
Sejak kejadian malam itu, Arini masih enggan untuk bertamu dengan suaminya. Dia selalu menghindari suaminya itu.
Padahal Fa'i ingin sekali berbicara dengannya. Tapi, berkali - kali pula Arini menolak untuk bicara. Walau begitu Arini masih menyiapkan segala kebutuhan Fa'i. Karena telah menjadi tugas utamanya sekarang.
Sejak kejadian itu pula Fa'i tak pernah berbalas pesan dengan Diana. Pesan dari Diana selalu diabaikan, tak berniat untuk membaca apalagi membalasnya.
" Masih kusut aja tuu muka, masih bingung memilih Diana atau Arini." Tanya Imam waktu makan siang bareng di kantin rumah sakit.
" Bukan, aku sudah memilih Arini. Tapi, dia masih saja menghindariku dan menolak untuk berbicara padaku." Jawab Fa'i yang agaknya kurang berselera makan beberapa hari ini pikiranya benar - benar kacau.
" Mungkin dia masih butuh waktu. Tapi, Fa kalau emang kamu yakin memilih Arini, lebih baik kamu dekati dulu Sang pemilik hatinya, Dia yang maha membolak - balikan hati manusia. Karena aku perhatikan akhir - akhir ini kamu tidak sereligius dulu, waktu Diana pergi ninggalin kamu. Ehh, begitu dia balik kamu jadi kembali kezaman jahiliyah gini. Padahal harusnya kamu lebih ngerti soal itu, secara kamu berasal dari keluarga muslim yang taat. Tapi kenyataanya_ " papar Imam panjang lebar, karena memang dia mengenal siapa dan bagaimana seorang Fa'i.
" Sepertinya kamu pantas gantiin Abi jadi Ustad, Mam" celetuk Fa'i menggoda Imam
" Apaan sih Fa, Aku tuu serius kali."
__ADS_1
Sejatinya memang Imam lebih dewasa dalam bersikap dan bertindak daripada Fa'i.
" Itu artinya menurut kamu, Diana membawa pengaruh buruk gitu.?"
Imampun tak menjawab hanya mengedikan bahunya, karena ingin Fa'i mengambil kesimpulanya sendiri dan mencerna setiap ucapannya.
Setelah selesai santap siangnya, Fa''i dan Imam bergegas untuk sholat Dzuhur dimasjid rumah sakit yang tidak terlalu jauh. Fa'i pun diminta untuk menjadi Imam beberapa jamaah yang ada disana.
Karena berasal dari keluarga muslim yang taat, bacaan Al- fatihah dan surat pendek ketika sholat pun terdengar begitu indah terlantun.
" Yaa Allah , ampuni segala dosa dan kekhilafan hamba , hamba yang hanya datang padaMu ketika sedih. Hamba sering lalai atas segala nikmat yang Kau berikan.
Yaa Allah, engkalah Sang maha pemilik hati , maha membolak - balikan hati setiap manusia. Bukakan pintu hati istri hamba untuk memaafkan hambamu yang hina ini.
Jadikan pernikahan hamba dan istri hamba menjadi pernikahan yang membawa kebaikan untuk lebih mendekatkan kami kepadaMu yaa Rabb."
__ADS_1
Setelah bersimpuh menghadap sang pencipta. Berdoa memanjatkan segala puji bagi Allah dan mencurahkan segala kegundahan hatinya dengan becucuran air mata. Hatinya terasa lebih tentram, lebih tenang dan damai daripada sebelumnya.
Fa'i kembali membasuh wajahnya dan bergegas kembali keruang dokternya, untuk melaksanakan segala tugas kedokteranya. Karena masih ada beberapa pasien yang harus dilakukan tindakan operasi.
"Assalamulaikum, Sayang" sapa Imam yang menghubungi Sabina karena mereka mempunyai rencana untuk Fa'i dan Arini.
"Waalaikumsalam, yaa Sayang ada apa ?" tanya Sabina diseberang sana.
" Sekarang kamu temui Arini yaa, rencana selanjutnya kamu yang lakukan."
" Oke sayang, aku kesana sekarang yaa."
Sabina dan mbak Amira pun bergegas ke apartemen menemui Arini yang pasti sudah pulang dari sekolah.
Sabina dan Imam memang menceritakan masalah Arini dan Fa'i pada mbak Amira. Awalnya mbak Amira marah pada Fa'i. Tapi, Imam berhasil menyakinkannya kalau Fa'i sudah menyadari kesalahanya.
__ADS_1
Terima kasih, jangan lupa like, comment dan vote nya yaa...