
Aisya tak pernah menyangka kalau pagi ini keberuntungan tak berpihak padanya. Sudah terburu - buru berangkat ke kantot. Ehh, sekarang mobilnya tiba - tiba mogok dijalan. Kantor pun masih cukup jauh dari tempatnya sekarang.
" Astaqfirullah, ini pasti gara - gara aku kembali tidur setelah sholat subuh tadi. Makanya pagi ku sial gini. A]mpuni hambamu ini Yaa Allah." gumam Aisya yang panik melihat jam ditangannya.
Aisya keluar dari mobilnya, mencoba untuk menghubungi ayahnya. Tapi, tak kunjung diangkat. Bilal sang adik pun juga sama. Tak menjawab telefon darinya. Saat dalam kebingungan, tiba - tiba sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti didepan mobilnya yang terparkir disisi jalan.
Aisya yang awalnya tak memperdulikan. Langsung kaget saat seorang yang dia kenal keluar dari mobil itu.
" Assalamualaikum, kenapa mobilnya Sya?" tanya Danies yang menghampiri Aisya.
" Wa_ walaikum salam, pak. Gak tau kenapa pak. Tiba - tiba gak bisa jalan. Mogok mungkin." jawab Aisya terbata saking terkejutnya.
" Ehhmt, gimana kalau kamu bareng sama saya?" ajak Danies.
" Oo, gak usah pak. Nanti apa kata_?"
Belum sempat Aisya melanjutkan kata - kata. Danies sudah memanggil sopirnya yang berdiri didekat mobil mewah itu.
" Mang, tolong bawa mobil ini ke bengkel!" kata Danies menyuruh sopirnya.
" Sya, mana kunci mobil kamu.?"
Aisya mengerjabkan matanya beberapa kali, bingung harus bagaimana. Merasa tak ada jawaban, Danies buru - buru mendekati mobil milik Aisya.
Seutas senyum terbit dibibir merahnya. Melihat kunci mobil itu masih mengantung ditempatnya Lantas meraih tas milik Aisya yang masih didalam mobil itu.
" Ayo, nanti kamu terlambat. !" ajak Danies yang berjalan duluan sambil menenteng tas milik Aisya.
Aisya masih tercengang dengan tingkah bosnya itu. Aisya merasa sumua ini seperti mimpi saja.
" Buruan Sya.!" panggilnya sekali lagi.
Aisya yang tersadar pun, bergegas menghampiri Danies yang telah membukakan pintu untuknya. Mau tak mau Aisya terpaksa menumpang mobil milik atasannya itu.
Bisa heboh satu kantor kalau ada yang liat, nanti. Pasti mereka mikir aku dan pak Danies punya hubungan spesial. Apalagi kalau Dara tahu, tuu anak pasti bakalan heboh sendiri. Bakalan di interogasi habis - habisan.
Selama diperjalanan Aisya hanya diam, memikirkan tanggapan satu kantor nanti. Bisa jadi hot news seluruh antero kantor.
" Diam aja, takut kalau sampai kantor ada yang liat.?" tebak Danies yang tersenyum melirik Aisya yang nampak cemas itu.
" Haah, gak juga sih pak. Cuma_" Kata Aisya yang kata - kata dipotong oleh Danies.
" Udah gak usah dipikirkan! Gimana apa kamu sudah ingat kalau kita dulu saling kenal.?" tanya Danies yang membuat Aisya tercenung sesaat. Karena dia saja sudah melupakan pertanyaan itu.
__ADS_1
" Maaf, pak. Saya benar - benar tak ingat."
Danies tersenyum, melirik sekilas wajah Aisya yang nampak menggemaskan. Lalu kembali fokus pada kemudinya.
" Cobalah mengingatku!"
" Memang sepenting apa saya harus ingat sama bapak. Apa saya dulu pernah punya hutang sama bapak.?"
" Iya, hutang janji!" jawab Danies menyeringai.
Semantara Aisya kaget bukan kepalang. Hutang janji yang tak pernah dia ingat.
" 20 tahun yang lalu, saat kamu diculik."
Aisya terdiam, membeku mengingat - ingat saat itu. Lalu menoleh pada Danies yang menampa kan senyum diwajahnya.
" Astaqfirullah, jadi bapak!" sentak Aisya menutup mulutnya, yang sedikit mengingat saat itu.
" Iya, saya Dani. Sudah ingat sekarang?"
Aisya merasa kaget dan tak menyangka. Setelah sekian lama, bisa bertemu dengan teman masa kecilnya.
" Heeh, kok diam? Gak seneng yaa, bisa ketemu saya lagi?" tanya Danies menepikan mobilnya disisi kiri jalan.
" Ehh, kenapa berhenti disini pak?" tanya Aisya yang mulai panik.
Danies, melepas seat beltnya, menghadap pada Aisya yang merasa kikuk juga tak nyaman dalam kondisi yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Berduaan dimobil dengan laki - laki yang bukan mukrimnya.
" Saya ingin mengenal kamu lebih jauh, boleh?" tanya Danies.
" Huuh," celetuk Aisya denga mata yang membulat sempurna.
Aisya dibuat kaget bukan kepalang. Jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Benar - benar tak terbayangkan, kalau dirinya akan terjebak dalam keadaan yang membuatnya canggung seperti ini.
" Pak, ini sudah sangat terlambat. Bisa kita jalan lagi. Kalau tidak bisa, biar saya cari taksi.?" kata Aisya mengalihkan pembicaraan yang sangat susah untuk dicerna apalagi untuk dijawab.
Danies yang mengerti kekagetan dan kebingungan Aisya, akhirnya melajukan mobilnya kembali menuju kantor.
Astaqfirullah, apalagi ini yaa Allah. Kenapa pagi ini penuh dengan kejutan - kejutan yang membuat jantung ini terasa mau copot.
Aisya diam, menatap keluar kaca mobil. Namun, pikirannya entah kemana memikirkan semua yang terjadi saat ini. Apa benar keyakinan jodohnya akan segera datang, sudah dibuktikan Allah saat ini.
****
__ADS_1
Saat sampai didekat kantor, Aisya meminta Danies untuk menurunkan disebrang jalan. Tapi, Danies tak memperdulikan permintaan Aisya. Dia tetap melajukan mobilnya berhenti tepat dilobby kantor.
Dan seperti yang ditakutkan Aisya, saat turun dari mobil pak Danies. Semua mata tertuju pada mereka. Terlebih pada Aisya yang mendapat tatapan tak suka dari beberapa staf perempuan yang kelihatan naksir berat sama Pak Danies.
Buru - buru Aisya meninggalkan lobby kantor itu. Tak mengucapkan terima kasih ataupun berbasa - basi pada Danies.
Sementara Danies tersenyum, melihat tingkah Aisya yang sangat menggemaskan. Entah mengapa, hatinya merasa sangat penasaran pada sicantik Aisya.
Deg,
Aisya melonjak kaget saat ini dihadapannya sudah ada Dara yang bersidekap mengamatinya dari bilik meja kerjanya.
" Astaqfirullah, Dara!" sentakku pura - pura tak ada apa - apa.
" Aisya, selamat yaa beb. Akhirnya kamu ketemu juga sama jodoh kamu. Pak Danies lagi. Dari awal aku dah filing kalau kalian bakalan berjodoh.!" kata Dara dengan hebohnya.
" Dara, bisa pelanin dikit gak. Nanti semua orang bisa salah sangka.!" pelan Aisya sambil mengeratkan giginya. Sedikit kesal pada sahabatnya yang emang selalu heboh itu.
" Uups, maaf. Jadi benaran sama pak Danies.?"
Aisya mendengus kesal, lalu mendudukan diri dikursinya. Melihat ponselnya yang sedari tadi berkedip, penanda notifikasi pesan di aplikasi berwarna hijau itu.
" Astaqfirullah, benarkan bakalan jadi trending topik kayak gini. Orang tadi mobil aku mogok dijalan, kebetulan pak Danies lewat. Terus aku dikasih tumpangan. Masa heboh gini sih." Aisya meracau.
" Terus kalian ngobrolin apa aja tadi?" yang kali ini sudah memelankan suaranya.
" Gak banyak, pak Danies cuma cerita soal aku dan dia yang emang pernah saling kenal."
" Jadi dah ingat sama pak Danies.?"
Aisya mengangguk, tapi terlihat lesu.
" Kapan - kapan deh aku ceritain. Udah waktunya kerja.!"
Akhirnya Dara pun menyerah, karena memang sudah waktunya kerja. Dari pada nanti ditegur sama mbak Arum. Bisa malu kan.
" Kenapa tadi pak Danies bertanya ingin mengenalku lebih jauh. Apa maksudnya coba? Apa pak Danies adalah laki - laki yang akan menjadi jodohku.?" batin Aisya yang sejujurnya masih kepikiran soal itu.
Tidak menyangka kalau gini rasanya ditanya hal seperti itu oleh seorang laki - laki. Aisya pun tak tahu harus bahagia ataukah harus bagaimana menyikapinya. Semua terasa membingungkan. Apakah ini awal dari kisah cinta dalam hidupnya? pikir Aisya.
Terima kasih sudah mampir dan membaca.
Sehat selalu semua.
__ADS_1