
" Pak Andi tahu dari mana saya disini.?" tanya Arini yang masih mendekap Aisya dipelukannya.
" Saya tadi menunggu kamu didepan sekolah. Karena kamu tidak juga keluar, makannya saya bertanya pada satpam disana." jawab Andi setelah berbasa - basi dengan Imam, lalu duduk dikursi dekat bankar yang ditempati Arini.
Arini mengerutkan alisnya, cukup bingung ada urusan apa sampai Andi menunggunya didepan sekolah.
" Apa saya ada janji dengan pak Andi, sampai menunggu saya disana.?"
" Oo, tidak. Ada yang ingin saya katakan sama kamu. Makanya saya menunggu disana.!" jawab Andi yang iba dan penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada Arini.
" Ehmmt, apa ada hal penting?"
" Lain kali saja saya mengatakan semuanya." kata Andi sambil melirik Imam yang duduk disofa dan sibuk dengan ponsel ditangannya.
" Ooyaa, bagaimana keadaan kamu? Apa yang sebenarnya terjadi.?" sambungnya.
" Alhamdulilah, Allah masih melindungi saya. Luka saya tidak terlalu parah kok pak.! Saya hanya mengalami kecelakaan kecil saat menolong anak murid saya.!"
Andi menganngguk tanda mengerti, ditatapnya Arini yang membelai rambut Aisya, sayang.
" Ehmmt, Rin. Titip Aisya bentar yaa. Saya harus pergi sebentar." kata Imam melangkah kearah mereka. Arini hanya tersenyum lalu mengangguk.
" Ndi, jagain Arini dan Aisya yaa. Bentar lagi mbak Amira juga datang.!" sambung Imam menepuk pundak Andi, pelan.
" Siip." jawab Andi senang karena tak ada lagi pengganggu lagi.
" Keluar sana, biar aku bisa bebas bicara pada Arini." batin Andi.
Imam pun keluar dari sana, sebenarnya dia tahu kalau Andi memang mengharapkan Imam untuk meninggalkan ruangan itu. Sadar, jika dirinya bukan siapa - siapa untuk Arini. Makanya Imam memilih keluar sebentar.
Tak bisa dipungkiri oleh Imam, Andi pun juga memiliki hak dan kesempatan untuk mendekati Arini. Arini bebas memilih pada siapa dia akan memantapkan hatinya.
Selagi Arini belum dikhitbah seorang laki - laki, masih banyak kesempatan dan peluang bagi siapa saja.
__ADS_1
" Ehhmt, Rin. Boleh saya berbicara serius sama kamu.?" tanya Andi setelah memastikan Imam telah keluar dan pergi menjauh.
" Ada apa yaa, Pak.?"
Andi pun mengeluarkan kotak bludru kecil yang telah dia siapkan tadi. Arini terbelalak, melihat Andi membuka kotak itu tepat didepan Arini.
Sebuah cincin berlian yang sangat cantik, terlihat berkilauan.
" Rin, mungkin ini terlalu cepat. Tapi, aku sudah mencintaimu sejak lama. Maukah kamu menikah dengan ku Arini.?"
Deg, jantung Arini serasa berhenti detik itu juga. Takdir macam apa yang sedang dijalaninya. Belum juga dia mempunyai jawaban dari lamaran Firman seminggu yang lalu. Kini giliran Andi yang melamarnya juga.
Seketika pikirannya berkelana entah kemana.? Dirinya bingung dengan situasi sekarang ini. Bahkan Arini mulai takut pada hal - hal yang terjadi dihidupnya kali ini.
Tak bisa dipungkiri, setiap perempuan pasti akan merasa tersanjung dan bahagia lantaran diperebutkan oleh laki - laki idaman para perempuan diluar sana.Tapi, tidak dengan Arini. Hatinya berubah gamang, seolah mati rasa.
" Rin, bagaimana apa kamu mau menikah denganku.?" tanya Andi. Membuyarkan lamunan Arini.
" Haahh. Ini terlalu cepat pak Andi. Tapi, maaf untuk saat ini saya belum bisa menerimanya. Saya masih belum siap untuk membangun rumah tangga kembali." jawab Arini, menunduk.
" Aku akan menunggumu Arini. Sampai kamu siap, aku akan menunggu saat itu tiba.!" kata Andi mantap, lalu menyerahkan cincin bersama kotaknya itu.
" Simpan ini. Jika saatnya kamu siap, berikan padaku dan akan ku pakaikan cincin itu dijari manismu.!"
" Tapi, pak.!"
" Aku mohon Rin. Pikirkan sekali lagi.!"
Arini menghela nafas. Lalu mengangguk pelan. Dengan terpaksa menerimanya. Tak enak rasanya menolak mentah - mentah tanpa berfikir terlebih dahulu.
***
Setelah satu jam lebih, Imam pergi. Akhirnya dia kembali dengan membawa kantung plastik berisikan makana untuk Arini dan Aisya.
__ADS_1
" Apa Andi sudah pulang.?" tanya Imam setelah mengucap salam saat masum dan mengedarkan pandangan mencari sosok Andi disana.
" Iya, lima belas menit yang lalu. Setelah menerima telepon dia pamit pergi.!" jawab Arini yang membelai rambut Aisya.
" Mbak Amira gak jadi datang.?"
" Gak tahu juga. Belum sempat menghubunginya lagi."
Arini kelihatan nampak pegal karena Aisya yang sudah terlalu lama tidur pulas dipangkuannya. Mungkin kakinya sudah kebas dan kesemutan
" Maaf, yaa Rin. Biar Aisya aku pindahin ke sofa bed. Kaki kamu pasti sudah kebas kan.?" kata Imam mendekat pada Arini, lalu perlahan mulai mengangkat kepala Aisya.
Tetapi, entah setan apa yang menggoda. Imam menatap Arini dengan jarak yang sangat dekat, begitu juga sebaliknya. Tatapan mata mereka bertubrukan sepersekian detik. Dari mata Imam terlihat jelas cinta yang tulus untuk Arini.
Tatapan hangat penuh cinta yang juga tak bisa dihindari oleh Arini. Tanpa disadari Arini pun hanyut dan tenggelam dalam tatapan kedua bola mata itu.
" Astaqfirullah, maafkan saya Arini.!" ucap Imam cepat. Lalu mengangkat Aisya untuk dipindahkan kesofa bed disana.
" Ahhh, bisa - bisanya aku menatap Arini seperti itu. Bagaimana kalau dia salah faham." rutuk Imam dalam hati.
Imam masih duduk disana, sambil menyelimuti Aisya dengan jaket yang sengaja dia ambil dari mobil tadi. Walau sebenarnya yang dilakukannya adalah menghilangkan kecanggungan yang terjadi. Juga mengendalikan detak jantungnya yang tak terkendali.
Sementara Arini merasakan ada rasa yang aneh dalam hatinya. Jantungnya pun berdetak lebih cepat dari yang seharusnya.
" Ada apa denganku, kenapa jadi deg - degan gini.?"
Arini menghirup nafas dalam, mencoba mengendalikan debaran jantungnya. Debaran yang sama persis yang dia rasakan untuk alm. suaminya.
" Mengapa debaran ini tidak aku rasakan saat Mas Firman dan Pak Andi saat melamarku. Harusnya aku merasakan itu, karena hal itu adalah salah satu hal istimewa yang dirasakan oleh semua wanita dewasa. Tapi, kenapa malah aku deg - degan gini, hanya gara - gara begitu dekat dan bertatapan dengan mas Imam.?"
Terima kasih sudah mampir dan membaca.
Semoga suka.
__ADS_1
Sehat selalu semua.