Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
58. Sampai jumpa untuk waktu yang lama


__ADS_3

Sampai jumpa untuk waktu yang lama, Sobat.


Imam tengah menunggu keberangkatanya malam itu. Berat rasanya meninggalkan tanah air tercinta. Meninggalkan orang tua, putri semata wayangnya, dan juga orang - orang terkasihnya.


Terlebih kepergiannya tanpa pamit pada sahabat dan saudara. Langkahnya begitu berat untuk masuk ketika panggilan kepada para penumpang itu diumumkan.


" Huuufffttt "


Menghela nafas pelan lalu basmalah, sekali lagi Imam menyakinkan dirinya ini adalah keputusan terbaik yang harus diambil. Kehilangan pasti, kekecewa dan kemarahan sahabatnya sudah menjadi hal muthlak yang akan dia dapatkan nantinya.


Imam tak ingin menoleh kebelakang, karena banyak akan kenangan yang harus dia lupakan. Setidaknya mencoba berdamai dengan masa lalu, akan membuat hidupnya selalu bersyukur akan nikmat Allah SWT.


Biarlah masa lalu menjadi pelajaran untuk masa yang akan akan datang. Lebih baik belajar dari kesalahan masa lalu, dibandingkan menghakimi dan terjebak didalamnya.


Setiap manusia pasti memiliki kesalahan dimasa lalu. Begitupun dengan Imam yang berbuat kesalahan karena mencintai istri sahabatnya.


Haaah, kalau sudah urusan hati. Siapa yang bisa menebak. Cinta tak diraih, kehancuran persahabatan yang didapat.


Dan akhirnya Imam telah pergi, menjalani takdir dan pilihan hatinya. Semoga tak butuh waktu lama untuk memulihkan hatinya.


" Dokter Imam resign, Dokter Imam Resign."


Pagi itu dirumah sakit mendadak heboh akan berita menggemparkan itu. Seisi rumah sakit dibaut kaget, pasalnya tak ada kabar apa - apa sebelumnya dari dokter tampan nomor dua setelah dokter Fa'i.


Sementara Fa'i yang baru tiba disana, masih tak tahu dengan kehebohan yang terjadi. Sampai Dara perawat yang menjadi asisten barunya bertanya soal pengunduran diri doktet Imam.


" Dok, sebenarnya apa yang terjadi, sampai dokter Imam resign.?"


" Dokter Imam resign,?" Fa'i kaget masih tak percaya. Lantas dia bergegas pergi keruang direktur untuk memastikan berita itu.


Keluar dari ruang direktur, Fa'i tertunduk lesu. Kecewa, marah, juga sedih campur aduk menjadi satu. Sakit rasanya sahabat yang sudah dianggap saudaranya sendiri, tega pergi tanpa sepatah kata pun padanya.


Bahkan direkturpun tak tahu kemana kiranya Imam pergi. Dan itu membuat Fa'i samakin marah pada Imam. Setega itukah dia pada sahabat yaa ini.

__ADS_1


Drrettttt....


Seketika getaran ponselnya membuyarkan lamunannya. Lalu diraihnya ponsel itu disaku celananya. Sebuah pesan dari Imam, muncul dilayar ponselnya setelah kunc layar terbuka.


Sampai jumpa untuk waktu yang lama, Fa. Aku tidak bermaksud untuk tidak pamit ataupun bercerita mengenai kepergianku. Maafkan sahabatmu ini, Fa! Aku bukan sahabat yang baik untukmu. Semoga kamu selalu bahagia bersama Arini dan baby AL. Sebagai sahabat Aku menyayangimu Fa'i.


Setelah Menbaca pesan itu, Fa'i bergegas untuke menelfon sahabatnya itu. Namun, percuma pesan itu dikirim Imam sesaat sebelum dirinya menaiki pesawat yang akan membawanya menyendiri beberapa waktu.


Seperti Imam juga mengganti semua perangkat gedgetnya. Hingga tak akan ada yang bisa menghubunginya kecuali orang tuanya.


Dengan raut wajah yang tak bersemangat, Fa'i melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah. Perasaannya benar - banar kacau, kekecewaannya pada sikap Imam. Seolah membuatnya kehilangan kejernihan otaknya untuk berfikir positif.


" Mas, ada apa?" Tanya Arini yang sejak suaminya datang telah menyadari sikap aneh suaminya.


Fa'i tak menjawab, malah berhambur memeluk sang istri erat. Dan seketika itu pula air matanya luruh dari dua bola matanya. Perlahan Arini mengusap lembut punggung suaminya, tak ingin bertanya terlebih dahulu. Berharap balasan pelukannya mampu menenangkan kegundahan suami tercintanya.


Dirinya tahu, sang suami menanggung sebuah beban berat dipundaknya. Sebuah rasa bersalah dan kecewa terlihat jelas dimata itu. Ini kali kedua Fa'i dalam keadaan sekacau ini, jika sebelumnya karena kepergian Sabina. Dan sekarang entahlah, Arini belum mengetahui itu.


" Diminum dulu, mas?" ucap Arini memberikan secangkir teh hangat kepada suaminya yang terlihat sedikit lebih tenang.


Arini pun terkejut, namun masih tak mengerti maksud ucapan suaminya. Pikirannya langsung tertuju pada Aisyah. Apakah Aisyah juga serta dibawa pergi?


" Maksud mas Fa'i?"


"Imam pergi entah kamana, dia resign dan rumahnya sudah kosong. Dia pergi tanpa mengatakan apapun. Bahkan semua kontak, Email dan semuannya tak bisa dihubungi."


Deg,


seketika air mata Arini luluh lantah membasahi wajahnya. Bukan - bukan karena Imam yang pergi, tapi Aisya. Gadis kecil yang telah dianggap putri kandungnya.


" Kenapa mas Imam tega pergi dan memisahkan aku dari Aisyah." Batin Arini yang menyadari kegelisahan hatinya sejak malam itu benar adanya.


Fa'i merengkuh Arini dalam pelukannya, menangis bersama tanpa ada yang saling menguatkan. Fa'i yang merasa kehilangan, bukan kehilangan lebih tepatnya kecewa pada sahabat baiknya itu. Dan Arini begitu terpukul karena Aisya, putri kecil Sabina alm sahabatnya.

__ADS_1


Saat kepergian Sabina dulu, Arini berjanji dalam hatinya akan mencurahkan kasih sayang seorang ibu pada Aisya. Tapi kini, entak kemana Imam membawanya pergi. Akankah suatu saat nanti bisa berjumpa lagi.?


Sejak tadi ternyata mbak Amira memperhatikan pasangan suami istri itu. Tangisan Arini pun seolah menarik, mbak Amira turut larut dalam tangisanya juga.


Mbak Amira pun, mengerti kekecewaan yang mereka alami. Sejujurnya dia juga bersedih dan kecewa dengan semua ini. Tapi, mengingat alasan Imam harus pergi. Mbak Amira cukup tenang dan mengerti posisi Imam sekarang. Berat memang.


" Sudahlah, kalian tak perlu terlalu sedih. Mereka akan kembali, ketika sudah waktunya." Tutur mbak Amira mendekati mereka.


" Mbak Amira mengetahui semuanya.?"


Mbak Amira pun mengangguk pelan, berjalan mendekati mereka. Namun, guratan rahang Fa'i terlihat mengeras menandakan dirinya berusaha menagan amarah dihatinya.


" Sejak kapan, kenapa mbak tidak memberitahu kami.?"


" Dua hari yang lalu, ibu Dewi menemui mbak. Menceritakan rencana kepergian Imam. Lalu mbak menemui Imam, menanyakan kebenaran itu."


" Lalu kemana mereka pergi dan apa alasannya.?" tanya Arini yang ingin mengetahui keberadaan Aisya. Mbak Amira menghembuskan nafas pelan.


" Imam tidak memberitahu mbak kemana dia pergi. Dia hanya membenarkan kepergiannya untuk sementara waktu. Dan untuk alasan, sudah jelas apalagi kalau hatinya masih berat untuk mengikhlaskan Sabina.!"


Bohong. Mbak Amira memang sengaja berbohong. Selain Imam melarang, mbak Amira juga tak mungkin memberitahu alasan yang sebenarnya.


" Lalu kenapa tidak pamit pada kami.?"


" Mungkin, dia tak ingin melihat kalian bersedih dan mencegahnya pergi. Sudahlah biarkan dia pergi sejenak. Mungkin Imam butuh waktu sendiri tanpa diganggu oleh orang - orang dari masa lalunya. Percaya pada Imam ini yang terbaik untuknya." ucap mbak Amira panjang lebar, meski tak semua benar tapi inilah yang terbaik. Berbohong demi kebaikan, tak apalah. Semoga Allah menenganpuni dosanya. Doa dalam hati mbK Amira sedari tadi.


" Dan untuk kebaikan kalian, Maaf mbak tidak bisa memberitahukan semua yang mbak tahu. Mbak tahu ini sulit. Tapi, percayalah tak ada niatan untuk menyembunyikan semuanya. Semoga kelak kalian mengerti.!"


Fa'i menghela nafas kasar. Meski kecewa dirinya akan berusaha percaya pada sahabatnya. Begitupun Arini meski berat, harus berpisah dengan Aisya tapi dalam hati berjanji akan selalu menyayangi, selalu mendoakan juga menanti kepulanganya kelak suatu saat nanti.


" Aisya, bunda akan selalu menyayangi kamu sayang. Cepatlah pulang. Bunda akan sangat merindukan kamu.!" Batin Arini sambil memandangi foto Aisya di layar ponselnya.


*Terima kasih, maaf yaa lama nunggunya. Siauthornya rada mager nii.

__ADS_1


Semoga suka. Sehat selalu untuk kalian semua*.


__ADS_2