Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
49. Kelahiran sang buah hati.


__ADS_3

Dokter Fa'i masih sibuk rutinitasnya setiap hari. Dengan pakain OK warna hijau, dia


berjalan menuju ruang operasi. Langkah kaki pasti, menggema dilorong - lorong ruang operasi.


Fa'i mengedarkan pandangan, dilihatnya semua telah siap. Perawat laki - laki itu menganggukan kepala, sebagai tanda operasi segera dimulai.


" Bissmillahirohmanirohim.!" Ucap Fa'i berdoa sejenak sebelum melaksanakan tugasnya.


Tiit...Tiit...Tiit..


suara patient monitor, mengiringi konsentrasi tim dokter Fa'i membedah pasien penderita radang usus buntu.


Memang bukan operasi yang tergolong besar. Tapi, mengingat resiko yang ditimbulkan paska operasi bisa saja terjadi hal yang membahayakan nyawa pasien.


Setelah satu jam, akhirnya selesai juga. Setelah menjalankan ritual sehabis operasi, Fa'i meraih ponselnya itu.


" 15 panggilan dari Mbak Amira.!"


Seketika kegelisahan menyelimuti hati Fa'i. Berbagai pertanyaan memenuhi benaknya. Apalagi saat dirinya menekan nomor mbak Amira. Namun, tak mendapati pangilan itu akan diangkat oleh kakaknya itu.


" Fa'i.!" Panggil Imam yang berlari dari koridor arah ruang bersalin itu.


" Ada apa Mam? Mengapa kamu berlari seperti itu.?"


Sambil mengatur nafasnya yang terengah Imam berhenti tepat didepan Fa'i.


" Mending, sekarang kamu cepat keruang bersalin sekarang juga !"


" Arini akan segera melahirkan." sambung Imam.


" Ruang bersalin.?"


" Arini melahirkan,.?"


Deg


Seketika jantung Fa'i seolah berhenti berdetak. Pikirannya menerawang jauh entah kemana. Tubuhnya membeku sesaat kala mendengar sang istri akan melahirkan.


" Cepat Fa. Malah bengong, kamu tidak mau menemani istri kamu mela_."


Imam tak lagi melanjutkan perkataannya, karena yang diajak bicara sudah berlari meninggalkan dirinya. Imam tersenyum melihat Fa'i berlari sekencang mungkin.


" Arini, sabar sayang. Mas akan menemanimu berjuang melahirkan anak kita. Mas tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu."


Gumah Fa'i yang terus berlari menuju ruang bersalin. Dia tak memperdulikan sapaan dari siapapun yang dilewatinya.


Dalam pikirannya, hanya ada Arini dan buah cintanya.

__ADS_1


Sementara diruang bersalin, Arini telah ditangani dokter Rahma dan juga beberapa bidan.


" Yaa, Allah. Seperti inikah sakit yang dirasakan ibuku, ketika melahirkanku." gumah Arini sambil menahan rasa sakit yang kian menjadi.


" Sabar yaa, Rin. Kamu harus kuat sayang. Kamu harus bertahan demi Fa'i dan anak kalian." ucap mbak Amira yang menemaninya, terus menggenggam tangan Arini. Sambil sesekali mengusap peluh didahi Arini.


Arini mencoba setenang mungkin menghadapi persalinannya. Menarik nafas dalam - dalam untuk mengurangi rasa sakit akibat kontraksi dalam rahimnya.


" Dok, pembukaan sudah lengkap.!" ujar salah satu bidan yang memeriksa pembukaan jalan lahir bayi Arini.


Dokter Rahma yang telah siap pun, menghampiri Arini. Memberinya dorongan semangat juga aba - aba untuk Arini supaya mengejan guna mempercepat keluarnya bayi dari rahimnya.


Beberapa kali Arini dipandu untuk menarik nafas dalam lalu mengejan kuat. Mbak Amira seakan merasakan apa yang tengah dirasakan Arini. Sampai - sampai perutnya ikut terasa mulas.


" Iya bu Arini sekali lagi. Tarik nafas dalam dan mengejan yang lebih kuat lagi."


Arini menarik nafas sangat dalam sampai parunya terasa membengkak. Lalu berteriak mengejan dengan sangat kuat, mengeluarkan seluruh tenaganya.


" Ooek...ooek..." Akhirnya bayi Arini lahir dengan selamat. Bersamaan dengan suara pintu yang terbuka secara kasar oleh seseorang.


Fa'i muncul dengan nafas yang memburu akibat berlari tadi. Matanya menatap dalam pada Arini yang terkulai lemas diatas bankar.


Semua orang sedikit terkejut. Tapi setelahnya mereka kembali fokus pada tanggung jawab masing - masing.


" Sayang, maafkan mas yaa.!" Lirih Fa'i mendekati Arini yang masih mengatur nafas agar tenaganya sedikit pulih.


" Selamat yaa, mas. Sekarang kamu sudah menjadi seorang ayah." cicit Arini


Fa'i tak kuasa menahan air matanya. Sekejab Fa'i telah memeluk istrinya itu. Sambil membisikkan kata " Maaf dan terima kasih."


" Maaf, dokter Fa'i. Silahkan mengadzani putranya dulu." kata dokter Rahma sebelum melakukan IMD untuk bayi laki -laki itu.


Dengan tangan yang gemetar Fa'i menggendong buah hatinya itu. Rasa haru dan bahagia memenuhi seluruh ruang hatinya.


Ditatapnya wajah putranya sekian detik. Lalu mengumandangkan Adzan ditelinga kanan dan Iqomat ditelinga kiri sang buah hati tercinta.


Air mata Fa'i mengalir dipipinya, kala melihat Arini sedang melakukan Inisiasi Menyusui Dini. Itu sangat bermanfaat untuk ibu dan bayinya.


.............


Arini dan bayinya telah menempati ruang VVIP bangsal ibu dan anak, rumah sakit itu. Bayi tampan itu terlelap dalam pangkuan sang bunda. Setelah tadi Arini memberinya


ASI.


Sedang mbak Amira pamit pulang karena hari sudah malam. Kasihan Sarah ditinggal seharian.


" Mengapa tadi pagi kamu tidak memberitahu mas soal ini.?" tanya Fa'i duduk didepan Arini sambil membelai wajah sang putra tercinta.

__ADS_1


" Maaf, aku tidak ingin membuat mas khawatir. Sebenarnya aku sudah merasakan mulas sehabis sholat subuh. Tapi aku menahannya. Aku ingin melahirkan normal.!"


" Bagaimana jika terjadi sesuatu dan mas tidak ada disam _."


Kata - kata Fa'i terhenti karena Arini meletakkan jari telunjuknya di bibir suaminya itu. Lantas tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


" Jangan berbicara hal yang akan menyakiti hatimu.!"


" Aku sudah berjanji padamu. Aku akan bertahan dan aku sudah menepati itu. Jadi mas jangan berpikir macam - macam lagi." Sambung Arini bangkit dari duduknya untuk menidurkan putranya dibox bayi itu.


Sementara Fa'i hanya diam, memperhatikan Arini yang telah sedikit pulih meski masih lelah. Infus ditangan Arini telah dilepaskan. karena kondisinya yang stabil.


Arini tersenyum menatap suaminya yang memperhatikan setiap langkahnya itu.


" Udah donk mas. Senyum yaa.!" ucap Arini lembut dan kembali duduk diatas bankar meluruskan kakinya. Dibantu sang suami tentunya.


Fa'i pun tersenyum, mengusap sayang kepala Arini. Lantas mengecup keningnya.


" Sudah malam, tidurlah. Kamu harus banyak istrirahat." ucap Fa'i membelai pipi Arini dengan ibu jarinya. Arini tersenyum karenanya.


Saat Fa'i akan menjauh untuk menuju sofa bed. Secepat kilat Arini menarik kerah baju Fa'i, agar wajah suaminya kembali mendekat.


Fa'i sempat kaget, apalagi tindakan Arini selanjutnya benar - benar membuatnya terkesiap.


Arini mencium bibir Fa'i duluan. Padahal selama ini Arini tak pernah berinisiatif untuk menciumnya terlebih dahulu.


Setelah sekian detik, Fa'i pun membalasnya. Terlihat Arini dan Fa'i menikmatinya. Hingga cukup lama mereka melakukannya.


Fa'i menarik dirinya terlebih dahulu. Dirinya sadar harus mengontrol gejolak dalam dirinya.


" Aku mencintaimu mas."


" Mas juga mencintaimu sayang."


Arini lantas berbaring dan diselimuti oleh suaminya. Fa'i menarik kursi kedekat bankar, duduk disana sambil menggenggan tangan istrinya. Menunggu disampingnya hingga sang istri tertidur pulas.


" Semoga apa yang kulakukan bisa membuat kekesalan dan kekhawatiranmu hilang mas."


gumah Arini, memejamkan matanya. Namun belum tertelap.


Sementara Fa'i terus menatap wajah Arini. Meski lelah tapi terlihat tenang dan memancarkan aura kebahagiaan.


Sampai tanpa disadari, dirinya juga ikut terlelap disana. Dengan terus menggenggam tangan istrinya erat.


**Terima kasih sudah mampir dan membaca. Jangan lupa like, comment dan vote yaa.


Semoga sehat selalu semua**.

__ADS_1


__ADS_2