Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
Awal berjumpa.


__ADS_3

Menjadi penulis dan penterjemah adalah profesi yang dipilih Aisya saat ini. Kecintaannya pada buku dan menulis benar - benar membuatnya tenggelam dalam dunia itu.


Dari hanya sekedar hobby, kini Aisya menjadi salah seorang penulis yang cukup dikenal oleh masyarakat. Beberapa novelnya juga cukup laris dipasaran.


Siapa sangka dari sekedar hobby, kini menjadi ladang rejeki untuknya. Mempunyai pekerjaan yang bermula dari hobby, memang sangat menyenangkan bukan?


Hari ini Aisya sangat terburu - buru, mengingat perintah mbak Arum kemarin yang meminta seluruh stafnya untuk datang lebih awal dari biasanya.


Karena hari ini adalah hari penyambutan pimpinan baru yang akan menggantikan pak Rahmat ayahnya Mbak Arum. Yang memutuskan untuk pensiun setelah divonis dokter mengidap gagal ginjal.


" Sya, denger - denger pimpinan baru nanti masih single, ganteng pula." kata Dara memberitahu saat mereka masih sibuk dimeja kerja mereka masing - masing.


" Oyaa, benarkah? Kalau gitu, kamu deketin aja Ra! Dari pada nunggin mas Wahyu yang gak memberi kamu kepastian juga." Goda Aisya sambil merapikan meja kerjanya.


" Iss, kamu ini Sya. Perlu kamu tahu yaa, aku itu tipe perempuan yang setia tau.!" sentaknya mendelik kesal.


Aisya tersenyum melihat sahabatnya itu mengerucutkan bibirnya. Karena kesal mungkin.


" Kamu aja Sya! Siapa tau jodoh?"


" Mulai deh ngomongin jodoh. Jodohku itu lagi dalam perjalanan, aku yakin bentar lagi dia datang. Dan waktunya pasti sangat tepat."


Lalu suara mbak Arum, menghentikan obrolan kami.


Seluruh staf dari setiap divisi pun bergegas menuju ruang rapat utama. Tak sedikit dari staf wanita yang berbisik membicaraka berita ketampanan dan pesona pimpinan baru nanti.


Padahal kan belum pernah ada yang bertemu kecuali pimpinan sebelumnya dan mbak Arum. Aisya bergeleng saat Dara mengajaknya duduk dideretan nomor dua setelah para pimpinan setiap devisi.


Tak lama, hingga tibalah saatnya waktu yang ditunggu. Pak Rahmat memasuki ruangan bersama dengan seorang laki - laki yang Masya Allah sungguh sangat tampan.


Para staf yang semua riuh dengan bisikan mereka. Kini seolah tersihir oleh pesona laki - laki berjas hitam pekat itu. Mulut mereka mengagah, karena terkagum - kagum pada pimpinan baru itu.


Kecuali Aisya, yang hanya melihat sekilas lalu menundukkan kepala. Takut akan zina mata. Bukankah seorang muslim yang baik harus bisa menjaga pandangan dari hal - hal yang mangarah pada zina mata.


Aisya tersenyum samar melirik ekspresi wajah Dara juga teman - temannya yang lain.


Jadi ingat kisah nabi Yusuf Alaihi salam.


Acara sambutan pun segera dimulai, pak Rahmat memberikan sambutan pertama, dalam isi sambutannya pak Ratmat berterima kasih kepada seluruh karyawannya. Memohon maaf atas kesalahannya.


Ada rasa haru disana, pak Rahmat harus pensiun dalam kondisi kesehatannya yang seperti ini. Beliau memohon undur diri pamit, karena mulai besok sudah tak datang keperusahaan untuk bekerja. Sekaligus mengundang kami semua untuk datang kekediaman beliau nanti malam.


Diakhir sambutannya, pak Rahmat memperkenalkan pimpinan baru yang ternyata bernama Danies Nalendara Setiawan. Nama yang sangat cocok untuk pria rupawan itu.


Saat pak Danies memberi sambutan dan memperkenalkan diri. Diam - diam Aisya, meliriknya sekilas. Tapi, entah mengapa melihat senyum laki - laki itu terasa tak asing baginya. Senyum manis yang mempesona.

__ADS_1


" Kek berasa pernah kenal sama pak Denies." batin Aisya.


Siapa sangka saat Aisya menatap Danies agak lama, dengan cepat dia menundukkan pandangannya. Karena tanpa sengaja tatapannya bertemu sekian detik dengan laki - laki yang sedang berpidato diatas podium.


Aisya merasa malu, sedang Danies dalam hati tersenyum. Bagaimana tidak sedari tadi dia memang mencari sosok gadis yang dicarinya selama ini.


*****


Setelah acara itu selesai, seluruh karyawan kembali ke devisi masing - masing. Banyak dari mereka yang membahas ketampanan pak Denies. Termasuk Dara yang masih heboh memuji dan mengagumi wajah rupawan seorang Danies Nalendra Setiawan.


" Masya Allah, Sya. Pak Danies benar - benar idaman. Semoga dia berjodoh sama kamu yaa, Sya!" kata Dara, mulai meracau. Aisya hanya bergeleng melihat kelakuan sahabatnya itu.


" Lha, kok jadi aku. Kamu yang suka, kenapa aku yang kamu doain berjodoh sama pak Danies.?" Tanya Aisya sambil membuka laptop didepannya.


" Aisya sayang, aku tu hanya kagum aja kok. Kamu kan tahu cintaku cuma buat mas Wahyu seorang. Lagian aku gak cukup cantik untuk berdampingan dengan pak Danies. Kamu kan yang paling cantik dikantor ini. Pasti kalian serasi kalau berjodoh." Jelas Dara yang ikut membuka laptop didepan meja kerjanya. Aisya kembali mengeleng tak habis pikir dengan sahabatnya itu.


" Hem, udahan yaa ngomongin jodohnya." kata mbak Arum yang ternyata sudah berdiri di dekat mereka. Sambil tersenyum.


" Maaf, mbak!" kata dua sahabat itu bersamaan.


Merasa malu karena ditegur oleh atasannya. Meskipun dia sangat baik. Tapi, tak enak kalau ditegur langsung.


****


Apa yang akan dibicarakan pak Danies dengan karyawan biasa sepertiku. Lagian aku belum mengajukan buku baru lagi.


Aisya menarik nafas dalam saat sampai didepan ruangan itu. Entah mengapa rasa gugup tiba - tiba melanda. Jantungnya berdebug sangat kencang.


Tok... Tok.... Tok...


" Masuk," jawab seseorang dari dalam.


Perlahan Aisya membuka pintu, didalam ruangan yang sangat rapi itu ada Pak Danies dan Rudi sekretaris pribadinya.


" Assalamualaikum, pak! Bapak memanggil saya?"


" Walaikum salam." Jawab mereka berdua bersamaan.


Rudi lalu berjalan menghampiri Aisya, mempersilahkan masuk. Sementara dirinya keluar dari sana. Sambil bergumam dalam hati.


" Wah, kelihatannya pak Bos juga naksir sama Aisya. Bakalan malu banget kalau nekat bersaing."


Setelah Rudi keluar, Danies melepas jas yang dia pakai lalu berjalan kearah sofa panjang itu.


" Silahkan duduk!" Danies mempersilahkan duduk Aisya.

__ADS_1


Aisya hanya mengangguk, lalu duduk dengan jarak yang cukup jauh dari pimpinannya itu. Diam - diam Danies tersenyum melihat wajah bingung serta gelisah perempuan manis didepannya saat ini.


" A_ ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Aisya. Kata Aisya terbata saking gugupnya. Tangannya bertautan sengan berbalas menatap lawan bicaranya. Karena memang seperti itulah aturannya.


" Apa kamu masih ingat saya, nona Aisya?" tanya Danies.


" Huuh," celetuk Aisya kaget dan mendongak menatap Danies. Ekspresi wajah Aisya saat ini begitu menggemaskan, pikir Danies.


" Maaf, pak.!" sahut Aisya kembali menunduk setelah menyadari tatapan matanya bertemu dengan milik Danies.


" Apa kita saling mengenal, pak? Saya tidak ingat pernah mengenal bapak sebelumnya." jawab Aisya pelan. Meskipun dirinya merasa Senyuman itu tak asing.


Ternyata dia tak mengingatku. Ahh, pastilah dia tak mengingatnya. Sudah dua puluh tahun berlalu, dan waktu itu usianya masih lima tahun.


Dia sangat berbeda, gadis kecil ompong itu sekarang menjadi perempuan yang sangat cantik seperti ini.


Meskipun, dihatinya masih ada Fitria. Tapi, tak bisa dipungkiri kecantikan Aisya membuatnya terpesona.


Lalu Danies mempersilahkan Aisya kembali ketempatnya. Hal itu justru membuatnya bingung. Pasalnya hanya pertanyaan itu saja yang dibicarakan pak Danies padanya.


" Apa - apaan pak Danies, nyuruh keruangannya cuma nanya itu aja. Dia sehat kan? Tapi, apa memang aku dan dia dulu saling kenal. Tapi, kenapa gak ingat yaa? "


Aisya berjalan kembali ketempat kerjanya. Sambil beristiqfar, karena sempat mengumpati pimpinannya itu.


" Eh, Sya. Gimana - gimana tadi diruangan pak bos. Apa yang kalian bicarakan?" tanya Dara yang emang keponya gak ketulungan.


" Bukan masalah serius kok. Tadi pak Danies cuma bilang kalau kita pernah saling kenal. Tapi, aku gak inget sama sekali." jawab Aisya santai, mendudukkan diri dikursinya.


" Tuu, kan Sya. Kalian berarti emang berjodoh.!" sentak Dara semangat.


" Apaan sih, Dara. Jangan mulai deh!"


Tak ingin memperpanjang ocehan Dara, Aisya kembai membuka laptopnya. Merevisi beberapa bab yang diterjemahkan tadi. Sebuah buku bagus dari Jerman.


Namun, entah mengapa Aisya kembali teringat dengan pertanyaan Danies tadi. Hatinya merasa pernah mengenal laki - laki berlesung pipi itu. Tapi, selain senyuman itu Aisya benar - benar tak ingat lebih jelas akan sosok itu.


Ahh, mungkin pernah melihat dimensos atau dipapan baliho yang terpasang dijalan. Atau mirip selebriti.


Aisya memang tak terlalu banyak mengenal laki - laki dalam pergaulannya. Hanya teman kantor, kuliah dulu dan teman satu majelis yabg kadang dia ikuti.


Apalagi Aisya tak terlalu memperhatikan laki - laki yang kadang i ingin mendekatinya.


Terima kasih,


Sehat selalu semua.

__ADS_1


__ADS_2