
Sayup - sayup suara adzan berkumandang membangunkan Arini yang tidur dikamar Fa'i rumah mertuanya. Perlahan mulai mengerjamkan matanya yang bengkak karena terlalu lama menangis. Yaa, dari kemarin Arini terus saja menangis jika mengingat kata - kata suaminya kemarin.
Perlahan Arini beranjak dari ranjangnya untuk menyalakan lampu kamar itu. Namun, kepalanya terasa berputar -putar. Pandanganya berkunang melihat sekeliling kamar itu. Hingga tak menyadari ada orang lain yang masih pulas tidur disofa dikamar itu.
Meskipun kepalanya terasa sangat berat dan perutnya mulai merasakan mual, Arini berusaha untuk segera menghadap sang pencipta menjalankan perintahNya. Arini melakukan semuanya dengan sangat berhati - hati.
Dengan menahan rasa mual yang semakin menjadi. Akhirnya, Arini selesai melakukan sholat subuh 2 rokhaat, begitu salam Arini langsung berlari kekamar mandi tanpa melepas mukenanya.
Hoooeeek...... Hooeeekkkkk
Arini memuntahkan seluruh isi perutnya. Namun, sejak sore tak ada makanan apapun yang masuk dalam perutnya hanya air putih yang tadi diteguknya sebelum berwudhu tadi.
Sehingga yang keluar hanya cairan bening bercampur cairan lambung berwarna kekuningan yang begitu terasa pahit dimulut. Dari sudut matanya yang memerah telah lolos cairan bening yang membasahi pipi merahnya.
Tiba - tiba Arini merasakan sentuhan tangan memijat lembut tengkuk lehernya. Sentak Arini membasuh mulutnya lalu mendongak, Betapa terkejutnya Arini melihat bayangan didalam cermin depan wastafel itu adalah suaminya yang sengaja dihindarinya sejak kemarin. Sejenak pandangan mereka bertemu dalam pantulan cermin itu.
Hoooeeeek.... Hooeeeek...
Arini kembali menundukan kepalanya karena perutnya kembali bergejolak mendorong isi didalamnya untuk keluar. Fa'i pun masih disana memijat tengkuk leher istrinya itu.
Arini kembali membasuh mulutnya, lalu mengelapnya dengan tissue. Sejenak Arini mengatur nafasnya. Menahan segala gejolak kekecewaannya pada Fa'i. Lalu berbalik menghadap sang suami yang menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan dan rasa iba karena melihat Arini begitu terluka saat seharusnya dirinya merasa sangat bahagia sebagai seorang wanita dan istri.
" Rin,..." panggil Fa'i karena Arini langsung beranjak meninggalkan suaminya seolah tak peduli padanya.
" Arini, maafkan mas su_" kata Fa'i mendekati Arini yang melepas mukenanya itu.
" Sebentar lagi pagi, cepatlah sholat subuh." sahut Arini datar momotong perkataan suaminya lalu menepis tangan suaminya yang memegang lenganya.
" Yaa, mas sholat dulu." jawab Fa'i bergegas kekamar mandi mengambil wudhu. Keluar kamar mandi Fa'i tak mendapati Arini dikamar lagi. Namun, disana telah terbentang sajadah juga perlengkapan sholat lainnya untuk dirinya.
Fa'i mengulas senyuman, karena semarah apapun dan sekecewa Arini padanya. Arini masih menjadi istri yang baik dan pengertian.
__ADS_1
Kleekkk,
Suara pintu tepat, saat Fa'i selesai sholat subuh. Arini melangkah masuk dengan segelas air putih hangat ditangannya. Lalu diletakakan dinakas dekat tempat tidur.
" Rin, bagaimana keadaanmu ? Apa masih mual.?" Tanya Fa'i mendekati dan berdiri dibelakang Arini. lalu dijulurkan tangannya menyentuh perut Arini dan pengusapnya lembut.
Arini masih diam dan enggan untuk berbalik menghadap suaminya. Rasa sakit dan kecewa itu masih ada. Dipejamkan matanya untuk menahan air matanya yang memenuhi pelupuk matanya.
" Maafkan mas sayang, kata - kata mas pasti membuatmu sangat terluka. Mas yang memintamu percaya pada mas. Tapi, malah mas yang tidak peka, tidak memahamimu juga tidak percaya padamu. Dan mas sendiri yang menciptakan kesalah fahaman ini sampai mas gak sadar kata - kata mas terlalu menyakitkan. Maafkan mas Arini. " ucap Fa'i dengan mata yang mulai basah, memeluk Arini dari belakang.
Arini masih bergeming, wajahnya menunduk. meski air matanya tak tertahan lagi dan mengalir bebas membasahi pipinya.
Setetes airmata Arini jatuh mengenai lengan Fa'i yang masih memeluknya. Fa'i yang menyadari hal itu melepaskan pelukannya. Lalu memutar tubuh Arini supaya menghadap padanya.
" Jangan menangis sayang, kamu boleh maki dan pukul mas. Kamu boleh hukum mas apa saja. Tapi, mas mohon jangan menangis lagi. Yaa.. !" ujar Fa'i menghapus air mata Arini lalu membawanya dalam pelukannya.
Melihat Arini menangis seperti itu, membuat Fa'i tak kuasa menahan derai air matanya. Perasaan bersalah pada istrinya dan ketakukan akan bayangan Arini akan meninggalkan dirinya, membuatnya begitu rapuh.
" Mas, sangat mencintai kamu Rin. Kamu maukan memaafkan mas." lanjut Fa'i yang belum menyadari Arini Pingsan itu.
" Rin, sayang... !" panggil Fa'i yang mulai menyadari tubuh Arini melemas dan tak ada lagi isak tangis darinya lagi.
Begitu mengetahui Arini pingsan, Fa'i langsung membaringkan Arini diatas tempat tidur, lalu mencari minyak angin dan peralatan kedokterannya dulu yang masih dia simpan dialmari. Seperti stetoskop dan tensimeter.
Setelah pemeriksaan itu dan Fa'i memanggil - manggil namanya, tak lama kemudian Arini mulai sadar dan membuka matanya.
" Alhamdulillah, apa masih pusing." tanya Fa'i sambil membantu Arini duduk dan memberiak bantal dibelakang punggungnya supaya nyaman bersandar diheadboard ranjang tempat tidur.
Arini hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan suaminya itu.
" Diminum dulu Rin,...!" lanjut Fa'i memberikan segelas susu hangat. Fa'i tadi sempat meminta bik Siti untuk membuatkannya.
__ADS_1
" Maaf, aku sudah membuatmu repot mas." akhirnya Arini bersuara dan itu membuat Fa'i cukup lega setidaknya Arini tidak mendiamkannya lagi.
" Nggak repot, ini sudah tugas mas untuk menjaga dan merawat kamu." jawab Fa'i tersenyum sambil meraih jemari Arini.
" Apa kamu sudah memaafkan mas, sayang."
" Belum, mas terlalu jahat mengatakan aku tidak mempercayai mas dan semua tuduhan mas itu terlalu menyakitkan buat aku.."
" Apa yang harus mas lakukan supaya kamu memaafkan mas.?"
Arini hanya diam, sesunggunya hatinya tersentuh olah kesungguhan suaminya itu. Dirinya sadar semua ini hanyalah kesalah fahaman yang terjadi karena Fa'i yang tidak bisa menentukan sikapnya pada Diana. Dan sikap Arini yang akhir - akhir ini terlalu sensitif dan cemburu.
Entah mengapa menatap suaminya membuat Arini tak kuasa menahan air matanya lagi. Hingga akhirnya dia kembali terisak dalam pelukan suaminya.
" Sekarang yang punya hanya kamu.Tapi, kenapa kamu tidak mengerti kalau aku sangat takut kehilangan kamu mas. Aku takut masih ada cinta untuk Diana dihati kamu. Dulu aku memang pernah memintamu menikahi Diana. Tapi, itu sebelum aku benar - benar mencintai kamu mas. Sekarang aku tidak ingin kamu terlalu dekat denganya.!"
Arini memcurahkan seluruh isi hatinya, seluruh perasaan takutnya. Bayang - bayang akan sosok Diana yang selalu menghantui pikirannya.
Fa'i membiarkan istrinya mengungkapkan segala amarah dan kegundahan hatinya. Sambil membelai rambut panjang Arini, Fa'i mendengarkan apapun yang dikatakan sang istri.
" Tidak bolehkah aku bersikap egois mas. Untuk kali ini saja aku ingin bersikap serakah padamu, kali ini saja." Lanjut Arini semakin membenamkan wajahnya didada Fa'i.
" Iyaa, Sayang kamu berhak egois, kamu berhak serakah pada mas. Karena mas sah milikmu, sayang." ucap Fa'i merenggangkan pelukannya, lalu menghapus air mata Arini.
Matanya menatap lekat - lekat wajah istrinya itu. Tanganya merapikan rambut Arini yang cukup berantakan, menyelipkan rambut itu ditelinga kiri sang istri.
" Selamat yaa Rin, dan terima kasih kamu memberikan kebahagian pada mas. Semoga kamu dan calon anak kita, buah cinta kita selalu sehat dan dilindungi Allah. Aamiin." pelan Fa'i lalu mengecup kening Arini kemudian turun ke pipi dan turun lagi kebibir Arini dengan lembut bibir Fa'i mendarat dibibir istrinya.
Tindakan penuh cinta sebagai ungkapan rasa cintanya juga rasa bersalahnya. Begitu mendalam dan semakin dalam hingga membuat keduanya memejamkan mata mereka menikmati panggutan yang membuat perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
Tapi, tiap kali Fa'i mencium dirinya, membuat perasaan Arini bergejolak, desiran darah dan debaran jantungnya bekerja lebih cepat dari yang seharusnya.
__ADS_1
Arini mengaku kalah dengan segala ungkapan cinta melalui tindakan dari suaminya itu. Mengalahkan segala amarah dalam dirinya.