu.
Hatinya menghangat, dan sebuah senyuman merekah dibibir tipisnya. Rasa senang dan terharu jadi satu. Melihat ketulusan seorang laki - laki yang selama setahun lalu dia hindari.
Ditatapnya wajah tenang itu, wajah laki - laki yang sangat tulus mencintainya. Meski diwaktu yang salah, dia jatuh cinta pada Arini. Tapi, cintanya tak pernah bohong atau cara mencintainya pun tak pernah memaksa.
Imam memang tak setampan Fa'i. Tak sekaya Andi, bahkan tak sesoleh Firman. Tapi, satu hal yang istimewa dari kesetiaannya, tak perlu diaraguakan lagi.
Mungkin Arini bukan yang pertama untuknya, ada Sabina yang terlebih dulu mengisi hidupnya. Namun, saat bersama Sabina dulu, tak pernah sekalipun Imam berfikir untuk bersama wanita lain. Padahal bertahun - tahun lamanya Imam harus bersabar menunggunya. Begitupun saat ini, saat cintanya telah tergantikan dengan Arini setelah kepergian Sabina.
Dibalik pintu itu, ingin rasanya Arini keluar. Menatap lebih dekat lagi laki - laki itu. Hanya saja pasti suara deritan pintu dan seretan tiang infus pasti akan membangunkannya.
Sekarang aku sudah tau apa yang harus aku lakukan. Terima kasih, yaa Allah. Telah Engkau tunjukan jawaban dari segala kegundahan hatiku.
Sungguh hati perempuan mana yang tak luluh dibuatnya. Perhatian tulus apa adanya. Cinta yang tak memaksa. Juga perlakuan dan tutur kata lembut dari seorang laki - laki seperti Imam. Laki - laki yang hangat penuh kasih sayang.
Sebentar lagi subuh menjelang, Arini telah kembali ketempat tidurnya untuk membaca Al - Quran diponselnya. Sementara Imam terbangun dari mimpinya karena alaram
dari ponselnya.
" Alhamdulilah, sudah pagi." gumam Imam sambil merenggangkan otot - ototnya yang terasa kaku dan ngilu itu.
Ckleekkk,
Suara pintu dibuka, Arini yang mendengarnya. Kaget dan langsung kembali memejamkan matanya. Berpura - pura tidur, ingin seolah dirinya tak tahu keberadaan Imam disana.
Harus diakui, benih cinta dihatinya mulai bersemi untuk laki - laki itu.
Terima kasih, sudah mampir.
Semoga suka.
Sehat selalu semua.
__ADS_1