
Malam itu Arini, Imam dan Aisya bersantai diruang keluarga rumah baru mereka. Setelah makam malam diluar tadi. Karena memang belum sempat berbelanja keperluan dapur dan lainnya.
Aisya terlihat sangat bahagia, karena sekarang sudah memiliki keluarga yang lengkap. Yang paling membuat hatinya bahagia adalah, Arinilah yang menjadi bundanya.
Malam semakin larut, Aisya sudah terlelap disofa itu. Setelah capek belajar menghafal surat pendek bersama bunda Arini dan papa Imam.
" Aisya dah bobok, yaa mas?" tanya Arini yang baru saja kembali dari kamar untuk mengganti baju karena terkena tumpahan kopi milik Imam tadi.
Imam menoleh pada Arini, sesaat Imam terpaku melihat Arini yang nampak sangat menggoda itu. Apalagi, Imam tak menyangka Arini mau memakai baju yang sengaja dia siapkan itu. Sebuah piyama warna merah maroon, berbahan satin lengan pendek dan panjang sebatas paha. Rambutnya panjang sepunggung yang dibiarkan terurai. Sungguh memanjakan mata seorang suami.
Yaa, Allah. Maka nikmat dari Mu yang bisa ku dustakan. Sungguh indah ciptaanMu dengan segala kesempurnaan. Alhamdulilah, kau berikan aku istri yang menyenangkan kala hamba memandangnya. Dan Mentaati segala hal yang hamba katakan. Jadikan kami keluarga yang Sakinah, Mawadah dan Warohmah. Keluarga yang selalu bersyukur atas segala nikmat yang Kau berikan. Aamiin.
Susah payah Imam menelan salivanya. Menahan geleyar asing yang membuncak dalam dirinya.
" Mas..!" panggil Arini membuyarkan lamunan Imam yang terpesona pada kecantikan dan keindahan istrinya.
" Haahh. I_ iya, udah bobok nii Aisyahnya." sahut Imam terbata.
" Yaa, sudah. Bawa Aisya kekamar.!" titah Arini sambil membereskan buku - buku yang berserakan diatas meja. Juga beberapa cangkir dan cemilan itu.
" Kekamar, jangan kamar kita donk sayang.!"
" Iss, mas. Jangan mulai deh!" gerutu Arini sambil melenggang kedapur membawa nampan berisi cangkir - cangkir itu.
Baru juga Imam akan mengangkat Aisya. Ehh, sigadis kecil itu malah terbangun.
" Bunda, Aisya mau bobok sama Bunda!" kata Aisya, dengan wajah yang tertekuk menahan rasa kantuknya.
Imam membulatkan matanya. Seketika wajahnya merengut kesal juga kecewa pada saat itu.
" Yaa, udah. Yuuk sayang, Bunda temenin bobok.!" kata Arini menghampiri Aisya yang sudah berdiri sambil memeluk boneka panda kesayangannya.
Arini tersenyum, saat melirik suaminya yang sangat kesal itu. Wajahnya masam karena kecewa. Mungkin dalam hatinya sudah mengumpat sejadi - jadinya.
" Astafirullah, berat sekali ujian kesabaran untuk hambaMu ini Yaa Allah.!" gerutu Imam pelan. Namun, Arini yang mendengarnya, ingin sekali tertawa.
Satu jam berlalu, Aisya sudah terlelap dikamarnya. Arini pun, keluar dari sana tepat pukul 10 malam. Berjalan menuju kamarnya, tapi sampai dikamar. Arini tak mendapati keberadaan suaminya disana.
" Mas, Imam kemana? Apa dia belum masuk kamar dari tadi dan masih dibawah.?" gumam Arini, lalu bergegas turun kebawah mencari suaminya.
__ADS_1
Begitu menuruni anak tangga, Arini melihat Imam tengah berbaring disofa. Lengannya menutupi matanya. Entah sudah tidur atau belum.
" Mas, " lirih Arini mendekati Imam. Tapi, tak ada jawaban. Menandakan dia telah terlelap kedalam alam mimpinya.
Arini tersenyum, melihat sebagian wajah manis suaminya itu. Lalu melangkah kedapur untuk mencuci cangkir yang sempat dia tinggalkan dimeja dapur tadi. Saat tengah sibuk mencuci cangkir diwastafel. Tiba - tiba,
Deg,
Jantung Arini serasa berhenti berdetak, dirinya sempat terkesiap saat sepasang tangan kokoh melingkari perutnya. Dan dagu seseorang bersandar di pundaknya.
" Sholat dulu yuuk, Rin!" ajak Imam lalu mengecup pipi kiri istrinya itu. Arini yang sesaat membeku, langsung mencuci tangannya.
***
Setelah melaksanakan sholat dua rokaat, sebelum melakukan ibadah suami istri. Memanjatkan doa untuk kebaikan pernikahan dijalan yang diridhoi Allah. Dan kelak diberi amanah agar terlahirlah generasi - generasi yang berjihat dijalan Allah, membela agama Allah.
" Kok, jadi gemetar gini yaa. Rin?" celetuk Imam saat duduk berhadapan ditepi tempat tidur. Sontak tawa Arini menyembur, bagaimana bisa suaminya yang dari kemarin - kemarin sangat bersemangat malah tiba - tiba jadi kaku gini.
" Mas, serius sayang!"
Arini mengrenyitkan dahinya sambil mendehem agar tak tertawa lagi.
" Tadinya semangat kok gemetar sih, mas.! Kemarin - kemarin gak gini kan?" tanya Arini memegang telapak tangan suaminya, dingin dan berkeringat.
" Mas, lucu tau gak?"
Imam mengaruk tengkuknya yang tidak gatal. Entah mengapa, hatinya mendadak gelisah kalau - kalau, malam ini akan sama seperti malam - malam sebelumnya.
" Yaa, udah. Tidur yuuk, aku juga udah mulai ngantuk nieh, mas!" kata Arini sambil merenggangkan tangannya keatas, karena terasa kaku dan capek seharian beberes kamarnya dan kamar Aisya.
" Eeeh, tunggu donk Rin! Masa mau gagal lagi?" sahut Imam melas. Arini terkekeh.
" Kan tadi bilangnya, mas takut kalau Aisya datang kaya biasanya. Yaa, ayuk tidur!"
" Yaa, udah. Serius ini!"
Arini tersenyum, menatap wajah sang suami. Mata sayu Imam seolah menyiratkan sebuah keinginan untuk memiliki Arini seutuhnya.
Perlahan Imam mendorong, Arini agar berbaring. Menindih diatas tubuh langsing Arini, tangan kiri Imam dijadikan tumpuhan agar memberi sedikit jarak. Ditatapnya wajah cantik sang istri. Wajah putih bersih dengan semburat merah dikedua pipinya.
__ADS_1
" I want you, Rin!" kata Imam sambil membelai lembut pipi kiri Arini dengan lembut.
Lalu tanpa menunggu jawaban dari Arini, Imam telah lebih dulu menundukkan wajahnya. Namun, tiba - tiba Arini menahan bibir Imam dengan tangan kirinya.
" Heeemt, apa Rin?"
Arini tersenyum, lalu menggeleng. Lalu Imam kembali menundukkan wajahnya. Dan lagi - lagi Arini menutup mulutnya.
" Apa, sayang?" tanya Imam menghela nafas frustasi. Karena saat dirinya mulai serius, Arini malah melakukan hal - hal yang aneh. Dan itu terulang sampai tiga kali.
" Allah, apa lagi sih, Arini istriku sayangku, kasihku, Cintaku, belahan jiwaku?" sahut Imam mulai kesal.
" Aisya, gimana.?" tanya Arini, yang sekarang malah dia yang takut Aisya bangun dan menyusul.
Huuuffftt...
" Sayang, ini sudah hampir jam sebelas malam. Jadi gak mungkin, Aisya bangun dan gangguin kita."
Arini mengangguk, dan mengerti. Aisya biasanya datang saat masih jam delapan atau sembilan malam. Kerena ini sudah hampir jam sebelas malam, maka tidak mungkin Aisya akan terbangun dari tidurnya.
Perlahan Imam kembali menundukan kepalanya. Dengan lembut mengikis jarak diantara keduanya. Imam menc**m Arini sangat dalam, dan semakin lama semakin dalam.
Menyalurkan seluruh hasrat yang telah tertunda sekian hari. Dengan nafas yang saling memburu dan bulir - bulir peluh membanjiri kulit. Mereka berdua menyatukan raga dan rasa cinta terdalam. Memadu kasih dalam balutan rindu yang menggebu.
Beribadah mesrah dalam lantunan melodi cinta yang indah, lembut penuh makna. Romantisme dan kehangatan ragawi yang merasakan kenikmatan surgawi. Yang halal bagimu adalah kenikmatan yang sesungguhnya.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan.
Dengan nafas yang masih memburu, Imam lantas terhuyung kesisi ranjang setelah menikmati saat penuh gairah yang membahagiakan itu.
Ditariknya selimut agak ketas meskipun dari awal sudah menutupi tubuh bagian bawah saat itu. Imam dan Arini memang melakukan dengan sopan dan seperti yang telah dianjurkan dalam Islam untuk menutupi dengan selimut. Karena jika kita saja malu pada manusia, maka kita harus lebih malu pada sang pencipta kita.
Sambil meringkuk kekiri, Arini mengatur nafasnya masih memburu. Imam memeluk Arini dari belakang, dibawah selimut yang lembut. Arini meraskan hangat kulit Imam yang menempel dipunggungnya. Jari - jari saling bertautan tak ingin terlepas.
Arini merasa takjub dengan segala perlakuan Imam padanya. Bukan bermaksud membandingkan. Tetapi, perlakuan Imam begitu lembut dan hangat, sedikit berbeda dari Fa'i dulu. Hingga tanpa dirasa Arini begitu terbuai dan sangat menikmatinya.
Entah siapa yang terlelep terlebih dahulu. Masih dalam keadaan polos dan berpelukan Arini dan Imam terlelap dalam mimpi indah mereka.
Terima kasih sudah mampir.
__ADS_1
Aduuh, mohon maaf yaa untuk yang belum berpasangan. Authornya saja harus tahan nafas ngetiknya. hhhhh Jadi malu sendiri saya nya.
Sehat selalu semua.