Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
52. Persahabatan


__ADS_3

Imam membalikan dirinya, menatap seseorang yang mengagetkannya tadi. Meski dirinya telah menebak dan benar hafal suara itu. Tapi, Imam tak menyangka jika seorang wanita yang harusnya beristirahat dikamar rawatnya, malah menghampiri dirinya.


" Mengapa kamu kemari.?"


Imam sedikit berteriak, melihat sosok wanita bergamis toska senada dengan hijab syar'inya. Sementara wanita itu hanya tersenyum tipis, lantas berjalan mendekati laki - laki yang tengah galau itu.


" Dokter Imam simanis yang melankolis. Sebutan itu agaknya memang tepat diberikan Sabina padamu." Ujar wanita sarkas, sambil melirik sekilas wajah Imam yang gusar.


" Eeahh, benarkah itu sebutan Sabina untuk ku. " Imam terkekeh memdengar julukan untuk dirinya itu.


Sementara wanita yang kini duduk disampingnya dengan jarak satu meter itu mengulas senyum tipis, lantas mengangguk pelan.


" Dia memang mengenal diriku, jauh dari aku mengenal diriku sendiri. Sikapnya yang cuek itu tidak berlaku padaku, ternyata."


" Benar, awalnya aku meragukan segala hal yang diceritaksn Sabina tentang mu. Aku tidak percaya, seorang dokter Imam yang sekilas nampak begitu Koleris ternyata seorang yang Melankolis. Gampang baperan.!"


" Apa saja tentang diriku yang diceritakan Sabina padamu.? Pasti tak ada hal buruk yang diceritakan dia kan. "


" Ternyata anda, narsis juga yaa dokter Imam. Percaya diri sekali anda, Sabina menceritakan sifat baik anda padaku."


Imam dan wanita itu tersenyum, entah mengapa suasana hati Imam perlahan membaik dengan kehadirannya.


" Mengapa aku merasa senang dan nyaman berbicara padanya. Dia memang special seperti kata Sabina dulu."


" Banyak hal yang diceritakan Sabina, aku salut perjuangan dan penantian cintamu untuk dia. Ehmmt, dulu aku sempat iri padanya karena ada seorang laki - laki yang begitu mencintainya. Dan memang benar Cintamu begitu besar dan mendalam padanya." ucapnya memandang langit dan mengingat setiap hal yang diceritakan Sabina dulu.


" Dulu ingin rasanya aku dicintai seperti itu. Tapi, sekarang aku malah takut jika ada yang mencintai aku seperti itu."


Imam mengreyitkan kedua alisnya. Tak mengerti sanggahan yang dilontarkannya , setelah tadi memuji cintanya pada Sabina.


" Mengapa takut, bukankah wanita memang ingin selalu dicintai sedalam mungkin oleh laki - lakinya.?"


" Takut, karena cintanya membawa sengsara dialam lain."


" Maksud kamu.?"


" Kamu tidak sadar yaa, dokter Imam. Cinta kamu yang terlampau besar untuk Sabina itu membuatnya bersedih dialam sana. Cinta itu membuat hatimu buta akan Nikmat dan Cinta Allah pada setiap hambanya. Sabina pasti tidak menyukai hal itu."

__ADS_1


Melirik Imam sekilas yang seketika wajahnya berubah kaget.


" Bukankah segala hal yang kita miliki hanyalah titipan. Suatu saat pasti akan diambil dari pelukan kita dan kembali pada sang pencipta. Ikhlas satu hal yang sangat sulit dilakukan. Tapi, bukankah Allah telah menyiapkan kebahagiaan lain untuk kita, jika kita Ikhlas menerima cobaannya. Kamu tau, Sabina pasti sedih melihat orang yang dicintainya masih terpuruk seperti ini."


" Kalau kamu sadari, sejatinya kamu sudah melalaikan kewajiban seorang muslim. Iman kamu sudah mulai goyah, bisa saja nanti kamu melalaikan Allah. Astafirullahhalazim."


Deg


Kata - kata itu seolah sembilau yang langsung menusuk hati nuraninya. Memang kata - kata itu terkesan biasa saja.


Tapi, bagi Imam itu adalah sebuah silet yang sangat perih memyayat hatinya. Bak gelegar guntur yang memecahkan gendang telinga.


Dalam diam Imam mencerna perkataan itu. Tanpa dirasa air matanya telah memenuhi pelupuk matanya.


" Buat apa kamu memcintai Sabina, kalau cinta kamu hanya akan membawa kesengsaraan dan perseteruan diakhirat kelak.! Kamu ingin berseteru dengan Sabina nantinya. Ikhlaskan kepergian Sabina jika kamu memang mencintai dia karena Allah."


Imam masih setia dengan diamnya. Hatinya benar - benar remuk redam, menyadari keimananya mulai terkoyak.


" Astafirullah, Yaa Allah. Kamu benar, aku hampir melalaikan siapa diriku dihadapan Allah."


Setidaknya, mendengar penuturan Arini, membuat hatinya lebih tenang dan menghangat.


" Terima kasih yaa, Rin. Sudah mengingatkan dan menyadarkanku. Kamu memang sahabat yang baik untuk Sabina."


" Aku terlalu banyak bicara yaa?" ujar Arini diam beberapa saat tanpa dibalas angukan ataupun sahutan dari Imam. Dan kembali bersuara.


"Kalau mas butuh teman cerita, mas Imam bisa cerita pada mas Fa'i ataupun padaku. Bukan memendam seperti ini. Kalau pun tidak mau berbagi dengan kami, kan bisa berkeluh kesah pada Allah."


" Gak harus berteriak - teriak kaya tadi. Gak lucu juga kan kalau ada yang mengira, dokter Imam mengalami gangguan jiwa." sambung Arini lagi.


Imam terkekeh mendengar penuturan Arini. Malu itu yang dirasakan Imam saat ini.


" Dasar Bucin." sindir seseorang yang datang dan melangkahkan kakinya mendekati mereka.


" Ehhh, bukannya kamu juga Bucin." balas Imam yang berdiri lalu memeluk sahabatnya itu.


" Maaf, yaa Mam. Aku bukan sahabat yang baik, harusnya aku ada untuk kamu. Tapi, malah aku juga larut dalam penyesalanku sendiri. Padahal kamu yang lebih membutuhkan sokongan dari pada aku."

__ADS_1


" It' s okey, Fa. Kita memang sama - sama laki - laki bodoh dan hamba Allah yang hina."


Arini tersenyum puas melihat kedua sahabat itu. Meski tak bertengkar tapi beberapa bulan ini mereka saling menghindari.


" Suami macam apa kamu, istri baru juga melahirkan kamu biarkan kesini. Harusnya dia istirahat." Kata Imam melepas pelukannya lalu meninju pelan lengan Fa'i.


" Aku yang ingin menemuimu, tadi waktu mencarimu dipoloklinik katanya kamu sudah keluar." jawab Arini berdiri diantara kedua sahabat itu.


" Kamu, tahu Mam. Dia sama keras kepalanya seperti Sabina. Aku sudah melarangnya tapi kesungguhannya menyakinkanku." tambah Fa'i menarik Arini mendekat pada dirinya.


" Yaa, tapi gak perlu juga kan mesrah gitu. Sahabat macam apa kalian.?"


Fa'i tertawa dan malah mendekap Arini dalam pelukannya.


" Coba deh, mas Imam deketin mbak Diana atau perawat disini, siapa tahu cocok." goda Arini.


" Gak _ gak, Diana mantannya dia dan perawat disini tuu semua pada tergila - gila pada suami kamu ini, Rin." sanggahan Imam sambil nunjuk kearah Fa'i.


" Mereka semua Bucinnya dokter Rifa'i. Tapi, setidaknya kalau bisa kamu aja Rin sama aku." Imam sengaja menggoda Fa'i dan Arini. Menaik turunkan alisnya.


" Gak ada, berani macam - macam _ habis kamu Mam. " Jawab Fa'i memakan umpan Imam yang tau semua itu hanya gurauan saja.


" Halah, dulu gak mau. Sekarang aja rasain ngebucin juga kan kamu."


Mereka pun tertawa, saling melempar godaan. Dalam hati masing - masih telah bertekad akan saling mengingatkan dalam kebaiakan.


Persahabatan yang akan selalu saling menguatkan, selalu ada dalam keadaan apapun. persahabatan yang akan membawa perubahan positif dalam diri masing - masing.


" Terima kasih Sabina karena telah meninggalkan sahabat baik mu ini, untuk mengingatkan aku. Kamu benar dia sangat istimewa. Caramu menilai seseorang memang selalu tepat. Semoga kamu tenang disana Sayang. Aku belajar Ikhlas menerima semuanya." Batin Imam


Akhirnya badai telah berlalu, kesedihan dan keterpurukan masa lalu menjadikan mereka belajar untuk menghargai waktu yang telah diberiakan Allah.


Waktu yang begitu singkat, untuk saling mencintai dan dicintai.


Namun, tak melebihi cinta kepada sang pencipta.


Saling mengisi hari - hari dengan kebaikkan dijalan yang penuh berkah. Tak ada yang tahu esok akan seperti apa kehidupan membawa mereka.

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir dan membaca. jangan lupa like, comment dan vote yaa.


Selamat menunaikan Ibadah puasa semuanya. Semoga cahaya Ramadhan, membawa keberkahan untuk kita semua. Aamiin.


__ADS_2